Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Anak-anak kita


__ADS_3

'Niatnya mau balas dendam, eh ... malah tertimpa masalah.' Menghembuskan nafasnya dengan keras.


"Jadi, saya harus bagaimana Dok. Apakah masalah ini bisa secepatnya di atasi Dok?"


"Bisa, tapi jangan di paksa ya Bu Mika!" jawab Dokter langsung membuat Mika merasa sangat lega kali ini.


Harapannya jika Leon sudah pulih seperti sedia kala ia akan bertanya sebanyak mungkin, hatinya memang sakit tapi ia harus mengontrol agar tidak gila menghadapi Leon.


"Alhamdulillah kalau begitu, saya permisi Dok."


Langkah demi langkah ia lalui dan menatap satu persatu seluruh penjuru ruangan untuk melihat keadaan seseorang yang tidak di harapkan hadir dan menghantui, katanya orang itu juga di rawat di tempat yang sama dengan suaminya.


'Apa mungkin ini ruangannya, sepertinya iya dari nama ruangan dan nomor kamarnya.' Mika mencari seseorang melalui celah pintu dan jendela.


Ia tidak ingin masuk ke dalam sana, sungguh menyayat hati jika di ruangan itu ada perempuan yang beberapa waktu lalu menghiasi hidup suaminya, meski kini suaminya mengalami kemunduran memori tapi tidak untuk dirinya.


'Cantik sekali wanita itu.' Batinnya teriris.


Mika segera pergi sebelum hatinya terluka lebih dalam, bagaimana kehidupan selanjutnya dengan Leon. Apakah masih akan sama seperti dulu yang tidak ada masalah apapun di dalam rumah tangganya.


'Kalau aku di bandingkan dengan dia, akunya yang kalah saing. Mungkin Leon mencari kekurangan ku yang ternyata ada pada diri wanita itu, ya ... sebagai laki-laki normal pasti ingin perempuannya sempurna. Tapi aku juga sadar diri aku ini apa, dari keturunan siapa? terus ... aku ini di hatinya sebagai apa.'


Seorang perempuan atau laki-laki tidak akan ada pikiran seperti ini jika hatinya tidak di lukai olehnya, semua berawal dari percaya 100 persen namun di hancurkan 1000 persen begitu saja. Untuk kembali bangkit memerlukan waktu yang lama dan sulit di lupakan.


'Orang miskin seperti aku ini apa dimata mereka, jika aku tidak berkerja keras aku tidak mungkin bisa sekuat dan setegar ini menghadapi kejamnya dunia, untung saja Leon tidak memiliki sanak saudara seperti ayah. Andai semua punya sanak saudara tidak bisa di bayangkan lagi bagaimana nasibku selanjutnya seperti apa, pasti buat status apapun itu seperti menghina mereka atau mencaci maki mereka.'


Mika merasa serba salah di sini.


(Ada beberapa part emak masukkan kisah nyata sebenarnya. Jadi ambil hikmahnya ya, tidak semua orang bisa sekuat dan setegar Mika. Hanya di rubah saja ya, di putar balikkan si Mika punya sanak saudara begitu juga dengan Leon, mereka semua menginginkan hubungannya ini hancur padahal sudah ada buah hati, bahkan mertua laki-laki, di sini emak membuat karya sebaliknya ya😭 keep strong Mika🥰🥰).


Leon menatap tubuh berisi Mika.


"Mika."


"Eh, Leon. Ada apa?" mendadak canggung.


"Tubuh mu tambah berisi, aku suka!" manja dengan senyum termanisnya.


Mika diam tanpa ekspresi.


"Bukannya dari dulu sudah begini, berisi. Kalau tinggal tulang nanti di kira busung lapar." Sewotnya.


"??!!" Leon tersenyum.


Sahabatnya ini memang luar biasa selalu membuat hatinya berbunga-bunga dengan kehadirannya, ia suka.


"Mika, apa papa gak kesini ?" tanyanya.


"Belum Leon. Memang kenapa ?" menanggapi biasa-biasa saja.

__ADS_1


Masih kesal dengan Leon yang tidak menanyakan keadaan anak-anak meski Mika sadar jika Leon beberapa waktu yang akan datang tidak mengingat anak-anaknya. Perih dan sakit sekali rasanya, Mika hanya berdoa semoga anak-anaknya kelak masih mau menerima kehadiran sosok ayah di hidup mereka.


"Apa aku boleh tanya sesuatu Mika."


"Tanya apa," dengan nada sedikit sewot.


"Ada apa sih dengan kamu Mika? dari aku bangun sampai sekarang kamu sewot terus ke aku, aku salah apa?"


'Salah kamu menggunung Leon Kharel.' Dalam hati mengepalkan tangannya dan ingin menonjok nya.


'Tapi ..., Leon benar. Ia sekarang tidak bisa disalahkan, ingatannya belum pulih total jika sudah pulih baru aku sidang.'


Leon berusaha melambaikan tangannya saat Mika melamun di hadapannya.


"Eh, iya. Kenapa?"


"Malah bertanya, seharusnya kamu jawab dulu pertanyaanku Mika Riana yang cantik," Leon mengerucutkan bibirnya.


"Kamu gak salah, cuma keadaan yang salah." Beranjak pergi namun di berhentikan Leon saat tangan Leon meraih pergelangan tangan Mika.


Mika terdiam.


Leon menatap bingung, apa maksudnya.


"Mika ... tolong jelaskan dulu ke aku, apa masalahnya ?"


Leon kesal padanya, apa yang sedang di sembunyikan oleh Mika kenapa ia diam tanpa mau mengatakan satu katapun padahal dirinya juga ingin tau ada masalah apa sebenarnya sampai-sampai dirinya masuk ke rumah sakit dengan kepala masih di perban.


Menyuapi dengan kasar tanpa cinta.


"Kamu kejam." Selesai makan dengan lahap.


Mata Mika menghunus sampai ke retina Leon yang teduh dan yang pasti indah.


Mika justru tersenyum devil.


"Jika kamu tidak sedang dalam posisi seperti sekarang, sudah aku pastikan kamu akan lebih lama menginap di rumah sakit ini Leon," beranjak pergi.


Hatinya sakit di katakan Leon dengan kata-kata yang barusan Leon ucapkan, apa segitu dendamnya dulu dia pada dirinya tapi tidak kesampaian sebab bersahabat sejak kecil dan bertetangga pula.


"Mika ... tunggu."


Sudah sakit tidak dapat perhatian, sungguh sesak dadanya.


"Kenapa Mika berubah jadi tambah dingin, perasaan dia gak pernah sedingin ini padaku. Aku harus tanya Papa, di tambah lagi kita akan segera menikah secara resmi. Bukannya tidak baik hubungan sudah sampai di tahap ini gagal begitu saja?" bermonolog.


Ia mencari-cari ponselnya tapi tidak kunjung di temukan, saat melihat kursi tanpa sengaja tertinggal ponsel. Leon bergegas turun dari tempatnya istirahat dan mengambil ponsel itu.


"Sepertinya bukan milik Mika, tapi ..." penasaran dan langsung memencet tombol on off.

__ADS_1


Deg


Jantungnya berhenti berdetak seketika, layar wallpaper dinding ponsel itu ada dirinya dan Leon mencoba membuka kunci dari layar ponsel tersebut tapi gagal lagi dan lagi, ia menyerah dan hampir putus asa dengan ponsel tersebut.


"Apa kuncinya?" berapi-api.


Mika yang sudah di dalam mobil mencari-cari ponselnya.


"Dimana sih? perasan tadi aku." Mika menggantungkan ucapannya.


Ia bergegas kembali ke ruangan Leon, jangan sampai Leon tau ponselnya ada wallpaper dirinya yang ada Leon akan semakin mendominasi dan membuat dirinya lemah kembali terhadap Leon.


Ceklek


Dengan nafas terengah-engah.


"Leon." Terkejut saat Leon sudah melihat seluruh isi galeri ponsel Mika.


"Mika, ini siapa?" menunjukkan foto si kembar Fintan dan Bintang.


"Itu ..." memalingkan wajahnya.


"Jawab Mika." Wajahnya sendu.


Mika mengambil nafas panjang lalu menghembuskan nya.


"Dia anak-anak kita Leon,"


DUAR


Leon terkejut dan seolah-olah tidak percaya dengan ini semua, jika mereka anak-anak nya berarti dirinya ini sudah menodai sahabat yang ia cintai dan akan segera ia nikahi beberapa waktu yang akan datang.


"Anak-anak kita?" memastikan.


"Iya!" terdiam di tempatnya tanpa berani mendekati Leon.


Sudah cukup beberapa bulan ia dan anak-anak di abaikan, kali ini ia harus berjuang demi mendapatkan hak asuh anak-anaknya jika Leon tidak menginginkan buah hatinya. Sudah jatuh tertimpa tangga.


"Maafkan aku Mika, maaf."


Mata Mika mengembun saat Leon berkata kata-kata maaf barusan.


NEXT


Kira-kira apa yang terjadi selanjutnya ya?


Yuk kak komen dan beri dukungan di karya ini🥰 Terimakasih banyak.


Visual Leon di part 13 ya🥰

__ADS_1


__ADS_2