
Mika masih berpikir sambil menatap satu persatu barang-barang tersebut sebelum ia meletakkannya di tempatnya masing-masing. Hari yang cukup melelahkan untuk Mika, baru saja hendak beristirahat namun suara deringan di ponselnya mengejutkannya, siapa lagi jika bukan Nathan adik angkat.
📞 Ada apa?
Mika bertanya pada Nathan dengan ketus.
📞Eh, kenapa kakak ngegas sekali sih. Apa ada yang salah.
Nathan bingung saat mendapati Mika menjawab telponnya dengan sangat ketus.
📞 Sudah dulu ya Nathan, kakak mau istirahat dulu oke. Bukankah kamu juga tau jika kakak baru saja di ajak ibu pergi jalan-jalan ?
Penjelasan Mika memang benar, ia tau betul hari ini jika Mika di ajak jalan-jalan oleh ibunya padahal dirinya ini saja jarang sekali bahkan hampir tidak pernah, dalam satu bulan saja satu kali sudah sangat beruntung.
📞 Iya ... iya deh kak, Nathan paham ko'. Jangan lupa kak makan malam, kalau enggak nanti ibu ngomel-ngomel di rumah.
Nathan hanya mampu mengingatkan dari jauh dan menjaganya dari jauh, entah ada apa yang jelas ia hawatir pada Mika. Hawatir akan terjadi hal-hal di luar kendalinya, hawatir rasa tidak aman terhadap wanita yang ia kagumi semenjak ia menolong Mika dari kecelakaan maut itu.
Di tempat lain.
Seno di buat kesal dengan ulah putranya yang berani-beraninya tidak menerima satu panggilan apapun darinya. Tapi bukan Seno namanya jika ia menyerah begitu saja, ia memikirkan beberapa strategi untuk melumpuhkan putranya.
"Sudah dua tahun berlalu masih saja sama, kolot pikirannya. Buat apa mengenang wanita yang terlahir dari wanita murah dan obral sana sini, cih ... menjijikkan." Umpat Seno yang tiada henti jika mengingat Mika menantunya itu.
Seorang wanita seksi baru saja masuk ke dalam ruangannya, ia adalah sekretaris barunya baru 2 Minggu menjabat sebagai sekretaris pribadinya.
"Pak, ini ada beberapa dokumen yang harus bapak tanda tangani." Ucap wanita itu dengan nada suara manja.
.
__ADS_1
Pagi hari yang cerah ini adalah hari pertama Mika berkerja di anak cabang PT Kharel yang langsung di pimpin oleh putra tunggal dan putra satu-satunya keluarga Kharel yaitu Leon Kharel.
"Eh, tau nggak kalian. Bos kita kali ini sangat tampan, bahkan apa yang aku lihat tadi pagi di Instagram milik pak Leon ia upload foto kedua buah hatinya, ya ampun ... cantik dan tampan loh anak-anaknya." Ucap salah satu pegawai yang juga sama-sama sebagai tukang bersih-bersih.
Degh.
Mendadak hati Mika merasakan perih teramat perih mendengar bahwa bos nya sudah memiliki buah hati. Pasti istrinya sangat luar biasa, ia merogoh ponselnya tapi ia urungkan untuk mencari tau tentang masalah privasi bos barunya.
Bahu Mika di senggol salah seorang rekan kerjanya.
"Eh Xia, kamu jadi wanita jangan berharap lebih ya. Pak Leon itu hanya bisa di kagumi gak mungkin di milik oleh orang-orang rendahan, termasuk kamu." Sambil menunjuk-nunjuk wajah cantik Mika.
"???" Mika tersenyum miring dengan gelengan kepala sebelum ia mengatakan apa-apa pada rekannya yang sama-sama berkerja di bagian kebersihan. "Saya tidak pernah berharap apalagi bermimpi di siang hari yang begitu cerah ini, lagian saya sendiri sadar diri ko'. Apa kalian juga tidak bisa sadar diri dengan posisi masing-masing seperti apa?" beranjak pergi.
Meski baru saja membuat rekannya emosi sambil menghentakkan kakinya sebab marah, Mika memilih acuh tak acuh.
"Sial, awas saja jika kamu berani menganggu apalagi menggoda bos muda Leon." Sambil menunjukkan ekspresi tidak suka.
Pekerjaan paginya kali ini sangat menguras tenaga bahkan untuk sekedar minum air putih saja ia sampai tidak sempat.
"Ruangan ini besar sekali, aku harus segera membersihkannya kalau tidak pasti akan terjadi sesuatu yang di luar kendali. Apalagi ruangan ini sangat bagus pasti milik pak bos Leon."
Mika mengambil beberapa barang yang perlu di bersihkan lalu mengembangkannya kembali pada tempatnya setelah merasa cukup untuk di bersihkan.
Leon masuk ke dalam mobil dengan penuh wibawa namun karena ia masih baru di kota S ia tidak membawa serta kedua anak-anaknya, sopir pribadi yang membawanya ke kantor cabang melesat menembus jalanan yang sama padatnya dengan kota kelahirannya.
"Siapkan jadwal pertama saya dengan baik hari ini, jangan lupa siapkan beberapa dokumen penting untuk saya." Ucap Leon dingin kepada sekretaris barunya.
Sekretaris itu mengangguk penuh semangat, meski tuan mudanya dingin dan cuek tetap saja hatinya berdebar-debar dengan pesona duda 2 anak itu.
__ADS_1
"Baik tuan muda, akan saya siapkan sekarang," hendak masuk ke dalam mobil yang sama dengan Leon namun ia lebih dulu mendapatkan tatapan mengerikan dari sang pemiliknya.
Dengan sadar diri ia tidak jadi masuk ke dalam mobil dan memilih menggunakan kendaraan pribadinya sendiri untuk pergi ke kantor cabang milik keluarga Kharel.
Mika mengusap peluh yang sedari tadi membasahi dahinya.
"Huft ... capek banget, apa sebelumnya aku tidak pernah melakukan pekerjaan berat?" ia sedikit menyesal sudah keluar dari rumah Arcelio dengan dalih ingin mandiri, jika mandiri melelahkan seperti sekarang yang sedang ia alami lebih baik duduk diam di rumah Arcelio tanpa berbuat macam-macam.
Suara notifikasi ponselnya terus berbunyi.
Mika paling malas melihat apalagi mengecek notifikasi yang jelas-jelas tidak ingin ia terima sedikitpun, ia berusaha menghargai agar ibu angkatnya tidak merasa tersinggung.
"Ibu Amanda lagi." Menghela nafas setelah tau ada 2 notifikasi m-banking yang berisi uang puluhan juta.
Sesampainya di depan kantor barunya Leon dengan gagah keluar dari mobilnya dan menjadi pusat perhatian oleh semua karyawan dan karyawati yang berkerja di anak cabang perusahaan Kharel.
"Lihat tuh, bos muda kita. Wah ... tampan sekali pantas saja jadi bos." Ucap salah seorang karyawan di bagian definisi penjualan produk.
Leon hanya menyapa dengan baik karyawan baru dan beberapa yang sudah lama namun di pindahkan ke anak cabang.
Mika yang baru selesai melakukan pekerjaan nya kini memilih langsung menuju ke ruangan belakang untuk sekedar mengambil air minum yang tadi belum sempat ia minum.
"Untung masih ada minumannya, aku pikir sudah di minum oleh orang lain." Ia membuka segel air minum botolan.
Beberapa tegukan berhasil masuk dan menguasai tenggorokannya yang sedari tadi minta di isi dengan air putih.
Beberapa teman-teman yang berkerja sebagai cleaning servis seperti dirinya tengah di mabuk asmara, mereka terus memuji-muji sosok Leon yang memporak-porandakan hatinya.
'Ada apa dengan orang-orang ini,' memilih melanjutkan pekerjaannya lagi.
__ADS_1
Ia menatap halaman dan menyapu beberapa helai daun yang berserakan padahal tadi sudah di bersihkan dengan bersih, tapi ... yang namanya daun tidak bisa di prediksi pukul berapa jatuhnya.