
Mika terpaku.
"Kenapa? tidak mau dan tidak rindu denganku?" menatap Mika secara intens.
Mika menggeleng, sedetik kemudian ia mengangguk.
Leon tergelak tawa.
"AA ... ha ... ha ... kamu ini lucu sekali sayang, rindu padaku tapi gengsi. Kalau aku bakalan terus terang jika aku rindu dengan mu setiap harinya, bahkan satu menit saja serasa satu tahun yang." Jujur dari dasar hatinya.
"Jangan terlalu banyak membual Leon, jika bualan mu membuat yang lain salah paham," merapikan pakaiannya dan duduk dengan anggunnya di kursi yang sudah di sediakan sebelumnya.
Leon mengernyitkan dahinya seraya tersenyum lebar.
"Apa tidak ada niatan baik dari nyonya Kharel untuk menawari suaminya?" masih tersenyum.
Mika membalas senyuman Leon.
"Silahkan tuan Kharel, mari nikmati makan malam sejenak ini!"
"Kenapa sejenak saja, apa kamu begitu besar merindukan aku sehingga waktu malam ini terasa sebentar?" tampang Leon memang sama dan sampai sekarang masih saja menyebalkan.
Puk.
Melempar tisu yang sudah di hancurkan dan di buat bulat lalu tisu itu mengenai wajah Leon.
"Sudah ya bercandanya, aku lapar. Sebelum aku meluapkannya emosiku lebih baik aku mengisi tenagaku bukan." Mika mulai menyuapi mulutnya dengan air putih dua tegukan lalu berlanjut menu pembuka.
Note: setiap melakukan kegiatan sebaiknya mengucapkan doa sesuai dengan keyakinan masing-masing, jadi harap saling toleransi ya sesama punya agama masing-masing.
"Hak ... buka mulut kamu yang,"
Mika menatap sendok yang masih belum tersentuh oleh bibir dan mulut Leon, bukannya ini tidak baik dan tidak sopan jika wanita lebih dulu memakan makanan milik suaminya.
"Tidak Leon, kamu makanlah dulu kemudian aku setelah kamu." Menolak dengan cara halus.
"Baiklah jika itu mau kamu," Leon menyuapi mulutnya dan mendekati Mika dengan penuh senyuman.
__ADS_1
Mika mulai panik, dia mau ngapain tubuhnya semakin mendekat.
Greb.
Tanpa basa basi Leon meraih tengkuk Mika dan mengecup Mika, tidak hanya mengecup tapi ia menggigit bibir bawah Mika sampai terbuka dan dengan leluasa Leon mentransfer makanan di dalam mulutnya ke mulut Mika.
"Me--sum." Memalingkan wajahnya dan sedikit kikuk, tapi tetap di kunyah makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam mulutnya.
"Kalau aku mesum kenapa tidak menolaknya, bukannya kamu sudah tau betul jika aku semesum ini ke kamu yang," gombalan Leon.
Mendorong wajah Leon agar menjauh sedikit darinya.
"Jangan dekat-dekat Leon Kharel." Sedikit meninggalkan suaranya.
"Aku suami kamu loh Mika, kenapa kamu membangun tembok begitu tinggi di antara kita, apa kamu tidak mau lagi berbicara denganku ?" Leon menyilangkan kedua tangannya di depan perut, memalingkan wajahnya di sertai bibir di majukan.
Leon sangat menggemaskan saat ia di dalam mode ngambek, membuat hati Mika tidak tenang dan terganggu jika sudah begini. Mau membujuk tapi gengsi dengan keadaan, ia harus apa sekarang? Mika hanya bisa berteriak dalam hati.
"Iya, sekalian aku pasangin pagar besi dan kunci yang banyak biar kamu gak bisa masuk lagi dan merusak perasaanku lagi!" Mika mengambil tas kecil lalu ia kenakan.
'Tidak ... tidak ... aku tidak akan membiarkan Mika kabur lagi, aku tidak mau kehilangan dia lagi.'
Leon mengejar sang istri sambil berlari-lari tergopoh-gopoh, Mika sangat cepat saat berjalan apalagi menerobos orang-orang yang berlalu-lalang di sekitar area hotel tersebut.
"Sial, aku kehilangan dia lagi." Merutuki kebodohan singkatnya.
Mika tidak sama seperti dulu yang mudah luluh, kini ia berada di atas pendirinya sendiri dan tidak mudah di goyah kan dengan kata-kata basi.
Leon duduk di salah satu kursi yang berada di taman tersebut, ia menundukkan kepalanya sambil berpikir jernih. Harus dengan apa sekarang ia meluluhkan hati istrinya, padahal tadi sudah berada di depan mata kenapa malah bertingkah sembrono dan terburu-buru.
Lalu ia mengeluarkan ponselnya yang untuk berkerja dan melihat ada berapa banyak klien yang harus ia tangani besok dan ia akan meminta beberapa berkas yang di perlukan untuk menuntaskan sebuah masalah.
"Ayunda, ada apa lagi orang ini mengirimkan pesan?" paling malas jika menyangkut nama orang tersebut.
Gara-gara wanita satu ini hidupnya kacau penuh drama, istri kabur membawa anak-anak dan baru hari ini bisa melihat istri dan kedua anaknya meski sekilas saja.
"Selalu membuat kekacauan," enggan untuk melihat tapi kenapa perasannya ada sesuatu hal yang hendak di sampaikan dan sangat penting.
__ADS_1
Akhirnya ia pencet pesan ini meski malas. Leon memelototkan matanya saat ia melihat sebuah pesan yang menyangkutkan tentang istrinya.
💬 Dari mana anda tau tempat istri saya, kirim alamat dan tidak perlu basa-basi
Leon sedikit senang jika benar wanita itu tau keberadaan istri dan anak-anaknya, ia sudah berusaha bertanya kepada mertua dan papanya namun nihil hasilnya, bahkan orang-orang suruhannya juga gagal semua tanpa hasil.
Ayunda menatap ponselnya.
"Akhirnya membalas juga, lagian mencari perhatian itu gampang ko gak usah neko-neko udah datang sendiri. Aku juga ingin lihat ekspresi istrinya saat dia tau aku satu apartemen dengan, hanya beda lantai saja." Tersenyum penuh makna.
💬 Apartemen Chakra nomor 21 lantai 2
"Ya ... walaupun aku berada di lantai atas gak masalah selagi aku sering berkeliaran di lantai bawah bukannya lebih gampang bertemu dengan pasangan itu."
Cantik baru masuk ke dalam kamar Ayunda membawa nampan berisi makanan dan obat-obatan, ia sedikit heran dengan nona nya yang tersenyum-senyum sendiri sambil menatap ponsel kesayangannya.
"Nona sedang apa? kenapa saya melihat anda tersenyum bahagia." Cantik meletakkan nampan tersebut di meja kecil tempatnya beristirahat.
"Tidak ada, mana makanan saya. Saya lapar," justru jawaban yang lain yang didapatinya.
Cantik menghela nafas.
"Ini nona, saya permisi dulu." Berpamitan dengan sopan.
Leon menatap sekilas balasan itu, ia bergegas menuju ke apartemen yang sekarang di tempati oleh Mika berserta anak-anaknya. Rindu ini teramat perih bagi Leon, tapi harus ia tahan sebab kesalahpahaman yang terus bergulir setiap harinya tanpa bisa di kontrol sebab satu sama lain saling berjauhan.
"Sepertinya tuan Leon akan menemui istrinya, lebih baik aku segera menyelesaikan kegiatanku dan minum obat sesuai dengan resep Dokter." Ayunda bahagia sekali, mempertemukan mereka adalah misinya.
Seketika itu juga Leon mengenakan jaket dan masuk ke dalam mobil, hatinya bahagia meski ia mendapatkan kabar tentang keberadaan istrinya dari orang yang menyebabkan kekacauan.
"Aku harap kamu tidak kabur-kaburan lagi sayang, aku mau meminta maaf padamu secara tulus dan resmi meski aku tau kamu menerimanya atau tidak yang penting aku tulus memperbaiki semua kesalahanku padamu yang."
Ia mengemudikan mobilnya ke suatu tempat dengan tujuan baik, tak lupa ia membeli beberapa barang-barang yang mungkin di butuhkan atau tidak. 2 kantong kresek besar ia masukkan ke jok sebelah kemudinya, ia sudah tidak sabaran untuk melihat ekspresi anak-anaknya juga.
"Rindu ini memang sesak di dada, ingin sekali aku segera melepas rindu."
Terkadang ekpektasi tidak sesuai dengan realita, realita lebih sakit.
__ADS_1