
Mika mulai merasakan kualahan menghadapi si kembar yang saling berebut mainan di tangannya, apalagi saat minum susu formula dari botol pasti Fintan merebut milik Bintang yang masih tersisa banyak dan alhasil Bintang menangis kencang.
"Oek ... oek ...."
Memang begini ribetnya punya anak kembar tanpa baby sitter, sudah terlanjur begini mau bagaimana lagi ibarat kata nasi sudah menjadi bubur ayam.
Leon merasakan resah dalam hatinya, bagaimana di luaran sana istrinya jika terjadi apa-apa. Salah dirinya ini yang kurang fokus dan perhatian kepada istri dan kedua anaknya.
"Perasaanku kenapa tidak enak ya?" resah dan mulai gelisah.
Leon berharap istrinya segera kembali dan nomornya bisa di hubungi, setidaknya sedikit memberi kabar saja ia juga sudah sangat tenang.
"Sayang ... kamu pergi kemana sih?" terus berdoa sambil mengecup potret keluarga kecilnya.
1 bulan telah berlalu.
Penampilan Leon berubah drastis yang tadinya berambut rapi kini mulai memanjang bahkan sudah bisa di kuncir ke belakang.
"Cakep juga aku jika berpenampilan gondrong begini, keren plus tampan." Memuji-muji dirinya sambil memeragakan tubuhnya layaknya seorang modeling ternama.
Semua bukti sudah berada di genggaman Leon tinggal menunggu Mika mau pulang dan kembali ke Indonesia. Ayunda juga sudah berkata jujur bahkan jejak digital ia gunakan sebagai barang bukti jika ia jujur dan minta maaf sebesar-besarnya pada Mika melalui rekaman video, ia juga meminta agar Leon tidak menuntut kesalahan dirinya.
Ia juga meminta agar meringankan beban masalah dalam hidupnya akibat kecerobohannya sesaat dulu, bukan hanya itu ia memberikan kompensasi untuk anak-anak kembar Mika agar supaya saat ia melahirkan nanti anaknya tidak menanggung beban dosa akibat kesalahan orang tuanya, cukup orang tuanya yang menerima caci maki masyarakat.
"Eh tunggu dulu, foto dulu ah ..." riang dan bergembira.
Mungkin akan menjadi awal yang baru lagi untuk kehidupan rumah tangganya dengan sahabat sehidup semati nya.
Awalnya Leon kecewa saat tau ternyata ayah mertuanya ternyata juga berkerja sama waktu itu, Leon sadarnya setelah beberapa hari menolong mertuanya untuk menghubungi Mika waktu itu, hanya saja ia tidak paham dengan arah perkataan Atom yang memberi kode padanya untuk menjaga sang putri tidak hanya sang putri tapi kedua cucunya.
"Leon." Sapa Atom pada menantunya.
__ADS_1
"Ayah, kapan ayah datang?" menyalami sang mertua.
Atom duduk di salah satu sofa sambil menunjukkan ponselnya ke arah Leon.
Deg
Ini untuk yang pertama kalinya Leon melihat sang istri yang sedang mengasuh anak-anaknya, Mika belum menyadari jika dirinya di tatap oleh Leon yang sangat merindukan kehadirannya kembali.
"Mika."
Mika mengerutkan kedua alisnya, bukannya dirinya sedang video call dengan ayah. Tapi ... kenapa seperti mendengar suara Leon, suara yang ia rindukan selama satu bulan ini.
Ia menoleh dan menatap ke arah ponselnya, tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Mika yang ada dirinya terkejut bukan main sampai tubuhnya mundur kebelakang secara mendadak.
Gubrak
"Eh, suara apa itu Leon ?" tanya Atom yang terkejut mendengar benturan keras dari ponselnya.
🤳 Sayang kamu tidak apa-apa ?
Leon panik dan menatap Mika ke seluruh penjuru ponsel tersebut berharap Mika terlihat dari ponsel itu dari segala penjuru arah bahkan ia memutar ponsel.
Mika segera bangkit dan mengambil ponselnya kembali dan mencari tempat duduk paling nyaman, sedangkan kedua buah hatinya tertidur lelap dengan botol susu yang masih mereka minum sampai tertidur sendiri, hari yang cukup melelahkan untuk Mika.
🤳 Tidak apa-apa !
Meski sangat ketus pada Leon itu semua cukup untuk mengobati rasa rindunya, Leon bertanya-tanya kenapa pada akhirnya ayah mertuanya mau mempertemukan putrinya padahal kemarin-kemarin ia tidak mau memberitahu kan perihal keadaan Mika apalagi anak-anaknya di sana, Leon jelas rindu bahkan teramat rindu dengan mereka bertiga.
🤳 Beneran gak apa-apa, tapi dahi kamu benjol sayang
Leon menunjuk dahi Mika yang memar akibat terjatuh barusan.
__ADS_1
Mika menyentuh area dahi yang memang terasa sakit sekali, tapi ia tidak menyangka jika dahinya sampai memar begini di tambah lagi aset utamanya berkerja adalah wajahnya.
🤳 Lebar banget lagi, Leon aku matikan sambungan video call
Memutuskan secara sepihak padahal Leon belum menyetujuinya.
Hanya helaan nafas yang Leon keluarkan, masih banyak pertanyaan yang ingin ia sampaikan sampai tuntas dengan istrinya yang kabur satu bulanan ini.
"Kenapa dimatikan, keadaannya baik-baik saja kan?" Atom memastikan sang putri dan kedua cucunya baik-baik saja.
"Dahinya memar yah sebab terjatuh barusan, sampai benjol, tapi gak apa-apa yah dia sudah mengobati lukanya langsung tadi!" jawabnya pasrah.
"Alhamdulillah kalau baik-baik saja." Bernafas lega.
Atom mengangguk-angguk, setidaknya tidak parah sampai pingsan di tempat atau bahkan lebih dari itu Atom sudah bersyukur putrinya baik-baik saja dan bisa di ajak komunikasi kembali, kemarin-kemarin Mika masih menolak bahkan enggan untuk mendengar apalagi melihat Leon melalui sambungan telepon, padahal dalam hati ia teramat rindu. Bersama dengan Leon sejak kecil membuatnya seperti ketergantungan pada Leon.
'Aku kira kamu akan menolak Leon Mika, ternyata ayah salah prediksi ternyata kamu mau berbicara padanya. Ayah hawatir kamu belum siap dan kembali terluka nak, ayah hawatir kamu kenapa-kenapa kedepannya jika bersama Leon. Tapi Leon pilihanmu sekarang dan dia juga suamimu dan Daddy dari anak-anakmu, ayah bisa apa sekarang selain mendukung kalian. Ayah bangga denganmu Mika, kamu wanita kuat dan hebat hanya saja acara kabur mu membuat ayah teringat masa lalu, masa dimana ayah kehilangan ibumu yang pergi entah kemana sampai sekarang dengan alasan laki-laki lain lebih memanjakannya daripada ayah, ayah terima dan ikhlas lahir batin merawat mu nak. Terimakasih sudah hadir menghiasi hidup ayah.'
Tanpa Atom sadari air matanya sudah membasahi pipinya, Leon menatap mertuanya penuh kehawatiran pada beliau.
Mika mengobati lukanya dengan cara mengompres bagian dahinya yang memar dengan es batu agar peredaran darah menjadi lancar kembali di bagian dahinya. Handuk kecil berwarna putih yang berisikan es batu ia tempel-tempelkan di bagian dahinya selama kurang lebih 20 menitan dan ia lakukan berulang kali agar memarnya semakin berkurang.
Ia menatap kedua anaknya dan memperbaiki selimut mereka meski mereka berdua menolak untuk di selimuti, akhirnya Mika mengambil kaus kaki dan mengenakannya pada mereka.
"Mama tidak mau kalian kedinginan sayang." Mengecup dahi mereka secara bergantian.
Tidak ada hari yang lebih indah di bandingkan dengan apapun , bagi Mika bisa menghabiskan banyak waktu untuk anak-anak sangatlah luar biasa sebab waktu tidak akan terulang kembali, apalagi mereka anak pertama sekaligus kedua yang lahir hanya berjarak 5 menit saja.
"Jadilah anak-anak luar biasa di kemudian hari ya nak, jangan mengecewakan kedua orang tuamu nak."
Meneteskan air mata ia segera mengusapnya agar anak-anak tidak terbangun karena hati ibunya resah berselimut gelisah.
__ADS_1