
Mobil yang di naikin oleh Leon dan Seno kini melesak ke jalan raya yang cukup ramai orang berlalu lalang dengan kendaraan mereka masing-masing, suasana malam ini cukup mendung dan bisa di pastikan akan turun hujan.
'Kenapa perasaanku tidak enak dan tidak tenang, apa jangan-jangan Mika tadi di rumah ayah dan tau keberadaan ku sekarang. Aku rindu sekali dengan mu yang, kapan kita akan bertemu dan berkumpul kembali sayang?' bertanya dalam hati.
Mata Leon tidak pernah lepas dari arah jendela mobil ia terus menelusuri jalan-jalan itu tanpa satupun yang tidak terabsen dari matanya.
"Leon, papa perhatikan dari tadi kamu hanya menatap ke arah jalanan, apa yang sedang kamu lihat?"
Baru pertama kalinya Seno bertanya pada Leon pertanyaan yang biasanya ditanyakan oleh orang tuanya saat masih kecil dulu.
"Tidak ada!" jawabnya dingin.
'Duh ... sialan anak satu ini, tau begini aku memilih punya banyak anak. Sayang sekali istri tercintaku memilih pergi meninggalkan dunia yang indah ini, jadi ... karena kamu memilih pergi jangan salahkan aku jika anak yang kamu kandung dan kamu bangga-banggakan malah jadi boneka ku sayang Bianca."
(Note edisi lupa nama ibunya Leon🤦🤦 maaf sekali lagi🙏🙏).
"Beneran tidak ada, apa jangan-jangan kamu berusaha kabur dari papa?" menebak dengan tepat tapi sebelum ketahuan Leon harus pandai membual lebih dulu.
"Siapa yang bisa kabur dari cengkraman papa, apa papa tidak bisa melihat tangan dan kaki Leon dalam keadaan seperti ini pa!" jawab ketus Leon sambil memperlihatkan tangan dan kakinya yang masih di borgol dan di ikat.
Ikatan di kaki Leon cukup kuat sedangkan di tangan tidak agar tidak ketahuan beberapa hari ini Seno telah menyekap putranya sendiri di kediamannya sendiri sebagai tawanan agar mau menuruti kehendak dan ambisinya.
"Jangan mencoba kabur jika masih ingin melihat Mika dan kedua anak kembar mu." Seno membuka borgol dan ikatan tali di tangan Leon.
Leon menatap sinis dengan ikatan itu, menang dirinya tidak bisa melepasnya dengan mudah namun ia tetap berusaha memerankan perannya dengan sebaik mungkin. Orang yang begitu ambisius untuk mendapatkan keuntungan dengan melakukan berbagai macam hal tidak akan pernah bahagia dalam hidupnya, yang ada rasa marah dan emosi terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya.
"Siapa juga yang kabur, memang Leon bisa kabur. Oh ya pa, jika nanti terlihat cocok di jadikan pasangan bagaimana jika anak relasi bisnis Papa di jadikan ibu tiri Leon saja." Menyunggingkan senyum.
Plak.
__ADS_1
Leon hanya menyentuh ujung bibirnya yang mengeluarkan darah dan mengisapnya dengan tisu.
"Anak kurang ajar, sekali lagi papa dengar kamu kurang ajar begini terhadap papa. Ancaman papa tidak pernah main-main Leon, bahkan dengan menjentikkan jari saja papa bisa melumpuhkan lawan-lawan papa tidak peduli ia siapa," beranjak keluar dari mobil sebelum emosinya tidak terkontrol lagi.
Jaga image sangat penting di depan relasi bisnis yang sebentar lagi akan jadi besannya juga.
Leon mengibaskan tangannya.
"Terserah papa deh, lagian aku masih menghormati orang yang lebih tua dariku saja. Oh ya Leon tunggu permintaan maaf papa padaku ataupun Mika secara langsung." Sambil menggelengkan kepalanya.
.
Mika hatinya sudah lebih tenang lagi.
"Apakah tadi kamu benar-benar ke rumah Seno nak?" Atom memastikan putrinya tidak terkejut dan shock dengan apa yang ia lihat atau mungkin di usir secara tidak hormat seperti dirinya tadi pagi.
"Iya kesana ayah, tapi sepi di sana tidak ada siapa-siapa. Bahkan penjaga saja tidak ada!" jawabnya berbohong pada sang ayah.
"Benarkah, lalu kamu tidak kenapa-kenapa kan nak?" menatap seluruh tubuh Mika yang ternyata baik-baik saja.
Namun Atom sedikit curiga pada putrinya itu, apa benar tidak terjadi apa-apa. Lantas kenapa tadi ia memeluk tubuh ini dengan eratnya jika tidak ada apa-apa.
"Tidak apa-apa ayah, lihat tubuh putrimu sehat-sehat saja bukan. Lagian ayah tidak perlu hawatir pada Mika, bukannya ayah tau Mika wanita hebat yang mampu melalui rintangan-rintangan yang terjadi dalam hidup Mika !" semangat sekali.
Atom bernafas lega saat melihat dan memastikan putrinya tidak terjadi apa-apa.
Saat di dalam kamar pikiran Mika terbang ke Leon dengan pikiran yang tidak-tidak padanya, apa benar kecelakaan di rumah waktu itu ada kaitannya dengan Leon apa jangan-jangan Leon adalah orangnya yang telah menyebabkan kecelakaan di rumah waktu itu, lalu merasa sangat bersalah kabur seketika dan sebelum itu ia merusak cctv rumah.
"Ish ... pikiranku jadi kemana-mana pada Leon, masa sih Leon dalang di balik kejadian ini. Terus ... alasannya apa Leon berbuat demikian, aku rasa bukan Leon orangnya." Perasaan campur aduk tidak karu-karuan.
__ADS_1
"Apa jangan-jangan Papa Seno penyebabnya, bisa jadi tapi ...,"
Mika yang sedari tadi bergelut dengan pikirannya kini memilih tidur dan menyusul anak-anaknya yang sudah terlelap dari sebelum ia tinggal untuk melihat rumah mertuanya. Dalam mimpi Mika bertemu Leon yang tersenyum padanya namun raut wajahnya sedih.
Pagi pun menyapa di setiap sudut dan celah rumah Atom, hari ini Mika tidur sangat lelap sampai-sampai tak sadar pagi sudah menyapa tidurnya.
Tok tok tok.
"Mika ... Mika ... anak-anak kamu sudah menangis kencang, apa kamu tidak mendengarnya nak." Atom berusaha membangunkan Mika namun tetap saja hasilnya nihil.
"Bagaimana bisa anak-anaknya menangis begitu kencang namun mamanya tidak mendengar tangisnya," Atom mencari alat untuk mencongkel pintu kamar Mika.
Setelah bertemu dengan alat yang ia perlukan barulah Atom bisa mencongkel pintu tersebut.
Cklek.
"Terbuka juga akhirnya."
Atom mengedarkan pandangannya tepat di tempat tidur Mika, Mika masih terlelap dalam tidurnya.
"Mika." Memanggil putrinya lagi namun sepertinya Mika masih enggan untuk membuka matanya.
"Mika ... bangun nak, Mika ..." Mengecek pernafasannya apakah sang putri masih bernafas atau tidak.
"Alhamdulillah masih bernafas, aku pikir terjadi sesuatu hal yang tidak aku inginkan terjadi." Atom bernafas lega.
Usai mengecek keadaan Mika yang masih bernafas dan baik-baik saja ia menatap kedua cucu kembarnya lalu Atom meraih kedua tubuh mungil yang sedari tadi menangis untuk ia tenang kan terlebih dahulu sambil menunggu mamanya siuman.
"Cup ... cup ... cup ... nak." Atom menuju ke dapur untuk membuatkan susu formula pada kedua cucu kembarnya.
__ADS_1
Harinya sungguh repot dengan kehadiran mereka namun menyenangkan, sebab rumah terasa ramai dengan kehadiran mereka hanya saja Leon papanya tidak tau kini ada dimana.
"Apa perlu aku laporkan polisi atas kehilangan orang, tapi ..." Berpikir berpuluh-puluh kali sebelum memutuskan untuk melapor.