
"Mika."
"Iya ada apa?" tutur katanya sudah lebih lembut dari sebelumnya.
Sungguh-sungguh bidadari yang turun dari surga untuk mengecek siapa calon suaminya kelak di surga.
"Gak bakalan nonjok lagi kan?" ragu-ragu tapi di tanyakan padahal sudah jelas jawaban dari sebelumnya apakah masih kurang.
"Tidak, untuk apa." Seperti lupa padahal ingat sampai beberapa tahun yang akan datang.
"Marahnya nanti ya setelah gigiku sembuh," Leon minta diskon.
"Tergantung."
'Gawat jika Mika sudah sedingin ini, aku harus bilang apa coba?' raut wajah Leon mulai panik di iringi gelisah.
'Harus jawab apa ini? panik gue kalau gue gak jujur bukannya tambah melebar nih masalah hidup dan mati gue.' Gelisah sambil menatap Mika lalu menatap kakinya.
"Kami ... kami ... hanya makan bersama tidak lebih dari itu sayang," penjelasan yang aneh.
"Yakin??!!"
Leon mengangguk cepat.
"Tapi seorang asisten pribadinya Ayunda bilang bukan hanya makan di restoran tapi di dalam kamar hotel VIP juga."
Deg
Jantung Leon berhenti berdetak, sejauh itukah Mika tau hubungannya dengan Ayunda yang tak lain klien reseknya itu, apa maksudnya ini semua apa jangan-jangan asistennya itu juga ikut berperan dalam permainan konyol yang Ayunda ciptakan, memang ke hotel tapi ....
Waktu itu Cantik meminta nomor telpon dan memberikan sebuah video jika Leon dan Ayunda masuk ke dalam hotel lebih tepatnya kamar hotel VIP di salah satu hotel ternama, jika di tanya Mika marah ya jelas marah luar biasa bahkan sudah ada niatan untuk mengakhiri hidupnya tapi ia urungkan mengingat anak-anaknya masih kecil dan butuh seorang ibu di sampingnya, yang ada Leon dan wanita itu bersorak bahagia jika dirinya tiada.
__ADS_1
Mika tidak bisa membiarkan penghianatan hidup aman dan damai tanpa ada rasa bersalah sama sekali dalam hidupnya, hatinya terluka dalam harus di tuntaskan bukan.
"Apa yang kalian berdua perbuat? tidak mungkin laki-laki yang nafsunya tinggi tidak tergoda dengan wanita yang cantik dan seksi seperti wanita jalan* itu?" di cerca pertanyaan begini membuat Leon mengeluarkan keringat panas dingin.
"Aku ..."
"Jujur saja Leon, aku mengenal mu tidak hanya satu tahun tapi bertahun-tahun lamanya Leon," Mika sudah pasrah jika memang kenyataannya begitu menyakitkan.
"Saat itu aku hanya minum air pemberian wanita itu tapi aku tidak tau jika di dalamnya ada obat perang sang sayang, padahal aku sudah mencium air itu tapi tidak tercium apa-apa sebab di dalam ruangan itu tercium kuat hanya bau parfum ruangan dan lilin saja."
Leon menarik nafas panjang sebelum ia menyelesaikan perkataannya.
Mika memalingkan wajahnya menahan air matanya yang hendak bercucuran padahal kelopak matanya sudah memanas dan dadanya sudah bergemuruh hebat.
"La--lu." Tubuh Mika sudah bergetar hebat.
"Setelah itu aku tidak tau sayang,"
"Jujur Leon aku mohon jujur ke aku Leon ?" mencengkram kuat kerah kemeja Leon dan menggoncang tubuh Leon.
Leon mengigit bibir bawahnya sambil menahan air matanya yang akan jatuh juga, ia berusaha meraih dan mendekap tubuh sahabat sekaligus istrinya itu, tapi sayang ... Mika yang terlanjur sakit hati justru memundurkan tubuhnya.
"Jika kamu hanya berniat membuatku mundur dari pernikahan ini, maka ... aku akan kabulkan Leon saat ini juga." Menggeleng kuat.
"Jangan ... jangan ... Mika aku mohon jangan berbicara seperti ini sayang, aku mohon," ia rela harga dirinya jatuh demi wanita yang ia sayang dan cintai, ibu dari anak-anaknya.
"Lalu aku harus berbicara apa Leon, tertawa gitu a ha ha ha aku menyukai sikapmu yang melukai aku, gak apa-apa ko Leon lanjutkan aku gak sakit hati ko. Aku harus mendukung kamu gitu Leon?" tersenyum miris untuk dirinya sendiri.
.
.
__ADS_1
Sejak pertengkaran itu Mika dan Leon benar-benar pisah ranjang bahkan Mika hendak mengajukan surat gugatan cerai pada Leon meski dalam keadaan masih satu rumah, pisah ranjang saja hanya berbeda sedikit Leon tidur di bawah sedangkan Mika di atas.
"Kapan kamu akan menandatangani ini Leon?" Mika menatap Leon malas.
Bisa di bayangkan betapa hancurnya hati Mika dan juga Leon yang sama-sama masih bersikap egois sedangkan anak-anak nya di asuh bergantian di rumah Atom dan Seno, mereka para orang tua membiarkan anak-anaknya untuk menyelesaikan segala permasalahan di rumah tangganya.
"Tidak akan!" langsung merobek kertas itu.
"Kamu egois Leon benar-benar egois, setelah kamu melakukan hal itu ke wanita jalan* mu itu kamu seenaknya sendiri bilang begini seperti tidak berbuat kesalahan saja." Berdecak pinggang.
Memang permasalahan rumah tangga yang paling fatal adalah perselingkuhan, tapi Leon tidak salah sepenuhnya dalam hal ini. Meski bukan sengaja tapi kenapa tidak di kendalikan nafsu sesaat nya.
"Tapi kenyataannya aku memang tidak menyentuhnya apalagi menidurinya sayang."
"Bohong, mana mungkin dua insan yang di pengaruhi obat perang sang dan sama-sama full naked tanpa sehelai benang tidak saling bersentuhan Leon," sudah habis kesabaran Mika menghadapi Leon.
Capek hatinya, ia beranjak pergi namun pelukan erat Leon menghentikan langkahnya. Meronta pun percuma tenaganya sudah habis saat dirinya dalam keadaan emosi berat.
"Tapi memang aku tidak menyentuhnya sama sekali sayang, aku pergi ke dalam kamar mandi dan mengunci diri sambil menguyur kan air dingin ke tubuhku Mika." Berusaha menenangkan puncak amarah Mika.
"Lalu??"
Leon terdiam.
"Aku semalaman tidur di dalam kamar mandi setelah pagi aku di kejutkan dengan orang yang datang ke ruangan tersebut dan mengetuk pintu kamar mandi untuk membersihkan ruangan tersebut, aku meminta tolong pada salah satu orang housekeeping dan kebetulan seorang laki-laki untuk mengambilkan baju ganti baru sayang," penjelasan yang gamblang tapi tetap saja menorehkan luka terdalam untuk Mika.
Inilah perang dingin yang terjadi antara Mika dan Leon, Mika berusaha tegas namun saat ini sikap tegas dan dewasanya hilang runtuh begitu saja.
'Mungkin aku harus berdamai dengan keadaan, lagi pula ....' Pikirannya kemana-mana tanpa arah.
Leon sudah kembali berkerja seperti biasanya, tidak ada kehangatan di antar mereka. Padahal sudah hampir 3 hari lamanya mereka saling marah dan saling mendiami satu sama lain.
__ADS_1
"Aku harus terus meyakinkan Mika meski aku harus bersabar extra lagi, aku yang salah dan seharusnya aku yang bertanggung jawab akan semua kekacauan ini. Sebagai laki-laki harus menjadi panutan dan contoh yang baik untuk istri dan anak-anak, aku tidak mau anak-anak terkena getahnya akibat perbuatanku yang buruk ke ibunya si kembar."
Ia melihat salah satu situs online membeli beberapa produk kecantikan, pakaian dan buket bunga yang cantik.