Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Bertemu di hotel


__ADS_3

💬 Saya tau dimana keberadaan istri anda tuan Leon


Pesan itu langsung di kirim ke nomor kerja Leon bukan nomor pribadi miliknya, sebab nomor pribadi miliknya hanya keluarganya saja yang tau Mika, papa Seno dan ayah Atom selain itu tidak ada yang tau.


Leon malas menanggapi ponsel itu, pasti banyak yang memiliki nomornya dan memberikan curahan isi hatinya untuk mengatasi masalah dan problem kehidupannya yang tidak kunjung selesai dab berakhir damai.


"Terkadang aku juga ingin menyerah dengan keadaanku sekarang di tambah lagi pekerjaanku yang semakin hari rumit sebab keadaan rumah tanggaku yang kurang baik-baik saja, tapi ... jika aku berhenti bukannya aku memupuskan harapan dan cita-cita Mika. Tidak boleh menyerah kedua anak-anak ku belum tumbuh dewasa dan semakin hari biaya kehidupan tidak murah tapi semakin bertambah seiring berjalannya waktu."


Leon bangkit menuju ke dapur untuk mengambil satu gelas air putih untuk membasahi tenggorokan nya.


Cegluk.


Dret Dret Dret.


Ponsel pribadinya berdering di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.


"Eh, ayah telpon. Ada apa ini?" Leon tercengang saat tau siapa yang menelponnya.


Tumben sekali, biasanya langsung datang ke rumah dan sekedar bicara basa basi dengan dirinya.


📞 Hallo, ayah


📞 Leon, bisakah kamu datang ke hotel Tinggi Asia?


Leon berpikir keras, untuk apa datang ke hotel mewah itu jam segini. Apa jangan-jangan ada sesuatu yang di bahas secara pribadi, bukannya di rumah sendiri juga sudah pribadi jika ingin berbicara penting?


Sesegera mungkin ia menepis pikiran yang tidak-tidak, beliau mertuanya dan dulu saat berjasa juga membantu merawat dirinya.


📞 Leon ... Leon ... apa kamu masih di situ nak?


Atom bingung kenapa Leon diam saja.


📞 Eh, iya yah. Jam berapa?


📞 Sekarang Leon, penting ini!


Jawaban Atom membuat Leon berpikir buruk bahkan pikiran yang tidak-tidak hinggap di otaknya. Sesegera mungkin ia menghapus pikiran negatif mertuanya, Leon saja akan melakukan hal yang sama jika putrinya di lukai oleh laki-laki lain. Jadi ... sebagai laki-laki tulang punggung keluarga ya harus memberikan kepastian yang jelas terhadap keluarganya, imamnya belok jangan salahkan makmumnya juga belok kan makmum ikut imam. Tapi tidak semua harus di ikutin jika itu buruk untuk kedepannya.


📞 Baiklah ayah, Leon akan siap-siap kesana sekarang juga

__ADS_1


📞 Ayah tunggu ya, soal meja dan ruangan ayah akan kirim ke kamu


📞 Baik ayah


Sambungan telepon itu berhenti saat Atom sudah memutuskan sambungan telponnya. Ada perasaan was-was dan cemas, bagaimana jika nanti hal yang tidak di inginkan terjadi misalnya ia diminta berpisah dengan Mika sahabat cinta sejatinya.


Mika di dandani secantik mungkin oleh MUA profesional di kota tersebut, di pastikan tampilannya malam ini akan cantik tak tertandingi oleh siapapun bahkan wanita yang bernama Ayunda tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan pesona yang dimiliki Mika secara alami.


"Apakah sudah selesai?" Mika menatap dirinya dari pantulan kaca besar yang ada di hadapannya.


"Sudah nona Mika!" jawab MUA tersebut sambil tersenyum dan memperlihat tampilnya yang enak sekali di lihat.


Wajah Mika sangat segar dan cantik, dengan rambut yang di gerai panjang dan lurus menambah kesan wajah dewasa untuk Mika yang super cute.


Mika menyentuh wajahnya, sedikit tidak percaya dengan apa yang sedang ia lihat di pantulan kaca.


"Kak, ko jadi gini. Saya terlihat tua jika pakai full make up." Oceh nya pada sang MUA.


MUA tersebut bingung dan di buat panik oleh komplain oleh customer nya, kalau sudah begini apa boleh buat meski tangannya bisa melukis di wajah cantik ini tapi jika pemiliknya tidak mau bagaimana lagi, apa boleh buat.


"Em ..., coba saya perbaiki lagi ya nona Mika," ia mengeluarkan beberapa bedak, eyeshadow dan lipstik.


...HOTEL TINGGI ASIA...


Banyak pasang mata yang menatap Mika dari ujung rambut sampai ujung kakinya. Suara sepatu heels yang ia kenakan sekarang memenuhi lobby hotel, ia di sambut dengan baik oleh karyawan dan karyawati hotel tinggi Asia, ramah-tamah dan sopan sekali pelayanannya. Mika suka dengan pelayanan di tempat ini, meski ada beberapa pasang mata yang kurang tulus melayani tamunya mungkin karena capek atau sedang tidak enak badan.


"Mari saya antar nona." Pelayan itu sudah tau jika ada tamu penting, walau bagaimanapun tamunya adalah seorang pengacara dan juga menantu satu-satunya milik keluarga Kharel.


"Terimakasih banyak ya," senyum Mika terus mengembang di kedua sudut bibirnya.


Leon sudah bersiap-siap namun ia malas mencari pakaian yang formal, pandangannya jatuh ke baju kemeja hitam yang pas di padukan dengan celananya.


"Gini saja sudah tampan, gak perlu pakai yang neko-neko." Leon mengenakan krim rambut agar rambutnya terlihat lebih rapi.


Mobil yang ia kenakan mobil biasa yang ia gunakan dulu dengan Mika, pikirnya hanya bertemu mertua saja di hotel. Pasti ada acara kecil-kecilan.


Ia menunggu ayah dan mertuanya datang, namun tidak kunjung datang di tambah lagi anak-anak pasti sudah haus dan minta untuk di tidurkan, mengingat jam menunjukkan pukul 19.21 menit waktu setempat.


"Pasti mereka sudah menangis, apa perlu aku pulang saja. Lagi pula aku sudah menunggu dari pukul setengah tujuh tadi, dan hampir satu jam sudah berlalu." Bergegas namun suara pintu di dorong membuat Mika menatap ke sumber suara tersebut.

__ADS_1


Deg



Mereka sama-sama merasakan keterkejutannya, tidak percaya dengan apa yang di lihat. Baru satu bulan berpisah namun di pertemukan kembali dengan keadaan begini, reaksi apa yang harus di katakan.


"Mika."


Sedikit ada kecanggungan dari raut wajah Mika, perempuan ini tidak berdrama bahkan berseries seperti kisah-kisah yang pernah ia baca.


"Leon," diam di tempat tanpa bisa bergerak.


Leon semakin mendekat dan Mika tidak bisa berbuat banyak, jika bertemu maka ayo jalankan jika belum bisa ya sudah di biarkan berjalan seiring waktu bersama.


"Please ... jangan pergi, jangan tinggalin aku lagi sayang. Aku mohon." Leon seperti pengemis saja yang meminta belas kasihan.


"Leon, kenapa kamu yang datang,"


"Lantas? jika bukan aku yang datang kamu berharap siapa yang datang?" pertandingan Leon menghunus sampai ke jantungnya.


Mika melangkah mundur agar Leon tidak semakin mendekat.


"Stop Leon, jangan mendekat!" panik sambil menatap ke belakang takut terjatuh.


Bukannya berhenti justru Leon semakin mendekatinya dan mengikis jarak di antara keduanya tanpa celah.


BRAG


Leon mengunci pergerakan Mika saat Mika sudah terpojok sampai ke dinding ruangan pribadi tersebut.


"Aku merindukanmu Mika Riana." Nadanya terdengar sangat romantis di telinga Mika.


Ia juga rindu Leon, bahkan dadanya terasa sesak dan tidak mau menopang rasa rindu yang teramat dalam padanya.


"Aku--,"


Cup


Leon tanpa basa basi mengecup bibir Mika sekilas dan memastikan istrinya tidak menolak apalagi sampai kabur.

__ADS_1


__ADS_2