
"Sayang ... kenapa kamu sering melamun sih ?" sambil mencubit pipi Mika.
"Kebiasaan aja Leon sayang, kamu tau gak berita yang lagi viral akhir-akhir ini?"
"Berita yang mana coba." Acuh dan memilih mengambil makanan ringan yang ada di lemari pendingin.
"Berita semua harga naik, aku jadi bingung mau naikin harga barang-barang yang ada di gudang atau tidak. Kalau harga tetap aku juga rugi Leon, tapi kalau aku naikin konsumen banyak yang berkurang. Gimana ini," Mika bercerita tapi juga bingung.
Di sini banyak pertimbangan yang harus di pikirkan secara matang-matang sebelum mengambil keputusan yang tepat.
"Ikutin pasaran aja yang, lagian barang-barang naik juga ada sebabnya bukan. Sayang ... kita kembali ke rumah ayah dulu untuk menjemput anak-anak bagaimana?" Leon mengalihkan topik begitu saja.
"Ayo, kasihan ayah jika harus merawat mereka malam ini. Pasti kualahan menghadapi mereka yang sering nangis!" beranjak pergi dari tempat tidur.
.
Suara deru mobil berhenti tepat di depan rumah Atom, Atom terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Eh, siapa yang datang tumben malam-malam begini ada yang bertamu?" bergegas dari tempat tidur menuju ke ruang tamu untuk melihat siapa yang datang.
Ia sedikit membuka jendela ruangan tersebut dan ternyata yang datang anak dan menantunya.
"Mika dan Leon datang."
Tok tok tok.
Ceklek.
"Mika ... Leon ... ayo, masuk dulu dan duduk pasti kalian lelah." Mempersilahkan dengan baik.
Mika dan Leon saling menatap satu sama lain, kenapa ada yang berbeda dari Ayah Atom apa terjadi sesuatu yang luar biasa yang tidak diketahui oleh mereka.
"Iya ayah," ucap kompak Leon Mika.
"Ayah mengantuk, kalian jika mengantuk istirahatlah di rumah ayah. Lagi pula apa kalian akan langsung pulang, jika langsung pulang gak apa-apa." Atom beranjak pergi usah berkata-kata barusan.
Sedangkan Atom bergegas masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
__ADS_1
Pikiran Leon dan Mika kalut dalam pikirannya masing-masing, ada apa dengan ayah dari tadi bersikap aneh sekali. Terkesan ada sesuatu yang sedang di tutupi, tapi entah apa yang jelas keceriaan Ayah Atom pudar.
Setelah duduk dan sedikit bersantai-santai terdengar suara tangisan salah satu anak kembarnya, siapa lagi jika bukan Bintang yang selalu menangis kencang dan akan di susul oleh Fintan kakaknya.
"Si kembar nangis lagi, yuk sayang." Menggenggam tangan Mika.
"Leon aku bisa jalan sendiri, jika kamu menggenggam tangan ku begitu erat bagaimana aku menenangkan mereka berdua?" hendak melepaskan namun justru Leon menggenggamnya lebih erat dari sebelumnya.
Si kembar tau jika orang tuanya datang makanya mereka secara kompak segera menangis sekencang-kencangnya agar kedua orang tuanya segera menemuinya dan memeluknya dengan penuh cinta dan kasih sayang tentunya.
Cup cup cup.
Suara Mika yang lembut sedang menenangkan kedua buah hatinya, saat di pelukan Mika barulah mereka tenang dan diam.
"Anak-anak memang lebih tau dan peka dimana tempatnya, aku jadi iri. Jika aku menangis sejadi-jadinya apakah istriku langsung memberikan itu seperti ke anak-anak?" tanyanya sambil menunjuk 2 benda kenyal milik Mika.
"Ya enggak lah, aku cubit saja kalau nangis. Susah jadi Daddy masih saja cengeng!" ledeknya sambil memberi ASI.
Leon merangkak sambil menatap wajah lembut Mika.
"Aku tambah cinta loh ke kamu sayang."
Wanita itu sungguh meresahkan kaum Adam, bagaimana tidak cantik dan kaya siapa sih yang gak suka melihat wanita cantik seksi dan kaya raya. Kecuali laki-laki yang mencari seorang istri yang baik itu beda cerita tanpa pandang fisik dan harta.
"Leon kamu mau ngapain sih?" sedikit mendorong tubuh Leon.
"Anak-anak udah tidur, yuk lanjutin kegiatan kita sayang!" senyum devil.
"Enggak, aku capek Leon tadi sebelum berangkat kan udah. Apa kamu lupa aku baru datang bulan nih." Hendak membuka celananya agar ingatan Leon kembali.
Puk.
Leon menepuk jidatnya, ia lupa jika sang istri datang bulan dan akan ada singa dadakan yang akan menggila setiap saat tanpa di duga.
"Lagi menggerutu ya dan bilang yang tidak-tidak tentang aku?"
"Eh, ko tau sih yang kalau aku sedang membatin jika istriku akan jadi singa dadakan dan kumat tanpa aba-aba!" menutup mulutnya seketika saat ingat apa yang barusan ia ucapkan.
__ADS_1
'Mati gue ... bakalan di cubit dan di tendang, asalkan gak di banting dan di cekik di kamar mandi.' Memejamkan matanya.
"Leon, bisa gak sih gak bikin aku emosian seharian. Baru bertemu hari ini malah kamu bikin aku emosi lagi, tau begini aku lebih lama saja di Australia nya dari pada disini yang ada bisa setres aku." Memijat kepalanya perlahan.
Tuing.
"Ponsel kamu bunyi tuh Leon, ada yang penting mungkin malam-malam begini." Mulutnya sudah maju beberapa centi.
"Jangan marah, papa yang mengirimkan pesan," menunjukkan ke Mika.
"Ya sudah kamu balas, aku tunggu di luar ya aku mau pulang." Bergegas membawa anak-anak.
Leon mengangguk dan membalas pesan dari papanya.
💬 Leon apa kamu sibuk besok?
"Ada apa sih papa tumben mengirimkan pesan begini, biasanya langsung telpon?" merasa aneh.
Tentu saja Leon merasakan keanehan, tadi saat datang ke rumah ayah Atom saja sudah merasakan keanehan dan sekarang di tambah papanya yang meminta dirinya untuk bertemu besok dengan cara mengirimkan pesan.
💬 Gak sibuk pa, memang ada hal apa pa?
💬 Besok papa sampaikan, jangan banyak bertanya dulu Leon
Leon mengerenyitkan dahinya.
"Para orang tua ini sedang bertengkar kah?"
Leon beranjak pergi keluar dari kamar dan menuju ke mobil yang ada di halaman depan, sebelum masuk ke dalam mobil ia melihat rumah papanya yang masih terang di bagian salah satu sudut rumah itu, yang tak lain adalah kamar papanya.
'Jangan bilang kalian berubah pikiran dan memisahkan kami berdua pa, aku harap tidak terjadi sesuatu yang akan di sesali kemudian harinya.'
"Wajahmu suram seperti di pecat bos waktu itu." Mika tidak suka dengan wajah yang menakutkan seperti ini, wajah Leon jika marah ya begini.
"Masa sih yang, perasaan enggak," sangkalnya namun tidak dapat di pungkiri jika wajah Leon memang menakutkan.
"Kamu merasa tidak, tapi yang lihat bisa merasakan itu Leon. Ada masalah apa sih Leon, setelah dapat pesan dari papa." Sebenarnya Mika tidak ingin ikut campur namun sekarang Mika posisinya sudah bagian dari keluarga Kharel.
__ADS_1
Leon mengusap-usap rambut Mika lalu mengacak-acak.