Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Dibanting lah


__ADS_3

"Mika, jangan bahas itu terus dong."


"Lah terus, gue harus bahas masalah apa lagi?" memutar bola matanya dengan malas. "Memangnya kenapa, lo gak terima gue masih bahas bahas masalah itu terus menerus di depan lo?" tegasnya.


Leon mengangguk.


"Oke, asalkan lo mau berubah dan janji ke gue dan lo harus tepati janji gak melanggar dan gak beli barang itu lagi, lo sebenarnya bisakan tanpa obat itu?" menghentikan kunyahan nya.


Leon yang tadinya fokus makan kini menatap Mika.


"Gue akan tepati itu, bukan sekedar janji janji saja. Akan aku buktikan dengan sekuat tenaga, jika gue bisa. Bagaimana jika malam ini kita mencobanya? ayolah ... Mika." Merengek seperti anak kecil.


Mika yang melihat tingkah Leon begini, bingung harus ngapain. Tadi malam saja sudah berhasil menghindari Leon, apa malam ini bisa. Bukannya besok atau nanti malam sama saja, kejadian pasangan suami istri yang tidak bisa di hindari siapapun.


"Tapi, gue gak tau caranya," semoga Leon gak bercanda.


Bisa jadi kepiting rebus kalau benar.


"Beneran mau nih?" Leon memastikannya lagi, Mika setuju artinya makan malam sudah ada di depan mata.


"Ya enggak mau sih sebenarnya, di tambah lagi status kita hanya nikah siri Leon. Kalau gue hamil dan lo gak mau gimana, terus nanti kalau terjadi apa-apa kedepannya gimana!" jawab Mika cemas akan masa depan.


"Ada benarnya omongan lo Mika, tapi ini gimana ini." Menunjuk ke arah bawah pusarnya.


Mika menatap tajam, kenapa Leon jadi gini terus sih di depannya. Perasaan dulu tidak begini kelakuannya, gak naf su apa-apa.


"Gue gak tau, gue harus bantu gitu sekarang. Gue baru makan dengan kenyang Leon,"


Leon memicingkan matanya.


"Apa hubungannya coba, gak ada sangkut pautnya Mika Riana." Menarik lembut tangan Mika.


Mika tersipu.


Deg


Deg


Deg


'Ada apa sih ini dengan jantung, masa gue sakit jantung?' Mika merasakannya tidak nyaman di dadanya.


Leon tersenyum penuh kemenangan.


Tidak sia-sia usahanya selama ini.


'Yes ... kesempatan ada di depan mata,gue harus semaksimal mungkin dan melakukannya dengan baik, gue mau gagal.' Leon bertekad dalam hati.


Mika jadi salah tingkah.


Saat berada di anak tangga.


"Leon ..."


"Ada apa ?" membalikkan tubuhnya menghadap ke Mika.


"Takut!" cicitnya.

__ADS_1


"Takut kenapa?" santai dengan gaya tertampan nya.


"Takut gak bisa!"


"Pasti bisa,gue akan tunjukkan sesuatu ke lo nanti." Tersenyum.


Senyuman Leon begitu banyak arti, tapi ... Leon sahabatnya, sahabat seumur hidupnya.


"Mau tunjukkin apa sih Leon, jangan bikin gue penasaran,"


"Ada deh pokonya, pasti lo bakalan suka nantinya." Terus meyakinkan Mika.


Mika mengangguk, terpaksa.


Sesampainya di dalam kamar.


Leon asik dengan ponselnya, lalu ia menekan file yang ia sembunyikan lalu memberikannya pada Mika.


"Nih lo lihat baik-baik dan pelajari dengan baik."


Mika menerima ponsel Leon.


"File apa ini?"


"Lo lihat, tapi jangan kaget ya!" segera berlari ke kamar mandi.


Mika nurut aja apa kata-kata Leon.


"File apa ini, WHAT." Kaget setengah mati saat Vidio itu mempertontonkan adegan dewasa.


"Astaga, Leon" meletakkan ponsel milik Leon sambil melirik-lirik vidio panas tersebut.


"Mika, sudah siap?" Leon tiba-tiba muncul dan membuat fantasi Mika buyar seketika.


"Ya elah Leon, ngapain sih lo pakai acara datang," gerutunya.


"Gak suka nih gue gangguin lo, asik bener liatin ponsel gue. Lo ada sesuatu gejolak gak Mika ?"


"Gejolak apa?" pura-pura bodo* padahal tadi di perutnya bagian bawah merasakan jutaan bulu ayam yang menggelitik nya.


"Beneran gak ada?"


Leon memastikan dan Mika lagi-lagi menggeleng keras, ia mengelak. Ia gemas dan tidak percaya jika dalam dirinya tidak ada getaran apa-apa setelah melihat video dewasa. Leon mengangkat tubuh Mika seperti karung beras saja, sekali angkat sudah berada di pundaknya.


"Leon, turunin." Permintaannya, takut di banting Leon ke atas tempat tidur.


Dan...


BRUGH


"Apakah sakit?"


"Gak sakit, cuma kaget. Untung empuk nih kasur !"


Leon menatap Mika dari atas sampai bawah, tubuh Mika benar-benar ada di bawah kendalinya.


"Lo gak pengen nyobain yang ada di vidio tadi, asik loh." Ajaknya dengan seribu godaan.

__ADS_1


Mika terdiam.


"Kenapa lo diam?"


Leon terpancing hasr at nya saat mika terdiam, apakah diam adalah kode. Dari buku-buku yang pernah ia baca sebelumnya, salah satu mengerti akan wanita atau perempuan, jika ditanya diam jawabnya iya. Tapi jika menolak artinya juga iya, intinya iya tapi malu mengiyakan, begitulah wanita. Maka dari itu, buku tentang mengerti wanita berseri sampai tebal dan bukunya saja berkilo-kilo.


"Gue cium kalau lo diam, jawab Mika"


Justru Mika memalingkan wajahnya dan menutupi area sensitif nya dengan kedua tangannya. Leon tidak suka di acuhkan, ehemm ... segini bucinnya Leon sampai mika mengabaikan saja ia tidak suka dan cemburunya luar biasa. Leon mengembalikan tatapan Mika pada matanya.


Cup


Ciuman sekilas membuat Mika terbelalak, tidak percaya.


"Ciuman pertama gue, lo ambil Leon." Hendak memukul dada Leon tapi tangan nya terhenti.


"Memangnya kenapa, kita suami istri sah Mika Riana, tidak ada salahnya jika kita berlatih mulai malam ini dan selanjutnya. Apa kamu rela ciuman pertama suamimu di renggut wanita lain, hem ...?"


"???"


"Kenapa menatap ku seperti itu Mika, lo udah terpesona ya dengan gue." Bercandanya gak lucu, garing, basi.


"Enggak, belum maksudnya," padahal jantung berdegup kencang berkali-kali.


"Beneran?"


Leon mulai jail, ia menyelipkan tangannya ke dalam baju Mika. Mika terkejut saat ada tangan besar menyentuh perutnya.


"Stop Leon, jangan oke." Menengadah sambil memohon.


Leon menarik tangannya.


"Tapi ..., baiklah," mengacak-acak rambut Mika dan berbaring di samping Mika.


Saat mata mulai mengantuk.


"Leon."


"Ada apa Mika?"


"Pengen peluk!"


Mika melirik tubuh Leon yang hanya berbalut kaos dalam dan celana kain pendek. Tubuh Leon sangat bagus jika dilihat dari cover saja, apalagi sampai bertelanjang dada tanpa balutan kaos dalam, tercetak jelas bentuknya.


"Sini." Menarik tubuh Mika dan otomatis mendekat.


Mika tidak menyia-nyiakan kesempatan, dengan begini ia dengan leluasa memeluk Leon tanpa malu-malu.


"Gue akan berusaha Leon, tapi please ... jangan sekarang ya."


"Iya, gue paham. Gue akan tunggu sampai lo siap Mika, tapi sebelum itu. Kita harus sering-sering latihan, nanti setelah selesai semester satu atau dua umur kita genap sembilan belas tahun dan kita akan pulang ke Indonesia dan mengurus surat-surat untuk melengkapi persyaratan di pengadilan maupun di KUA untuk jaga-jaga jika ada berkas yang di perlukan," jawab Leon meyakinkan Mika.


Mika mengangguk.


"Iya, gue akan sering latihan. Ini pengalaman pertama gue, jangan bikin gue takut Leon."


"Pasti,"

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2