Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
my Leon


__ADS_3

''Yah.''


Mika menuruni anak tangga setelah menyusui si kembar.


''Iya, ada apa Mika?''


''Leon mana yah?''


Atom menepuk jidatnya ia lupa jika tadi hendak menyampaikan pesan jika Leon ada urusan mendesak tadi. Bakalan jadi kekacauan jika sampai mereka terjadi kesalahpahaman, di tambah lagi mika baru saja melahirkan takut terkena baby blues.


''Tadi berangkat kerja katanya, maaf ayah terlupa bilang tadi!''


'Ko Leon gitu sih, aku baru lahiran tapi dia sudah begitu. Apa setelah berhasil mendapatkan aku dia lepas.'


Raut wajah Mika begitu sedih.


"Mika."


"Iya yah, ada apa?"


"Jangan berpikir yang tidak-tidak Mika, pikirkan kondisi kamu sekarang dan juga anak-anak!''


Sebagai orang tua tunggal Atom hanya bisa menasehati anak-anaknya dan mengingatkan saja, boleh mencintai tapi jangan sampai menjadi bodo* karena cinta. Cintanya hilang, bodo*nya masih nyangkut.


''Iya ayah, Mika tau. Tapi setidaknya bicarakan lebih dulu ke Mika jika hendak pergi, mika istri dan ibu dari anak-anaknya ayah.'' Hendak mengeluarkan air matanya tapi segera ia usap.


Leon memang cintanya bahkan bisa di bilang cita pertama dan terakhirnya, tapi mengapa semenyakitkan ini untuk bisa memilikinya dengan sabar dan ikhlas.


.


"Sudah siap tuan leon?" tanyanya sambil kakinya menginjak pedal rem dan gas.


"Hem!" cuma ini saja tanggapan dari Leon.

__ADS_1


Wanita itu kesal dan wajah nya berubah jadi sedih, padahal niatnya ingin sedikit bersenang-senang dulu sebelum nanti pada puncaknya.


"Kendalikan mobilnya dengan baik, saya masih ada anak dan istri yang saya cintai."


Kesal juga memiliki pengacara yang cukup dingin, baru kali ini ia dapat seperti Leon. Tampan sih, tapi gak mudah di goda oleh perempuan.


"Tuan Leon,tipe wanita yang anda sukai seperti apa. Boleh dong ... saya tau siapa jadi nanti kita berdua berjodoh," berusaha merayu layaknya seorang wanita padahal dirinya ini wanita tomboi pakaian saja pakaian laki-laki.


''Dasar wanita murahan, anda ini sebenarnya niat ingin menuntaskan masalah anda atau justru menambah masalah lainnya untuk anda?'' Leon emosi.


Baru kali ini mendapatkan klien model seperti ini, kalau bukan karena klien penting ia ogah-ogahan menangani masalahnya yang serius.


''Tapi sebagai pengacara yang profesional bukannya sudah hal wajar di puji begini oleh kliennya?''


Leon membuka berkasnya secara kasar dari pada menanggapi wanita yang sebenarnya ingin ia hindari dari awal, sebab wanita inilah yang menyebabkan kesalahpahaman di antara dirinya dan sang istri.


''Tapi sudah ingatkan jika anda punya perjanjian yang harus anda tepati, jika gagal anda harus kencan dengan saya satu bulan." Mengingatkan Leon.


Deg


Leon tau jika misinya kali ini kalah dirinya harus berkencan selama satu bulan lamanya dengan wanita tersebut, dan masalahnya kini terus bergulir dan belum menemukan titik akhir bahkan bisa di prediksi jika kali ini gagal misinya untuk menuntaskan masalahnya.


"Saya tau, di meja hijau nanti anda harus bersikap biasa saja."


...***...


"Leon, kamu sudah makan?" tanya Mika dengan nada lemah lembut, dirinya capek menghadapi Leon beberapa Minggu ini.


Segitu pentingnya kliennya sampai-sampai dirinya dan anak-anak di abaikan begini setiap hari, untungnya rumah sudah terpisah dengan ayah Atom dan Papa Seno.


"Iya," meninggalkan mika begitu saja


"ADA APA SIH DENGANMU LEON, KAMU BERUBAH BUKAN LEON YANG AKU KENAL. DASAR LAKI-LAKI BRENGSE* TIDAK PUNYA PENDIRIAN." Mika yang emosi langsung berkata-kata kasar pada Leon.

__ADS_1


Leon berhenti dan langsung tersenyum.


"Iya, aku bajingan dan tidak punya pendirian. Kamu puas?" pergi dengan wajah kecewa.


Mika tubuhnya merosot dan menangis tersedu-sedu di tempat, dapur ini saksi bisu tempatnya menangis menatap masakan yang ia masak tanpa pernah di sentuh Leon selama berminggu-minggu. Leon berubah, Leon jadi dingin, Leon tidak sehangat dulu, Leon pemarah dan Leon bukan Leon yang dulu, Leon kini menjadi laki-laki dewasa yang lupa diri.


"Apakah Leon puber kedua, aku harus menyelidiki ini semua aku tidak bisa diam terus menerus, aku harus berjuang demi anak-anak yang masih kecil. Mereka masih butuh sosok papa di hidupnya."


Oek


Oek


Oek


Mika menidurkan anak-anaknya setelah menyusui mereka bergantian tentunya di bantu oleh para suster.


"Mbak, saya minta tolong ya kejadian hari ini anggap saja tidak pernah terjadi ya mbak. Jangan sampai papa dan ayah tau, hal ini ya." Wajahnya sedu.


"Tapi ..." hendak bertanya tapi hanya bibir tidak berani bertanya.


"Tolong ..., saya juga berharapnya kami berdua baik-baik saja. Tapi saya memaklumi jika suami," tidak melanjutkan perkataannya dan memilih mengambil alat pompa ASI untuk memompa ASI nya yang kepenuhan.


Asma dan Asna saling menatap satu sama lain, apa harus berbohong jika nanti di tanyai oleh orang tua majikannya. Berbohong juga dosa tapi ini demi menutupi masalah rumah tangga mereka, mau tidak mau harus menutupinya, biarkan di selesaikan oleh mereka berdua secara baik-baik dan saling terbuka.


Pada akhirnya Asma dan Asna lah yang menghibur Mika, ibu muda ini sungguh ironis hidupnya. Sendirian padahal di sekelilingnya banyak orang, tapi ia pendam tanpa ada orang lain yang tau sakitnya hatinya.


Ia beranjak dari ruang dimana ia memompa ASI nya, ia menuju ke ruangan kerja yang bahkan sampai sekarang beberapa bulan ia tinggal di rumah baru ini Leon tidak pernah sekalipun mengunjungi tempatnya berkerja, acuh tak acuh dan tidak mau.


Mika mengambil sebuah buku, buku catatan yang sudah usang. Banyak foto masa kecilnya bersama Leon yang ia simpan rapat-rapat dari semua orang, bahkan 2 baby sitter nya saja tidak tau. Ruangan ini ia jadikan ruang kerja pribadinya selama ia cuti melahirkan selama beberapa bulanan ini.


...My Leon...


...Anda waktu itu dapat ku putar kembali, aku pastikan aku tidak ingin mengenal bahkan menikah dengan mu meski itu tanpa sengaja terjadi kesalahpahaman di antara kita, andai anak-anak tidak hadir di dunia ini mungkin mereka juga tidak akan merasakan sakitnya di campakkan olehmu Leon, apa salah kami Leon. Jika memang tidak mau kenapa dari awal kamu begitu bersemangat menanti kehadiran mereka, jika ujung-ujungnya kamu kau lukai hati jiwa dan raga kami bertiga....

__ADS_1


Mika mengusap air matanya yang berlinang di pipi agar mereka semua tidak tau irisan di hatinya yang perih. Ia kemas dan kembalikan seperti semula, yang awalnya tadi lumayan berantakan kini tertata rapi tidak lupa buku harian usangnya ia simpan baik-baik kembali ke tempatnya.


"Ayo .. semangat Mika, jangan hanya karena di abaikan kamu jadi begini. Ingat, ibu menyusui dan merawat anak-anak harus memiliki jiwa yang waras jangan sampai stres, sepertinya aku harus jalan-jalan dengan anak-anak hari ini." Menyemangati diri sendiri.


__ADS_2