
"Stop ... apa yang sedang kamu lakukan ?"
Leon mengangkat kedua tangannya sambil menggeleng kan kepalanya.
Mata Mika menyipit.
"Awas saja kalau berani macam-macam," kesal sambil menghentakkan kakinya.
"Gak macam-macam, cuma satu macam yaitu mendapatkan hatimu kembali." Masih dengan senyum yang sama.
Manis sekali senyum Leon,tak bisa di pungkiri jika Leon selalu ada dan tidak akan terhapus dari hidupnya. Rekannya sejak kecil sampai mempunyai anak kecil hanya Leon seorang tidak yang lain.
Saat terdiam banyak sekali yang ia pikirkan tentang masa depan seperti apa selanjutnya, apakah akan tetap seperti semula. Tapi, rasanya itu tidak mungkin akan sama seperti semula. Ujian silih berganti terkadang mudah terkadang sulit tergantung masing-masing melaluinya, tapi semua akan teratasi jika bersungguh-sungguh untuk melaluinya.
"Jangan selalu melamun, ini tidak baik untuk mu Mika." Memberikan segelas susu coklat ke Mika.
"Kenapa masih di sini?" pertanyaan konyol dan membuat Leon tertawa lebar.
"AA ... HA ... HA ..., ini rumah kita berdua sayang bersama dengan anak-anak. Bukannya sudah sepantasnya kita bersama-sama !" sambil menikmati segelas susu coklat.
"Tapi kamu tidak mengingat kami dengan baik, jadi untuk apa bertahan dalam kebimbangan seperti ini Leon Kharel ?"
Mika berusaha menahan emosinya agar tidak meledak seperti bom, tapi tidak tahan harus segera di selesaikan dengan orang yang bersangkutan to the poin.
"Jangan emosi dan bersikap egois Mika, aku masih suamimu!" tegasnya lagi.
Mika dibuat bungkam olehnya.
"Iya." Hanya kecewa, sedikit saja Leon seharusnya bersikap lembut dan secepatnya mengingat semua kejadian tanpa ada yang di tutup-tutupi darinya.
'Aku sudah mengingat jelas kejadian demi kejadian di rumah ini dan kepalaku tidak pusing lagi seperti kemarin-kemarin, aku senang ternyata ingatanku pulih dengan baik meski harus aku sembunyikan dulu dari Mika. Maafkan aku Mika, maaf yang mungkin akan mengecewakan kamu lagi kedepannya.' Bermonolog di dalam hati.
__ADS_1
"Walaupun aku ini salah, tapi aku berusaha memperbaiki semua. Apa tidak ada kesempatan? aku ingin bertemu dengan anak-anak dan mengungkapkan jika aku sangat-sangat mencintai ibunya dan mereka juga," sedih dengan pintanya.
Mika terpaku tidak tau harus apa yang jelas Mika sama sekali tidak ada niatan untuk melukai hati anak-anaknya karena di pisahkan dengan papanya.
'Aku akan mencoba berdamai dengan keadaan demi anak-anak agar mereka tumbuh dengan baik tanpa kekurangan kasih sayang sedikitpun.'
Wanita memang pandai menutupi segala rasa sakit dan sesak di hatinya tanpa ada orang lain yang tau padahal ia ingin bercerita banyak ke orang lain tapi dirinya tau dan sadar jika ini semua adalah aib keluarganya yang harus ia jaga dan simpan rapat-rapat.
Leon mengibaskan tangannya di depan wajah Mika.
"Mika ... Mika sayang." Menegurnya.
"Iya Leon, maaf ... maaf ... aku melamun barusan," senyumnya tidak tulus tapi Leon bahagia.
'Meski tidak tulus aku percaya kamu menyimpan cinta yang sangat besar, begitu juga denganku Mika. Aku akan perbaiki semua dan cerita apa adanya ke kamu tentang Ayunda, aku suka sikap marah dan cemburumu sayang.'
.
Di tempat lain Atom menemui Seno di kantornya sebab di rumah tidak ada tadi. Tidak perlu membuat janji sebab karyawan Seno sudah tau jika laki-laki paruh baya itu sahabat sekaligus besannya pemilik kantor tersebut, ramah dan baik.
"Jangan berpura-pura Seno, aku tau betul sifatmu tidak jauh berbeda dengan putramu. Aku harus mengambil keputusan apa untuk memisahkan mereka, kasihan putriku yang terluka lagi dan lagi?"
Deg.
Seno tidak habis pikir dengan sahabat sekaligus besannya ini, kenapa tetap bersih kukuh untuk memisahkan mereka. Setitik tinta menodai pernikahan mereka dan bagi seorang ayah itu luka yang luar biasa tak di maafkan.
"Atom ... tunggu jangan mengambil keputusan, itu urusan rumah tangga mereka sebagai orang tua harusnya kamu juga mendukung mereka. Aku yakin ko kalau Leon gak salah pasti ada sebabnya kenapa ia menduakan Mika!" harus bersikap tegas pada Atom agar mengurungkan niatnya untuk memisahkan anak-anak dari anaknya.
"Memang benar, tapi sampai detik ini putriku belum mendapatkan kebahagiaan semenjak pulang ke Indonesia dan menjadi istri sah di mata hukum dan negara."
Seno diam seribu bahasa, berbicara dengan Atom memang memerlukan tenaga ekstra. Untung saja putrinya cerdas dan berwawasan dan tidak mudah memutuskan sesuatu dari satu pihak saja, sebagai pengacara Mika tau mana celahnya.
__ADS_1
.
"Aku sudah menyelidiki semua tentang kamu Leon, sekarang aku menanti kejujuran kamu padaku jika ingin pernikahan ini tetap terjadi dan bersama-sama."
Seorang istri mudah memaafkan suaminya tapi tidak dengan suami yang menganggap ringan semua masalah asalkan tidak di besar-besarkan.
"Dari mana kamu tau jika ingatanku sudah pulih?"
Padahal Mika hanya menebak saja tapi nyatanya Leon mengakuinya sendiri, sungguh hebat ya trik seorang pengacara muda yang tersembunyi. Ia akan mudah menyelesaikan segala macam tugasnya tanpa orang lain sadari sepenuhnya. Meski ia bercita-cita menjadi pengacara dan terwujud saat dirinya di luar negri sana tapi setelah sampai ke Indonesia tetap saja jiwa usaha nya meronta-ronta minta di salurkan dan terjadilah usaha meski terkadang pendapatan naik turun seperti pesawat terbang, adakalanya mendarat di bandara.
"Apa kamu lupa jika aku pernah jadi seorang pengacara Leon Kharel ?" menunjuk Leon.
Leon tidak suka di tunjuk-tunjuk oleh Mika, ia menggenggam tangan Mika dan menurunkan tangan Mika.
"Jangan suka mengacungkan jari sayang, bukannya kamu tau betul jika aku tidak menyukainya." Berbisik lirih tepat di telinga Mika.
"Iya aku tau, maka dari itu aku menunjuk-nunjuk kamu," memalingkan wajahnya.
Leon yang sudah tidak sabaran langsung meraih tengkuk Mika.
"Mau apa?" panik bukan main.
Wajah Leon mendekati wajah Mika, rasanya ingin langsung menendang intinya tapi takut kena pasal dan masuk penjara. Ia tidak mau masuk ke penjara meski dirinya korban bukan pelaku utama tapi tetap saja jaman sekarang korban jadi pelaku padahal jelas-jelas dirinya melindungi diri.
"Tidak, nanti saja!" melepas mangsanya.
Melihat semburat merah di kedua pipi Mika sudah sangat cukup mengobati rasa rindunya yang teramat dalam meski masih ada rasa ketakutan jika Mika tidak mau menerimanya kembali.
'Aku padahal menunggu kejujuran kamu Leon, apa aku segitu tidak pentingnya di hidupmu sampai-sampai kamu menyembunyikan semua. Aku apa tidak pantas mengetahui kenyataan yang ada meski hatiku yang akan terluka nantinya.'
Ketika malam datang.
__ADS_1
Si kembar lagi aktif-aktifnya mengenal ini dan itu sambil merangkak dan hendak berjalan, Mika harus extra waspada terhadap kedua buah hatinya yang semakin hari semakin menggemaskan saja tingkahnya hanya sebenar untuk Fintan sedangkan Bintang masih asik dan aktif bergerak kesana-kemari.
Leon mengeluarkan ponselnya dan memotret serta memvidio untuk menyimpan kenang-kenangan yang tidak mungkin terulang kembali sebab anak-anak juga akan tumbuh semakin besar dan dewasa nantinya.