
Leon menatap foto Mika yang tersenyum bahagia kala itu, foto terakhir sebelum kejadian naas yang menimpa istrinya beserta mertuanya.
"Andai kamu hidup kembali yang, akan aku tebus kesalahanku yang lalai terhadapmu bahkan aku ketakutan terhadap papa yang setiap hari mengancam ku."
Mendadak kepalanya pusing sekali, mungkin efek kecelakaan nya dulu yang hilang ingatan sebentar. Leon kembali membuka layar laptopnya dan melihat beberapa data karyawan barunya yang berada di kantor cabang, tak terkecuali karyawan bagian bersih-bersih dan memasak.
Seno menghubungi Leon berulang-ulang kali namun tidak di jawab oleh Leon, Leon malas berdebat dengan papanya semenjak Mika dinyatakan meninggal dunia begitu juga dengan Atom mertua yang ia anggap seperti ayah kandungnya sendiri sebab sedari lahir Atom lah yang merawatnya dengan baik bersama dengan Mika meski baru berusia 5 tahun mulai bersahabat dengan Mika.
.
Mika menatap ke arah luar jendela kamar kos yang sedang ia tempati, tidak ada suara ketukan seperti kemarin-kemarin dan tadi pagi.
"Aish ... kenapa aku jadi ketergantungan sih dengan keluarga Nathan." Menggelengkan kepalanya.
Pikirannya harus fokus dan harus kembali jernih, diri ini tidaklah layak untuk tetap tinggal di tempat itu dan tidak seharusnya hadir.
"Andai aku punya ingatan masa lalu, apakah kenangan masa lalu ku juga sangat luar biasa bahagia. Pasti, bahagia lah. Sekarang saja orang-orang sangat baik padaku,pasti kehidupanku sebelum aku koma sangat bahagia tanpa penderitaan dan sakit hati." Menyemangati dirinya sendiri.
Tok tok tok.
"Eh, ada orang yang datang. Mungkin ibu kos yang datang." Menerka-nerka saja.
Ia bergegas membuka pintu namun ia mengintip terlebih dahulu dari celah jendela kamar kos, hanya waspada terhadap orang yang hendak bertamu.
"Ibu Amanda, kenapa kemari ya?" gumamnya dalam hati.
Ceklek.
"Ibu."
"Xia ... hu .. hu .. hu .... Kenapa kamu memilih untuk tinggal di tempat seperti ini sih Xia ...." Menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Dan pertunjukan kini mulai berjalan, dan Mika di buat mati gaya.
"Ibu ... aku mohon jangan menangis lagi ya Bu," berusaha menenangkan namun sepertinya sia-sia saja.
Sebab bukannya diam justru Amanda menjadi-jadi menangisnya, Mika cukup malu dengan tingkah konyol ibu angkatnya. Beberapa penghuni kos yang melintas melihat kejadian tersebut dan banyak yang sedang membicarakan dirinya. Mika malu menjadi buah bibir, namun apalah daya dirinya tidak bisa berbicara apa-apa jika menyangkut usia wanita yang sedang ada di hadapannya sebagai rasa hormatnya.
"Tidak akan berhenti menangis jika kamu masih tetap kukuh tinggal di kosan ini, apa kamu tidak kasihan dengan ibu. Padahal kamu tau sendiri kan jika keluarga kita keluarga Arcelio tidak kekurangan apapun, kenapa kamu malah memilih tinggal di kosan sih nak."
Tentu saja orang-orang pernah mendengar nama Arcelio, tapi ya begitu deh namanya juga manusia. Ada yang percaya ada yang tidak.
"Eh, barusan lo denger enggak ibu-ibu itu mengaku-ngaku keluarga Arcelio?" tanya seorang penghuni kos pada teman lainnya.
"Iya, aku yakin mereka hanya mengada-ada saja. Mana mungkin keluarga Arcelio sudi tinggal di tempat kumuh begini, ada-ada saja drama mereka. Yuk pergi cari makan yuk, dari pada mendengarkan ocehan mereka yang nyaring bunyinya doang!" jawabnya mengejek menatap ke arah Amanda dan Mika.
Amanda emosi sampai mengepalkan tangannya, ia hendak menyumpal mulut kedua manusia itu.
"Ibu." Menghentikan Amanda.
"Jangan menghentikan ibu Xia, ibu sudah terbiasa membasmi tikus got yang kurang jaga kebersihan tubuh serta mulutnya," amarah Amanda semakin menjadi-jadi.
Mika tetap menghalangi aksi Amanda yang pastinya akan menjadi tontonan gratis orang-orang bahkan bisa jadi trending topik hari ini juga.
"Kenapa? kenapa kamu sebaik ini nak?" ia peluk erat tubuh Mika yang kini mulai berisi.
Dulu saat Mika tersadar dari komanya Mika sangat kurus sekali badannya, apakah dulu kehidupannya sangat memilukan dan menyayat hati setiap harinya. Andai ia tau asal Mika dari mana pastinya ia akan mengembalikan Mika secara baik-baik meski ia tak rela, entah kenapa semenjak melihat Mika seperti melihat putrinya sendiri.
"Ibu, kita sama-sama pernah punya salah bukan?" Mika bertanya.
"Iya Xia, benar apa ucapan kamu Xia. Maafkan ibu yang baru saja membuatmu tidak nyaman, oh ya Xia apa kamu sudah makan nak?" menatap sekeliling kos tersebut.
Mika menggeleng.
__ADS_1
"Kenapa tidak makan, apa tadi Nathan hanya mengantarmu tanpa membelikan kamu makanan dan keperluan yang lainnya ?" tanya Amanda yang mulai tersulut emosi kembali.
"Bukan Nathan Ibu, justru Xia yang tidak mau. Xia mau beli keperluan sebenarnya hari ini, tapi Xia malas keluar kos Ibu. Jadi ... ibu jangan menyalakan Nathan, ya." Sambil memperlihatkan giginya yang putih.
Amanda menghela nafas.
"Baiklah, bagaimana jika ibu ajak kamu berjalan-jalan ke mal sekarang?" menawarkan tanpa mau ada penolakan.
Mika memilih mengangguk, setidaknya ibu angkatnya tidak tersulut emosi kembali. Usia tidak muda lagi sungguh mudah tersinggung ternyata, apalagi jika orang yang lebih muda berpendapat yang menurutnya tidak menyenangkan hatinya.
...MALL POPULER...
"Kenapa cuma kamu lihat saja nak, ambil sesuka kamu ibu yang traktir ya."
"Tapi ..." antara bingung dan tidak enak hati.
Ia merasa sangat tidak enak hati, ibu Amanda terlalu baik pada dirinya ini. Ia takut terlena dengan kebaikan yang beliau berikan dengan tulus tersebut.
"Tidak ada penolakan nak, apa kamu tidak suka dengan semua pakaian yang ada di mall ini. Ibu undangkan perancang busana terkenal ya." Tiba-tiba Amanda mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang tanpa persetujuan dari Mika.
"Eh," Mika tidak bisa berbuat apa-apa.
Untuk menghentikan keinginan beliau itu sangatlah mustahil, keras kepala namun penuh dengan perhatian yang sangat luar biasa.
'Tau begini aku cari baju yang sederhana saja, lebih baik aku berjalan-jalan di area itu siapa tahu ada baju yang cocok untuk aku berkerja besok.' Mika memilah dan memilih pakaian.
Amanda yang baru saja kembali di buat tersenyum melihat Mika yang ternyata begitu bahagia saat memilih pakaian.
'Dia gadis yang sangat cantik, pantas saja jika putraku ada perasaan lebih. Aku ingat saat Xia masih terbaring koma waktu itu, Nathan selalu memuji-muji Xia tanpa ia sadari jika pujiannya terhadap Xia lebih dari kagum bahkan bisa di katakan suka dan jatuh hati.' Amanda mendekati Mika.
.
__ADS_1
Mika menghela nafas setelah mengantar Amanda sampai masuk ke dalam mobil, jarak antara kos tempat tinggalnya sekarang dengan tempat parkir lumayan jauh di tambah lagi dengan membawa barang-barang yang begitu banyak sampai satu tempat tidurnya tidak muat untuk meletakkan barang-barang tersebut.