Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Perdebatan kecil


__ADS_3

"Tuhkan gara-gara kamu No, lihat telponnya jadi dimatikan. Awas saja kalau kamu memperkeruh suasana antara aku dan anak-anak ku." Menatap tajam sambil mengisyaratkan tangannya di lehernya.


"Siapa juga yang mau memperkeruh keadaan, yang ada tuh kamu Tom. Bukannya dari awal pernikahan mereka kamu ragu pada Leon putraku ?" Sanggahan Seno tidak mau kalah dari sahabat sekaligus besannya tersebut.


"Aku tau, sebab putramu senang sekali membeli obat terlarang itu demi hasratnya, gimana aku mau percaya seratus persen coba." Atom memilih mengayun-ayunkan si kembar.


.


Mika sudah mempersiapkan diri dengan sedikit berdandan dan menggunakan parfum sedikit agar Leon tidak curiga dan menganggap dirinya ini masih dalam keadaan marah kesal padanya.


'Ish ... begini nih kalau gengsi di gedein, akunya jadi bingung mau bagaimana?' menepuk jidatnya pelan.


Tok tok tok.


Ketukan pintu terdengar dari dalam kamarnya, sudah bisa di pastikan jika yang mengetuk pintu yaitu Leon.


"Sebentar." Sedikit terburu-buru.


Ceklek.


Deg deg deg.


Jantung Leon berdegup kencang melihat pesona istrinya yang tiada tanding, Mika begitu sangat antusias menyambut dirinya bahkan ada polesan makeup tipis di wajahnya. Hanya ada satu kata untuk Mika Riana adalah cantik.


"Leon, ada apa ?" menatap Leon penuh tanya.


"Kamu cantik, bolehkah malam ini aku menginap istriku?" sambil memainkan kedua jari telunjuknya sendiri.


Tuk tuk tuk.


"Boleh, lagian kamu suamiku Leon. Apa boleh seorang istri menolak suaminya," berjalan membelakangi Leon.


Secara otomatis Leon berada di belakang Mika sambil menikmati indahnya setiap lekukan tubuhnya, jangan di tanya pikirannya sudah traveling kemana-mana termasuk di salah satu area di pangkal pahanya.


Plak.


Leon menampar pipinya sendiri, Mika menoleh saat mendengar tamparan yang cukup keras di telinganya.


"Ada apa Leon ? kenapa kamu menampar wajah mu sendiri." Mendekat dan memastikan tidak apa-apa, tapi cap lima jari sudah terlukis di pipi kanannya.


"Puft ... lucu sekali kamu, lagian buat apa sih menampar wajah sendiri. Kenapa gak dari dulu saat buat salah sering menampar wajah sendiri," ledek Mika memang ada benarnya.

__ADS_1


"Oh ... iya ya, seharusnya dari satu tahun yang lalu aku sering menampar. Kenapa tidak kepikiran dan baru malam ini kepikiran nya, di tambah lagi rekor kesalahan ku yang menggunung bukan."


Seolah-olah setuju dengan perkataan Mika yang jelas-jelas ia tidak suka. Kenapa diri ini selalu di pojokan dan di salahkan, dirinya tidak berbuat aneh-aneh hanya makan bersama saja.


'Tapi kebohongan dan sikap mu yang dingin di sertai cuek terhadap istrimu lah yang sudah membunuh kepercayaan seratus persen itu menjadi beberapa persen saja.'


"Raut wajah mu jadi suram Leon, jika tidak suka dengan perkataan ku yang barusan dan mengorek kisah mu itu aku minta maaf Leon. Waktu itu memang menyakiti sampai sekarang, hanya saja kamu tidak mengalaminya jadi kamu santai sedangkan aku akan mengingatnya sendiri betapa kamu membiarkan kami terutama hatiku sedih dengan sikapmu. Pulang saja Leon jangan pernah datang kemari, bukannya wanita itu masih bersikap baik terhadapmu." Mendorong tubuh Leon yang memeluknya barusan.


"Tidak, aku yang salah aku juga yang harus meluruskan kesalahpahaman di antara kita," Leon berbisik lirih.


"Dengan cara apa, aku gak bisa melupakan semuanya. Meski kejadian kamu di hotel itu Fifty-Fifty Leon Kharel." Mulai mendadak emosi, ia meronta di pelukan Leon.


"Aku sudah menjelaskan nya secara gamblang, apa itu kurang sayang?" mempertanyakan perjuangannya.


Leon merasa perjuangan nya sia-sia tidak di hargai sama sekali oleh Mika, tapi pantas jika Mika masih memendam amarah itu. Walaupun waktu telah berlalu tidak mungkin ia lupakan, hanya saja seiring berjalannya waktu akan terbiasa.


"Sudah cukup,tapi namanya waktu tidak mungkin dapat berputar kembali bukan. Untung saja aku gak terkena baby blues Leon, dan anak-anak tidak kenapa-kenapa juga. Apa kamu tau betapa terlukanya seorang istri yang terabaikan di saat hidupnya di antara hidup dan mati berjuang demi anak-anaknya? sementara orang yang di percaya berhianat?" menaikkan kedua alisnya.


Leon mati kutu, teringat saat dirinya begitu cueknya terhadap Mika dan anak-anak. Pantas saja jika Mika murka sampai sekarang dan sulit melupakan semuanya.


"Sayang, aku mohon jangan marah lagi. Aku memang salah dan aku mengakuinya, tapi aku mohon beri aku kesempatan lagi dan aku pastikan aku tidak akan mengulangi hal yang sama dan jika ada perjanjian apapun itu dengan klien bakalan aku tolak sayang!" seperti kucing kecil yang imut yang sedang memohon untuk diperhatikan.


Mika menggigit bibir bawahnya,imut tapi ...


Leon mengangguk dan ikut berbaring di samping Mika, pikirannya kalut tapi juga ingin.


"Yang boleh minta?" menoleh ke samping kiri.


"Minta apa!" memasang masker wajah.


"Itu." Menunjuk bibir Mika.


Mika mengerjabkan matanya berkali-kali lalu mengangguk.


Cup.


Kecupan singkat Leon di bibirnya membuat perasaan nya menghangat kembali. Rasanya selalu sama tak tergantikan, meski dalam keadaan marah pun tetap sama rasanya.


"Terimakasih sayang."


Segembira itu Leon mendapatkan kesempatan, Mika juga senang melihat Leon begitu manjanya malam ini.

__ADS_1


Setengah jam berlalu namun Mika tidak dapat memejamkan matanya, Leon sudah lebih dulu tidur pulas sambil memeluk perut rata milik Mika.


"Sayang kenapa belum tidur?" Leon menatap matanya.


"Gak bisa tidur!" jawabnya santai padahal ia merasakan kantuk yang sangat berat namun ternyata tidak dapat di pejamkan juga.


"Aku coba tidurkan mau?"


"Maksudnya ??!!" Mika tidak paham namun sepertinya tidak jauh-jauh dari ituan.


"Sini mendekat lah." Padahal sudah jelas dirinya berada di pelukannya kenapa di suruh lebih mendekat lagi sih.


"Sudah dekat Leon, yang ada aku kegerahan dan gak nyaman mau tidur," protesnya kesal.


Mika terlihat sangat menggemaskan saat ngambek begini, wajahnya imut dan baby face.


"Dekat dari mana coba." Membuka masker wajah Mika dan membuangnya ke sembarangan arah.


Puk.


"Ko dibuang?"


"Biar gampang sayang!" jawabnya dengan tangan yang sudah kemana-mana.


"Leon stop." Menghentikan gerakan lincah tangan Leon yang sukses membuka kancing bajunya.


"Nanggung sayang, aku rindu," memberikan kecupan hangat di dahi lalu semakin turun dan turun.


Sampailah ke leher jenjang Mika, geli yang ia rasakan.


"Tapi Leon, aku ... uh." Nafasnya sudah sama-sama berat akibat hasrat yang sudah sampai di ubun-ubun.


Tapi baru juga membuka celana pendek milik Mika matanya di buat terkejut dengan adanya sesuatu berwarna merah yang sudah banyak tersebut.


"Kamu datang bulan yang?"


Hanya anggukan kecil yang Mika perlihatkan.


"Maaf Leon!" cicitnya.


"Huh ..." Leon menghela nafas sambil menetralkan hasratnya namun tidak bisa miliknya tetap tegang.

__ADS_1


"Yang bantu aku."


"Bantu apa?" tangan Mika di tuntun untuk memberikan sensasi luar biasa di salah satu aset berharganya.


__ADS_2