
Leon menatap foto kedua buah hatinya dan juga Mika istrinya dengan tatapan seribu rasa bersalah bahkan jutaan maaf yang terlontar tidak mampu menghapus lukanya.
"Begini pak Leon, jika pekerjaan anda seperti ini terus menerus bisa di pastikan anda akan kehilangan pekerjaan anda pak." Tegur salah satu rekan kerjanya.
Leon tidak peduli yang ia pedulikan bagaimana perasaan istri yang ia lukai beberapa Minggu ini bahkan bulan.
"Baik, lain kali saya tidak akan mengulangi kejadian ini, terimakasih." Berlalu pergi setelah mengucapkannya.
Saat di parkiran mobil.
"Hai." Sapa seorang perempuan yang tidak lain mantan klien menyebalkan nya.
Gara-gara wanita satu ini dirinya dan sang istri sering perang dingin bahkan anak-anak nya juga jadi korban keegoisan nya.
.
Mika dan kedua anaknya serta 2 baby sitter nya juga sekalian di ajak jalan-jalan berkeliling kota lalu ke taman bermain.
"Mbak, tadi tidak lupakan membawa persiapan ASI yang di freezer ?" Menatap kotak yang di pastikan sudah ada ASI.
"Iya Bu Mika!" jawab Asma.
Mika tersenyum lega, akhir-akhir ini ASI nya sedikit mengalami kesulitan untuk keluar, pasti karena pikirannya yang kacau.
'Apa perlu kami berdua berakhir, tapi ... bagaimana dengan anak-anak ?' bertanya dalam hati sambil ia tatap kedua buah hatinya.
Sesak rasanya dada ini melihat mereka yang masih kecil dan tidak tau harus menerima akibat dari ego orang tuanya, Mika tidak salah sepenuhnya. Mungkin ini takdir yang harus ia hadapi kedepannya, sebagai perempuan dan sekaligus seorang ibu serta istri harus pandai-pandai menata diri dari awal, setidaknya lukanya tidak sesakit ini.
"Bu ... Bu Mika." Asma memanggil Mika yang sedari tadi melamun.
Meski ada sopir tapi saat ini anak-anaknya butuh Mika langsung yang menyusuinya, mereka terlalu kecil dan sangat peka dengan suasana hati ibunya.
"Eh iya, maaf ... maaf ... saya terlalu memikirkan pekerjaan sampai-sampai saya tidak mendengar anak-anak menangis kencang," bohongnya lalu meraih anak-anaknya.
Mika memilih tempat tertutup untuk menutupi dirinya sedang menyusui dua buah hatinya, Fintan Galaxy Kharel dan juga Bintang Galaxy Kharel.
Asma dan Asna menatap satu sama lain dan menaikkan pundaknya bersamaan.
__ADS_1
Tung
Tung
2 pesan singkat masuk ke dalam ponselnya ia malas menatap ponsel itu pasti notifikasi dari operator atau dari bank pribadinya sebab ia tadi barusan menarik uang tunai.
Leon menatap nanar ponselnya, tidak ada jawaban bahkan di lihat saja tidak. Hatinya kacau dan mulai resah, dimana Mika yang dulu selalu online dengan perhatian-perhatian kecilnya.
'Eh, cueknya.' Perasaan Leon tertantang lagi.
Padahal kemarin-kemarin dirinya terlalu merasakan dirinya.
Banyak rentetan SMS yang di kirimkan oleh Leon pada Mika, tapi sayangnya wanita itu sampai jam berganti berkali-kali tidak ada jawaban bahkan di lihat saja tidak sama sekali, apa anak-anak rewel dan tidak bisa di tinggalkan tapi bukannya sudah ada 2 baby sitter yang membantunya.
'Mika.'
Tapi tidak semudah yang ia bayangkan, wanita ini menerornya lagi.
"Hai."
"Kenapa datang, ada perlu apa? bukannya urusan di antara kita sudah selesai,"
"Periksakan diri ke rumah sakit, kenapa kemari jika ada masalah dengan hati," malas meladeni wanita tersebut.
"Kalau begitu bantu saya ke rumah sakit ya." Meraih tangan Leon tapi segera ia tarik.
Baginya wanita yang ada di hadapannya tidak menarik seperti Mika istrinya, cantik jelita dan anggun, tak lupa selalu misterius ia suka semua yang ada di diri Mika Riana.
"Saya akan bantu anda nona Ayunda, tapi ini yang terakhir kalinya saya membantu anda," dingin dan bergegas menuju ke tempat parkiran.
.
Mika yang baru selesai menyusui meski hatinya kacau balau sebab hawatir dengan Leon yang tidak ada kabar meski tadi sempat ia abaikan pesan singkat dari Leon. Ia terus menatap layar ponselnya berharap Leon nomornya aktif tapi sampai malam tidak kunjung ada kabarnya.
Atom dan Seno yang mendapatkan kabar lebih dulu jika Leon kecelakaan sebab orang-orang bawahan Seno menyelidiki keberadaan Leon dimana saja seharian ini tanpa ada kabar sama sekali.
"Anak brengkse* itu buat ulah lagi?" Seno sampai menggebrak meja kerjanya.
__ADS_1
Ia tidak habis pikir dengan kelakuan putranya, kenapa semakin kesini semakin menjadi-jadi ulahnya.
Setelah ke rumah Atom, Seno dan Atom bergegas ke rumah putrinya yang tidak seberapa jauh dari rumah anak-anaknya dan kedua cucu kembarnya. Mika tentu saja shock dengan berita kecelakaan sang suami, bagaimana bisa Leon sampai kecelakaan.
"Mika." Panggil Atom yang baru saja datang berkunjung ke rumah putrinya.
"Ayah, sejak kapan ayah datang ? kenapa tidak memberi tau Mika terlebih dahulu ayah?" menyambut kedatangan ayahnya.
Mika bahagia dengan kehadiran ayahnya, senyumnya seketika mengembang, ia tidak ingin ayahnya tau tentang keadaan rumah tangganya yang semakin hari semakin hambar tanpa rasa.
...***...
Tatapan mata Mika lurus ke arah ranjang rumah sakit yang tak lain ranjang tempat suaminya kini dirawat.
"Kenapa kamu setega itu ke aku dan anak-anak Leon, kamu jahat. Katanya kamu akan jagain kita baik-baik, mana buktinya. BULLSH1T." Teriaknya di akhir kalimat.
Meski dalam keadaan marah ia tidak memukul Leon, laki-laki cinta pertamanya dan papa dari anak-anaknya. Seno dan Atom melihat Mika yang menangis tersedu-sedu ikut hancur, di sini yang paling berat adalah Mika itu sendiri.
"Mika." Atom menyentuh kedua pundak putrinya dan akan selalu begitu.
"Lepaskan ayah, Mika ingin protes ke Leon ayah. Lihat ... laki-laki ini ayah, laki-laki yang aku cintai ini ayah," sambil menangis mika berkata. Ia menunjuk wajah pucat di atas ranjang pasien tersebut.
"Mika sadar nak, sadar."
"Enggak ayah, aku butuh kejelasan. Dia kenapa terbaring di situ, kenapa ayah. Wanita itu siapa ayah?"
"Mika, dengar Mika!" Seno juga bingung harus berbicara apa pada Mika.
Yang jelas sekarang suasana begitu panas di ruang rawat tempat Leon terbaring lemah dengan infus cairan dan penambah darah.
"Biarkan Leon istirahat dulu Mika, nanti setelah ia sadar tanyakan sebanyak apa kamu mau bertanya. Papa rela Mika, bila perlu jika dia pulih kamu pukul dan tend4ng sepuasnya agar ia masuk ke rumah sakit kembali. Nanti kalau dia melaporkan ke pihak berwajib, papa yang akan turun tangan untuk kamu Mika." Bela sang papa mertua.
"Tapi kasihan pa," semarah-marahnya Mika ia tidak tegaan pada Leon.
Seno dan Atom saling menatap satu sama lain dan saling memberi kode untuk membiarkan Mika meluapkan emosinya sesaat, kasihan sekali dengan nasibnya.
.
__ADS_1
Maaf baru bisa up, maklum sok sibuk padahal sibuk dengan pikiran dan hati yang kacau🤣🤣ðŸ˜ðŸ˜