
"Mika."
"Hem, ada apa Leon ?" menatap ke arah jalanan samping kiri.
"Ko' cuma hem doang."
"Lo maunya gue jawab apa coba?" memutar bola matanya.
"Jangan gini dong ke gue, iya ... iya ... gue tau gue salah Mika. Tapi jangan diam gini dong, serasa bicara sama tembok tau!"
"Memang gue tembok, lo ada masalah. Makanya cari istri jangan seperti gue si tembok, yang di ajak bicara bakalan diam terus." Timpalnya.
.
Saat sampai di rumah Leon.
"Pulang ke rumah ayah atau papa ?" ketika laju mobil berhenti di depan pagar rumah Leon.
Mika menatap halaman rumah Leon dan rumahnya secara bergantian, jika di lihat-lihat perbedaan antara dirinya dengan Leon sangatlah jauh sekali.
Rumahnya seperti gubuk reyot tak berpenghuni, jelek dan tidak pantas.
"Rumah gue aja, kalau lo mau pulang ke rumah lo gak apa-apa. Leon!" wajah suram.
'Ada apa sih dengan Mika, ko' wajahnya jadi gitu. Lebih serem dari setan' batin Leon mencuri-curi pandang.
Bakalan mampus kamu Leon kalau seandainya Mika bisa baca pikiran hati kamu, berani-beraninya ngatain Mika lebih serem dari setan 🤣🤣
"Gak deh, kita ini sepasang suami istri yang baru nikah dan masih anget-anget nya. Masa pulang ke rumah sendiri-sendiri, apa kata orang nanti." Benar kata Leon.
"Memang ada benarnya, ya udah. Ayo, pulang ke rumah gue," ajaknya beranjak pergi.
"Hey, bukan rumah lo doang. Tapi rumah ayah, rumah kita juga Mika." Sedikit meninggikan suaranya.
Mika mengibaskan tangannya.
"Iya, iya, rumah kita," ada sedikit senyum di sudut bibirnya.
Leon bahagia.
Oh, semoga kebahagiaan ini akan berlalu lama sampai nanti-nanti.
.
"Leon."
"Iya ayah," ada perasaan was-was.
__ADS_1
Leon menatap paspor dan juga beberapa koper yang sudah tersusun rapi.
"Mika akan pergi ke luar negri, untuk melanjutkan sekolahnya di sana. Dan sebenarnya mika sudah lama ingin memberi tahu mu akan hal ini, tapi ia masih memikirkan perasaanmu Leon."
DAR
Petir di sore hari begitu menggelegar, seperti suasana hatinya.
LDR yang tidak pernah di harapkan datang.
"Ayah, kenapa mendadak. Apa tidak bisa di bicarakan dulu baik dengan baik-baik, sekarang aku adalah suaminya ayah," kecewa.
Atom melihat Leon begitu sangat kecewa ia merasa sedih sekali, bagaimana jika dirinya lah yang berada di posisi Leon. Pasti amarah dan kecewa dengan keputusan orang yang paling di sayang dan cintai membuat keputusan secara sepihak.
Mika yang sedari tadi mendengar pembicaraan antara ayahnya dan suaminya bingung, ia ingin mengejar cita-citanya tapi di sisi lain Leon sahabatnya juga terpenting dalam hatinya.
"Maaf Leon," ucapnya lirih.
Ia sangat sedih bahkan teramat sedih, nanti saat ayahnya ingin makan siapa yang akan memasakkan makanan, jika ayahnya ingin membeli sesuatu siapa yang membelikan nya. Tapi, sekarang ada Leon pasti Leon bisa membantu ayahnya yang sekarang menjadi ayahnya Leon juga.
"Setidaknya kamu yang bisa gue percaya sekarang Leon. Gue mohon, gue titip ayah." Berlalu pergi ketika selesai berbicara dengan dirinya sendiri.
Leon tau jika Mika sadari tadi mendengar pembicaraan, jarak antara dapur dan ruang tengah untuk menonton televisi tidak terlalu jauh.
'Mika, kenapa lo buat keputusan begini. Apa gue gak pantas lo ajak bicara baik-baik dulu, kenapa lo harus gini.' Leon merasa Mika sangat-sangat tidak berperasaan dengan dirinya.
Malam harinya.
"Ini untuk lo Leon." Memberikan sebuah kotak pada Leon.
Kotak apa itu, yang tadi saja belum Leon kasihkan sebab Mika menuduh yang macam-macam meski benar ada satu obat terlarang yang ia beli.
"Untuk apa?" berusaha bersikap baik-baik saja.
"Buka aja dulu!" Mika menatap cemas.
Hari ini hari dimana Mika memutuskan untuk pergi atau tidak.
"Pada akhirnya, lo tetap milih pergi dari gue Mika. Lo tega, lo gak ngerti perasaan gue."
Membuang kotak itu.
Ternyata isinya adalah sebuah surat, yang sudah lama Mika tulis untuk Leon.
BUG
PYAR
__ADS_1
"Gue benci lo Mika, kenapa lo mutusin ini sendirian semua sejak lama."
Leon menghantam kaca yang berada di kamar Mika sampai semua kaca berserakan di lantai. Ia tidak peduli jika kaca-kaca itu akan mengenai kakinya, hatinya sangat sakit.
"Yah."
"Iya nak," Atom menyeka sudut matanya.
"Ayah menangis gara-gara Mika, maaf yah."
Atom mengacak-acak rambut putrinya.
"Tidak, hanya saja kalau ayah rindu bagaimana Mika. Jauh jarak antara Indonesia ke Amerika, kenapa kamu mengambil beasiswa itu Mika. Ayah tau, ini cita-cita kamu. Tapi ... apa kamu yakin hidup dalam kesendirian di luaran sana?"
Atom bangga namun tidak rela.
Seorang ayah ataupun ibu akan hawatir jika anaknya jauh darinya, tapi itu semua demi cita-cita yang ingin ia gapai. Tapi, di sisi lain sekarang Mika bukan hanya miliknya tapi milik anak menantunya.
Mika mengangguk.
Leon yang berada di luar kamar mertuanya meneteskan air mata. Nyatanya kehadiran dirinya tidak bisa merubah apa-apa, Mika tetap pada pendiriannya.
1 minggu lagi ia akan terbang ke sana.
"Leon."
"Gue, dukung keputusan lo Mika. Maaf jika kehadiran gue membuat lo jadi bimbang, pergilah. Gue ikhlas, gue ridho" bertahan.
Padahal ia ingin menangis.
Sudah berusaha untuk mencegah, tapi gak bisa.
"Jika lo gak ngizinin gue, gak apa-apa Leon. Lagian sekarang lo suami gue, setiap perkataan yang keluar dari mulut lo itu panutan yang harus gue jalanin."
Kata-kata yang sedari tadi Leon tunggu keluar dari mulut Mika, jika sudah bicara begini Mika artinya sudah pasrah.
'Tapi, ini cita-citanya. Gak mungkin juga gue bersikap egois, lagian ia akan setia padaku begitu juga sebaliknya. Gue harus percaya itu, Mika ... baiklah gue akan benar-benar rela lo pergi mengejar cita-cita lo untuk menjadi pengacara hebat. Gue janji, di sini gue akan semaksimal mungkin berusaha dengan kaki dan tangan gue. Demi lo'
"Kejarlah cita-cita mu sayang." Meraih tengkuk Mika dan mencium dahi mika lama sekali.
Mika meneteskan air mata.
1 minggu lagi dirinya akan berangkat ke bandara menuju ke mana ia akan berjauhan dengan sahabatnya, sahabat seumur hidupnya. Tidak hanya sebagai sahabat bisa, melainkan luar biasa, semua patut di syukuri dengan adanya sebuah takdir.
.
Emak mohon🙏
__ADS_1
Untuk dukungannya, tetap up meski lambat.
Terimakasih sudah singgah 🥰