
Seno tersenyum puas sekali, ia tidak sabaran jika nanti Leon dapat menemukan pengganti Mika menantu yang ia hilangkan dari kehidupan Leon.
"Seorang perempuan yang terlahir rendahan memang tidak pantas bersanding bahkan bertahta di hati putraku, aku akan mendekatkan putraku dengan beberapa anak-anak petinggi di kota S. Bagus Leon, tanpa aku suruh kamu mau berangkat. Ya ... walaupun sedikit ada ancaman, ternyata berguna juga menampung kedua anak-anaknya." Tertawa puas.
Si kecil Fintan dan Bintang sedang asik bermain dengan suster yang menjaganya, suster yang dulu di pekerjakan oleh Leon dan Mika di panggil kembali, sebab hanya dengan mereka berdua lah si kembar tidak sakit dan menangis.
"Hey ... kalian berdua, Asma dan Asna jangan lupa kedua bocah itu di ajak jalan-jalan. Ingat ... untuk tidak membocorkan rahasia keluarga Kharel, jika kalian berani-beraninya membocorkan apapun yang ada di rumah ini siap-siap saja kalian mendapatkan ganjaran yang setimpal bahkan saya pastikan keluarga kalian ikut terseret juga." Ancamnya penuh penekanan.
Asma dan Asna hanya bisa mengangguk dan tertunda menatap ke arah 2 bocah kembar yang kini berusia 3 tahun, dan selama itu juga ia berkerja merawat kedua bayi kembar namun bukan Mika majikannya melainkan tuan besar yang angkuh dan serakah ini.
.
Amanda mengusap setitik air mata Mika.
"Kenapa menangis, ada masalah atau ada apa?" tanyanya penuh dengan kelembutan.
Mika menggeleng lalu tersenyum lebar.
"Terimakasih banyak ibu, Xia tidak akan melupakan jasa-jasa ibu dan papanya Nathan begitu juga dengan Nathan, terimakasih sudah menjaga Xia sampai Xia tersadar dari koma lama Xia, bahkan masih berlapang dada menerima Xia!" jawabnya mendapatkan gelengan dari Amanda.
"Kamu gadis baik, sudah selayaknya mendapatkan dan memperoleh kebaikan dari orang lain. Xia ... apapun keputusan Xia saat ini ibu akan terima, tapi ibu mohon Xia. Ini ... terimalah Xia sebagai bekal kamu di tempat kos kamu Xia, jangan lupa setiap libur akhir pekan kamu di rumah dan wajib menginap tanpa bantahan apapun." Menegaskan dengan rasa yang penuh kekhawatiran terhadap anaknya.
Mika mengangguk, ia menerima kartu ATM itu dan menggenggamnya dengan erat sambil memeluk ibu angkatnya itu.
"Terimakasih ibu, Xia janji akan jaga diri baik-baik ibu. Xia meminta doa dari ibu," menatap Amanda.
"Harus itu, sebagai seorang perempuan harus menjaga diri dengan baik Xia. Ibu percaya padamu Xia, satu lagi jangan lupa jaga pola makan kamu ya." Memperbaiki anak rambut yang berada di dahi Mika.
Mika mengangguk.
__ADS_1
Seorang perempuan paruh baya itu beranjak pergi dari tempat tidur yang di gunakan oleh Mika, gadis itu merasa lega setelah kepergian Amanda. Bukan mengusir atau apalah itu sejenisnya, ia hanya ingin merenungkan kehidupan selanjutnya di tempat kos. Baru beberapa hari yang lalu ia mendapatkan tempat kos yang murah dan dekat dengan kantor cabang tersebut.
Rasanya seperti mimpi mendapatkan keberuntungan dalam waktu yang bersamaan pula, namun mendadak hatinya resah dan gelisah ada apa sebenarnya dengan diri ini saat mendengar pemilik perusahaan itu bernama Leon Kharel saat mendaftar sebagai tukang bersih-bersih waktu itu.
"Sebenarnya ada apa sih, kenapa hatiku merasakan sesuatu hal yang di luar nalar dan jelas-jelas aku belum pernah bertemu dengan pemilik perusahaan besar itu." Ia segera mengalihkan pikirannya yang tidak-tidak dan tidak mungkin bisa terjadi.
KEESOKKANNYA.
Suara burung di luar kamarnya saling bersahut menegur sapa terhadap burung lainnya, saling bersahutan.
Mika merenggangkan otot-otot tubuhnya.
"Selamat pagi kakak Xia." Ucap Nathan yang sudah rapi dengan seragam khas sekolahnya hari Kamis.
"Eh, kamu Nathan. Sana-sana menjauh sedikit, kakak mau bersih-bersih dan berkemas hari ini," usir nya.
Nathan menundukkan kepalanya dan mendadak memperlihatkan ekspresi wajah muramnya sebab di usir secara langsung oleh Mika.
"Tidak perlu," meraih kardus besar yang baru saja di pegang oleh Nathan.
Nathan mendengus kesal, niat baiknya selalu saja di tolak langsung olehnya. Padahal ia punya banyak rencana untuk menarik perhatian Mika, yang jelas-jelas tidak mengingat apapun tentang masa lalunya jadi lebih mudah mendapatkan perhatian lebih, namun semua hanya ekpektasinya saja.
"Apa salahku sih kak, aku niatnya baik ko mau bantu-bantu kakak." Terlihat sangat menggemaskan.
"Kamu ini, apa tidak pergi ke sekolah pagi ini. Apalagi pakaian seragam mu sudah rapi dan wangi, ada anak gadis yang kamu suka ya?" ledek Mika pada Nathan.
Nathan tersipu malu.
"Siapa bilang, tidak ada ko kak. Aku berpakaian rapi begini untuk bantu-bantu kakak pindahan hari ini, gak ada ko gadis yang sedang aku incar kak! lagian aku masuk siang hari ini, jadinya aku bisa deh bantu-bantu kakak Xia pindahan," jawabnya tersipu.
__ADS_1
Mika tertawa, ternyata menggoda anak kecil itu begitu lucu dan menggemaskan.
"Yang bener ... gak ada gadis yang kamu sukai, coba cerita ke kakak." Sambil meledek dan menunjuk wajah Nathan yang masih memerah sedari tadi.
"Apaan sih kak, bikin malu aja," memalingkan wajahnya.
Setelah selesai berkemas-kemas semua barang yang ia miliki, Mika menatap lagi seluruh penjuru isi kamar mewah tersebut.
'Dua bulan lebih aku disini, sudah saatnya aku mandiri. Lagian, hari Senin minggu depan aku sudah mulai masuk untuk praktek bersih-bersih dulu, lalu ... setelah itu barulah aku bisa menjadi pegawai tetap di perusahaan anak cabang itu, semoga jadi rejeki aku kedepannya.' Sambil memasukkan ponselnya ke tas kecil kesayangannya.
Nathan menatap tempat kos yang di pilih oleh Mika, dari lantai atas sampai bawah tidak ada yang bagus yang ada terkesan horor dan tertutup seperti tempat kos-kosan sewaan permalam.
"Kakak yakin kos di tempat ini, bagaimana jika nanti Nathan belikan apartemen untuk kakak tempati." Menawarkan tanpa basa-basi lagi.
Mika menolak.
"Tidak perlu, buang-buang uang saja. Tempat ini murah dan aku suka," membuka pintu kos.
Nathan hendak masuk.
"Stop, kamu tetap berdiri di depan situ. Jangan berani-berani kamu masuk selangkah kaki saja," ancamnya dengan menyipitkan kedua matanya.
Ia tidak berani melangkah, sang pemilik sudah mengingatkan untuk tidak melanjutkan langkahnya.
'Baiklah kakak Xia, aku tidak akan ceroboh apalagi membuat kakak Xia ilfil terhadapku.' Tersenyum sambil membayangkan yang tidak-tidak.
.
Sedangkan Leon menikmati secangkir coklat hangat kesukaannya, tanpa ada yang menemaninya selama 2 tahun terakhir.
__ADS_1
"Andai, aku tidak meninggalkan kamu waktu itu dan aku tidak kabur saat kamu tertidur dulu. Mungkin kamu masih bersamaku sayang, sayang ... aku yakin seratus persen jika kamu masih hidup dan selalu berada di dekatku sayang." Tak terasa air mata Leon kembali jatuh dan membasahi kedua pipinya.