
Pada hari yang sama Leon mengirimkan sebuah pesan singkat kepada Papanya.
💬 Saya akan tetap bertahan dengan istri dan anak-anak saya pa, sebagai rasa hormat saya terhadap papa saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada papa bila sikap dan ucapan Leon menyakiti papa.
BRAGH.
"Dasar terkutuk kau, berani-beraninya membuat masalah, sudah di beri hati minta jantung. Aku bersumpah kamu akan miskin karena menolak permintaan ku Leon, dasar anak tidak tau berucap terimakasih dan tidak tau di untung." Ucap Seno berapi-api.
"Dia wanita pilihan kamu sendiri Leon, jangan salahkan jika ada sesuatu hal yang terjadi sesuatu pada kalian," tangannya mengepal.
Salah seorang pembantu di rumah kediaman Seno merekam setiap ucapan yang terlontar dari Seno majikannya, ia merasa sangat iba terhadap Leon putranya yang selalu terzolimi oleh papa kandungnya sendiri.
'Astaghfirullah'aldzim apa tuan besar masih waras pikirannya, kenapa bisa berbicara demikian terhadap putranya sendiri dengan sumpah serapah dan mendoakan keburukan seorang anak. Apa nanti kelak saat tidak bisa apa-apa dan tidak bisa berdiri lagi bukannya anak-anak nya yang akan membantunya, kenapa bisa orang tua seperti tuan Seno mendoakan anaknya demikian.' Sungguh terkejut ia mendengar perkataan Seno.
Baru kali ini ia mendapatkan dan mendengar langsung seorang orang tua mendoakan keburukan anaknya. Dunia sekarang memang lucu, bukan lagi seorang anak yang durhaka terhadap orang tuanya namun orang tuanya yang durhaka terhadap anak-anaknya.
Ponsel milik Leon berdering lagi dan lagi karena ia malas dengan pesan-pesan singkat yang ia yakini dari papanya.
"Kenapa tidak di lihat dulu ponselnya, siapa tahu itu penting Leon." Perkataan lembut Mika meluluhkan hati Leon yang beku sesaat.
"Benar juga, semarah-marahnya aku terhadap papa tidak sepantasnya aku mengabaikan pesan singkat. Ya ... walaupun aku kecewa sekali dengan papa, sudah dari kecil aku di abaikan kenapa setelah aku menemukan kebahagiaan papa merecoki kebahagiaan aku juga," tersenyum miris untuk dirinya sendiri.
Leon mengerutkan dahinya untuk kesekian kalinya, nomor tidak di kenal masuk lagi tapi setelah di lihat wallpaper profilnya ia tau siapa orang tersebut.
"Ada apa? kenapa wajahmu begitu." Mika menatap Leon yang berekspresi tidak bisa di tebak sama sekali.
__ADS_1
"Aku dapat video tapi belum aku lihat, entah video apa yang jelas pengirimnya ini adalah pembantu rumah papa," memberikan ponsel tersebut ke Mika agar Mika saja yang membukanya.
"Tapi ...." Pada akhirnya Mika menerima ponsel tersebut dengan berat hati.
Video kiriman itu Mika lihat dengan mata berkaca-kaca, papa mertua yang sudah ia anggap sebagai papanya sendiri kini sirna sudah rasa percaya dan hormatnya juga, tapi ... sebentar bukannya ayahnya mengirimkan sebuah voice recorder apa jangan-jangan hal-hal yang lebih parah terjadi, apa ada kaitannya dengan Leon yang pergi kerumah papanya tadi pagi.
"Apa benar beliau ini masih papa, Leon?" memastikan lagi namun hanya anggukan kepala yang ia dapatkan. "Jadi benar Leon, papa meminta hal ini padamu."
Tangis Mika di buat pecah kembali.
"Iya Mika,"
.
Seperti kegiatan biasanya antara Mika dan Leon menunaikan kebiasaan suami istri pada malamnya bahkan tak segan-segan saat siang pun juga dan hari demi hari telah berlalu lebih tepatnya sudah 2 bulan lamanya Leon dan Mika kompak tidak menghubungi atau bertanya tentang keadaan Seno baik lewat chat maupun telpon.
"Ma .. ma," Fintan baru pertama kali berbicara.
Leon ternganga dengan ucapan Fintan barusan, putranya berbicara untuk yang pertama kali dan memanggil Mamanya.
"Sayang ... dengar sayang, putra kita menyebut kamu sayang." Leon menunjukkan putranya pada Mika.
"Iya, uluh ... uluh ... jagoan ganteng mama udah bisa bicara ya seperti adik Bintang," sambil menimang dan mengayunkan sang putra tercinta.
Ia terharu melihat tumbuh kembang kedua buah hatinya yang kompak meski jarak berbicara mereka tidak bersama. Sungguh menjadi orang tua sangatlah bahagia, tapi entah kenapa banyak orang tua yang tidak menginginkan kehadiran buah hati lantaran terganggu dengan kehadirannya. Apalagi sampai menghilangkan nyawa seorang anak tanpa memikirkan nasib dan perasaan kecewanya terhadap orang tua yang tega.
__ADS_1
"Sayang ... apa kamu udah tau jika kios ayah terbakar dua bulan lalu?"
Deg.
"Apa? terbakar, kenapa kamu tidak bilang Leon. Apalagi ayah kenapa Ayah juga tidak cerita apa-apa padaku," kecewa itu pasti apalagi sampai menyembunyikan hal sebesar ini.
Apa maksudnya semua ini, apa dirinya tidak pantas untuk tau apa-apa atau mungkin menganggap dirinya ini sebagai anak kecil yang mudah di bohongi begitu.
"Pasti ada alasannya Mika sayang, kita tanya ayah secara baik-baik oke. Aku juga baru tau beberapa waktu yang lalu, aku pikir ... eh tunggu sayang kamu ingat tidak voice recorder yang ayah kirimkan waktu itu, bukannya papa membahas tentang modal kios apa jangan-jangan papa ada kaitannya dengan kebakaran kios ayah." Tebak Leon .
Mika terlihat berpikir, sepertinya tidak mungkin jika papa mertuanya yang berbuat. Bukannya jelas-jelas mereka berdua adalah sahabat dari kecil sampai sekarang tua ini, jika di pikir-pikir secara logika sepertinya tidak dan semua rasanya mustahil.
"Kamu jangan su'udzon dengan papa kamu Leon, lagian mana mungkin papa dalang di balik semuanya. Lagi pula masalah di toko dan beberapa kekacauan di gudang milikku tidak mungkin gara-gara papa, meski aku tau papa tidak suka dengan ku beberapa bulanan ini, tapi aku yakin papa suatu saat nanti akan kembali seperti dulu baik dan peduli," masih saja membela Seno yang jelas-jelas berbuat dzalim terhadap keluarganya.
Leon tertawa jahat.
"Kamu ini yang ... yang ... terbuat dari apa sih hati kamu yang sampai-sampai masih saja baik pada orang seperti itu yang?"
"Setiap manusia tak luput dari kesalahannya Leon sayang bahkan termasuk kamu juga Leon, dan apa pada akhirnya? aku tetap memaafkan kamu kan Leon."
Benar penuturan Mika.
"Benar sekali penuturan kamu sayang, hidupku tercerahkan akibat ucapan kamu yang. Terimakasih sudah hadir dan mendampingi aku sampai sekarang ini yang," matanya berkaca-kaca.
"Sama-sama Leon, aku juga terimakasih sudah mau mempertahankan aku dalam hubungan ini. Padahal kamu tau betul aku banyak kekurangan ini itu, tapi kamu masih sudi mempertahankan aku." Mika juga mengungkapkan rasa syukurnya telah bertemu laki-laki baik dan bertanggung jawab seperti Leon.
__ADS_1
Bertanggung jawab sepenuhnya atas dirinya dan anak-anak, memang perjuangan tidak mudah di raih bahkan halangan dan rintangan selalu ada menemani hari-hari nya.
Mungkin dari kejadian ini dapat di petik hikmahnya ya, tidak semua orang di sekitar kita baik. Tinggal kita saja bagaimana menyikapi semuanya dengan cara dewasa tanpa kekanak-kanakan.