Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Mencoba menjelaskan dari hati ke hati


__ADS_3

Perjalanan menempuh beberapa menit saja dari Hotel Tinggi Asia, jadi dengan gampang Leon langsung menuju ke tempat tujuan untung saja jalanan sedikit sepi jadi dengan cepat ia membelah jalanan sunyi tersebut, sedikit aneh sih biasanya jalan ini tidak pernah sesepi ini. Memang ya takdir dari Tuhan itu tidak dapat di prediksi akan seperti apa jadinya.


"Semoga kali ini berhasil, tentang aku tau dari siapa dipikirkan nanti saja yang penting aku bertemu mereka dan memastikan tempat tinggalnya layak."


Padahal sudah jelas jika apartemen di lantai bawah bisa di pastikan jika tempatnya terjamin apalagi saat ada bencana kebakaran atau gempa bumi dan bencana lainnya yang tidak terduga.


Ayunda sudah selesai makan dan ia meminta untuk di hantarkan ke lantai bawah, Cantik sedikit curiga dengan gelagat nona nya apa jangan-jangan ada sesuatu yang sedang di rahasiakan oleh nona nya, pasti ada sesuatu yang di sembunyikan.


"Nona, tumben anda ingin turun kebawah di pukul segini. Biasanya anda akan beristirahat dan menyuruh saya membeli camilan untuk malam harinya." Pertanyaan Cantik mendapatkan tatapan tajam Ayunda.


"Kamu jangan kepo dengan urusan saya, saya paling tidak suka ada yang ikut campur," tegasnya.


"Maaf nona, saya berjanji tidak akan bertanya apa-apa." Diam setelah itu.


'Sialan nih orang, jangan harap setelah ada bencana besar setelah ini kamu meminta bantuan ku. Dasar iblis berwujud manusia, aku tidak akan membiarkan kamu melukai istri dan anak-anaknya tuan muda Kharel itu.' Cantik tau apa jalan pikiran majikannya.


Sebenarnya ia tidak betah memiliki majikan yang picik seperti Ayunda, banyak sekali perbuatan kotor nya yang sampai akhir zaman saja tidak selesai-selesai dramanya.


Mika berdiri di samping taman yang ada di apartemen tersebut, lokasinya bagus dan indah.


"Kenapa diam disitu yang?" suara laki-laki yang begitu ia kenali.


Ia menatap penuh cinta dan kerinduan, tubuh ini yang selalu di rindu-rindukan setiap pagi siang sore malam. Setiap kegiatan kenangannya bersama Mika terlukis jelas di ingatannya, tak dapat ia pungkiri pesona Mika telah mendominasi seluruh kehidupannya. Lebay tidak tapi berusaha mempertahankan hak milik apa itu salah, tidak salah bukan asalkan bukan merebut atau meminta hak orang lain.


Mika menoleh dan menata laki-laki ini dengan tatapan kecewa namun cinta, ia harus apa sekarang. Mundur juga tidak mungkin, jika ingin melanjutkan tapi hatinya terluka.


"Aku ingin berbicara denganmu berdua yang, aku harap kamu tidak lari seperti tadi yang." Matanya sangat teduh.


Mika menggeleng lalu ia duduk di salah satu kursi yang berada di taman tersebut.


Leon senang mendapati sang istri tidak kabur dan mengiyakan ajakannya untuk berbicara empat mata daripada hati ke hati. Semoga dengan cara begini hubungannya semakin membaik dan kembali seperti semula tanpa adanya kesalahpahaman satu sama lain.


"Silahkan, mau berbicara apa?" menatap lurus ke arah lampu-lampu taman.


"Tatap aku Mika, apa lampu di taman begitu tampan dan mempesona," protesnya.


Leon memang selalu begini dan akan tetap begini, jika di persilahkan bicara akan berlanjut tanpa jeda itu membuat Mika sedikit jengkel menghadapinya.

__ADS_1


"Tidak, ha--nya ... ha--nya ... saja ...." Mika bingung harus dimulai dari mana obrolan ini.


"Kenapa canggung sih yang?" meraih dagu Mika dan menatapnya dalam-dalam.


"Siapa yang canggung, enggak tuh. Lagian kenapa kamu kemari dan kenapa kamu tau aku ada di sini?" menyilangkan kedua tangannya sebab antara ayah dan papa mertuanya saling jaga rahasia dan Leon tidak tau tempatnya tinggal untuk sekarang.


"Aku rindu denganmu dan anak-anak yang, apa aku tidak boleh merindukan kalian bertiga!" jawabnya dengan nada lemah lembut seperti baru saja ditindas orang jahat.


"Boleh, kenapa tidak boleh. Aku tidak akan memisahkan kamu dengan anak-anak Leon, walau bagaimanapun kamu ada ikatan darah dengan mereka berdua sedangkan dengan ku hanya ikatan pernikahan. Bahkan pernikahan saja bisa berhenti kapan pun sesuai dengan kemampuan dalam pernikahan dan tau caranya mempertanyakan suatu pernikahan dengan setia serta jujur." Mika menekan setiap perkataannya.


Kecewa boleh, tapi jangan juga jadi jahat seperti mereka.


Mika beranjak pergi.


"Kamu mau kemana yang?" tanya Leon yang mengekori dirinya.


Ia menoleh lalu tersenyum.


Dor.


Senyuman Mika langsung menembus dadanya tepat sasaran, jika sudah begini peluang emas jangan di sia-siakan.


📞 Hallo yah, apa anak-anak di apartemen?


📞 Anak-anak di rumah ayah, bagaimana makan malam mu dengan Leon? berjalan lancarkan. Kalian mengobrol lah baik-baik dari hati ke hati


📞 ... baik ayah, terimakasih


Mika mematikan sambungan telponnya.


"Bagaimana? anak-anak ada di apartemen?"


Ia menggeleng.


"Yes ..." bersorak gembira.


"Jangan bangga dulu, meski anak-anak dirumah ayah kamu masih punya tanggungan hutang penjelasan Leon. Permasalahan kita masih bergulir panas, apa kamu sudah punya penjelasan dan jawaban yang pas?" menatap tajam lalu memalingkan wajahnya dan fokus menatap ke depan sebelum masuk ke loby.

__ADS_1


Leon mengangguk.


"Ayo kita mengobrol di dalam apartemen kamu yang!"


Sesampainya di apartemen tersebut Leon di kejutkan dengan kedatangan Ayunda tamu yang tidak di undang.


"Hai tuan Leon,saya pikir anda tidak akan datang menemui istri anda setelah saya beri tau keberadaan istri anda." Dengan senyum manis.


Cantik seperti ingin muntah saja mendengar suara Ayunda yang sok baik dan polos padahal aslinya ular berbisa.


Mika menatap tajam ke arah Leon, jadi keberadaan dirinya di ketahui oleh wanita yang pernah kencan berdua dengan suaminya dan menjadi mata-mata suaminya.


"Kamu masih berhubungan dengan wanita yang tidak tau malu ini, yang menyebabkan keretakan hubungan ini?" menunjuk-nunjuk wajah Ayunda dengan kesal dan penuh amarah serta dendam.


Ayunda meneteskan air matanya.


"Niatku baik ko' aku hanya ingin membantu hubungan kalian saja, lagian aku beberapa bulan lagi melahirkan dan aku ingin lahiran ku nanti lancar dan anakku sehat. Apa aku salah jika aku tulus membantu." Ayunda bermonolog.


Mika menganggapnya angin lalu, semua perkataannya omong kosong yang gak berarti. Wanita licik akan tetap licik untuk menuntaskan tujuannya yang tak lain adalah merebut hak milik orang lain.


"Yang buka pintu apartemennya, ayo kita bicara dari hati ke hati biar tidak diganggu mereka." Merebut kartu milik Mika dan membuka pintu apartemennya.


Ia meraih tangan Mika dan menggenggamnya erat.


Sofa empuk ia tempati setelah menutup akses pintu apartemennya, orang lain tidak perlu sampai tau tentang permasalahan rumah tangganya.


Mika membiarkan minuman kesukaannya yaitu coklat panas.


"Ini."


Leon tersenyum menerima satu gelas coklat tersebut.


"Kamu masih ingat kesukaan ku sayang?"


"Kamu jangan bercanda Leon, mana mungkin dalam satu bulan aku melupakan semuanya termasuk minuman kamu. Sebagai istri bukannya lebih baik berbakti meski tersakiti?" sedikit memiringkan kepalanya.


"Benar, tapi kamu disini juga salah yang. Kenapa kamu kabur dariku yang, apa kamu tau betapa terlukanya aku saat kamu pergi tanpa mau mendukungku untuk mencari bukti-bukti lebih dulu, aku dan wanita itu memang sempat ada hubungan tapi tidak lebih dari teman makan siang saja. Bahkan ...." Tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Mika juga salah, cinta tanpa logika jadinya ceroboh.


__ADS_2