
Keesokan harinya.
"Aku hantar kamu ke toko ya atau ke gudang?" masih fokus menyetir kendaraan.
"Toko aja, aku mau lihat keadaan disana selama aku tinggal satu bulanan ini!" jawabnya sedikit tidak rela jika Leon tidak menemaninya ke toko atau gudang.
"Baiklah, oh ya anak-anak bagaimana." Menatap kedua buah hatinya secara bergantian.
"Aku bawa gak apa-apa, lagi pula di toko kan ada ruangan khusus milikku Leon sayang," tersenyum.
Leon mengangguk.
Tak selang beberapa lama sampailah di tempat tujuan, sebenarnya jarak toko dan gudang tidak jauh dari lokasi.
"Tapi sayang ..., yakin?" tanyanya seolah ragu terhadap Mika.
"Percaya sama aku, bukannya aku udah terbiasa sendiri merawat anak-anak dan menanganinya sendiri!" tetap tersenyum meski hati perih.
Ada hal apa yang membuat papa mertuanya ingin berbicara empat mata dengan Leon, baru kali ini Mika merasakan seperti di asing kan secara perlahan-lahan.
"Baiklah sayang, tetap jaga kesehatan oke." Meraih kepala Mika dan mengecup ubun-ubun Mika sebelum mengecup kedua anaknya.
Di kediaman Kharel.
Seno menanti putranya datang dan sesuai dengan rencanannya yang sebelumnya.
"Papa gak mau kamu terluka lagi Leon."
Dalam hal apapun para orang tua tidak mau anak tunggalnya terluka padahal jika di kalkulasi yang salah dan beruang tebal tetap benar, sebab uang pengendali segala-galanya termasuk harga diri.
"Pagi pa." Menyambut papanya begitu juga dengan Seno.
"Pagi juga son, gimana kabarmu Leon?"
Leon mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Tiap hari ketemu dengan papa, kenapa masih menanyakan perihal kabar sih pa. Papa aneh deh dari semalam!" masih sempat-sempatnya bercanda dengan Seno.
"Papa hanya hawatir jika kamu terus-terusan di sakiti Leon. Papa gak mau anak papa satu-satunya jadi pengemis cinta sampai buta, boleh sih Leon suka dengan orang tapi lihat dulu bibit bebet dan bobotnya."
Leon masih belum paham apa maksud dan tujuan Seno papanya berbicara demikian.
'Kenapa tiba-tiba papa berbicara begini sih, ada apa sih sebenarnya ngelarang aku jadi pengemis cinta sampai buta di tambah lagi harus lihat bibit bebet dan bobotnya segala.'
"Leon gak merasa di sakiti pa, justru Leon yang menyakiti Mika lebih dulu. Tumben papa berbicara begini, aku kira tadi malam ada apa papa mengajak Leon ketemuan tanpa Mika," Leon sedikit sadar dan ada yang tidak beres dengan perkataan papanya.
Seno mendadak berdiri dengan raut wajah yang penuh emosi.
"POKOKNYA PAPA GAK MAU TAU YA LEON, DIA PILIHAN KAMU SENDIRI DAN PAPA MAU KAMU MENCERAIKAN DIA. PAPA GAK SUKA DAN GAK MAU PUNYA MENANTU YANG TIDAK BERBIBIT, BERBOBOT DAN DI TAMBAH LAGI IDENTITAS IBUNYA YANG KOTOR. PAPA MALU." Puncak emosi Seno yang bertahan selama bertahun-tahun kini terungkap sudah.
Deg.
Leon terkejut bukan main, papa yang selama ini selalu membela dan menjunjung tinggi nilai-nilai dan menganggap Mika wanita yang sempurna sebagai anak menantunya kini berbalik arah 180 Drajat.
"Stop pa, Mika tidak salah di dalam hal ini. Kenapa papa bisa berpikiran sempit begitu, aku tau pa di dunia ini berbagai macam sifat dan karakter manusia ada dan beragam. Papa orang tegas dan menjadi panutan sebab papa disiplin dan juga pekerja keras, tapi asal papa tau untuk apa semua itu jika di hati dan pikiran papa hanya ada hal buruk saja." Beranjak pergi begitu saja.
Leon menatap ke belakang sekilas.
"Aku tau ko aku ini lemah, tapi asalkan papa tau aku kuat demi Mika dan anak-anak." Terus melangkah.
Tes.
Tanpa sadar air matanya jatuh membasahi salah satu pipinya, kenapa saat satu masalah baru saja selesai namun ada masalah lagi bahkan lebih besar dari sebelumnya. Leon kecewa dengan keadaan ini, keadaan yang membuatnya merasa seperti sendiri di dunia.
'Bokap gue apakah masih sama, udah dari kecil biarin gue gak happy sekarang sudah nikah punya anak gue juga harus terima nasib yang sama, enggak ... gue harus tetap mempertahankan rumah tangga gue apapun yang terjadi meski papa gak suka dengan menantunya, gue pikir papa baik itu akan suka nyatanya hanya omong kosong yang gak ada artinya. Gue heran pantesan mama pergi ternyata papa seperti ini sikapnya, semena-mena pada orang kecil. Padahal tanpa Mika aku juga gak mungkin jadi apa-apa sampai sekarang.' Leon marah dalam hati sambil memukul-mukul stir mobil.
Pikirannya kaca balau bahkan untuk sekedar tersenyum saja sudah sesak di dada, jika ia ceritakan semua kejadian hari ini sekarang pada Mika apa kira-kira tanggapannya.
Setibanya di pemakaman keluarga KHAREL.
Tak lupa Leon membeli bunga untuk almarhumah mamanya, ia menatap lama pusaran itu dan sesekali air matanya jatuh.
__ADS_1
Ia bersimpuh di makam mamanya.
"Ma ... apakah Mama tau jika hari ini papa sangat keterlaluan terhadap Leon, papa egois ma. Papa gak pernah ngertiin perasaan Leon, Leon kesepian jika tidak ada Mika ma. Bahkan papa meminta Leon untuk menceraikan Mika ma, Leon harus apa ma?" sambil menangis dan tergugu di tempat itu.
.
Mika menatap kedua wajah teduh buah hatinya.
"Uh ... kalian berdua ini selalu lucu dan menggemaskan, mama gak sabar melihat kalian tambah aktif lagi bahkan bisa berbicara bermacam-macam kata." Mengecup pipi gembul mereka berdua secara bergantian.
Ceklek.
"Sayang."
Leon yang baru datang langsung memeluk erat tubuh istrinya, ia terisak-isak di pelukan sang istri. Mika bingung harus menenangkan sang suami bagaimana dan dengan cara apa, tidak mungkin kan menenangkan dengan cara itu-itu saja.
"Mau makan?"
Leon mengendorkan pelukannya.
"Mau, mie goreng di depan toko kamu itu sayang!" jawabnya menunjuk ke arah yang salah.
"Gak mau yang lain saja? misalnya bakso," Mika menawarkan makanan yang lain.
Ia menggeleng.
"Gak mau, tetap mau mie goreng pedas manis pasti enak banget yang."
Mika mengacak-acak rambut Leon.
"Baiklah ... baiklah ... aku beli dulu dan titip anak-anak sebentar ya Leon sayang," beranjak pergi namun sebelum pergi ia mengenakan pakaian tertutup lebih dulu agar orang lain tidak menganggapnya orang obralan sana sini.
Leon suka dengan Mika yang gak pernah neko-neko dalam berpakaian, setidaknya tubuh indah itu tidak ada yang menikmatinya dan hanya cukup dirinya seorang yang tau dan melihatnya.
Sedangkan Seno masih dalam keadaan marah yang membara ia ingin sekali menemui Atom dan membuat Atom sedikit jera, Atom memang keterlaluan mentang-mentang dekat bisa seenaknya jidat tidak menghargai orang tulus.
__ADS_1
"Atom ... kamu yang mengibarkan bendera perang di antara kita, jangan salahkan aku jika aku bisa membuatmu jera dan jatuh sejauh-jauhnya." Mengepalkan tangannya sambil menatap rumah yang berada di sebelahnya yang perbedaannya jauh bagai langit dan bumi.