Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Gara-gara obat perang sang lagi


__ADS_3

"Lo meragukan gue Mika?"


Mika mengangguk.


"Beneran lo gak percaya sama gue jika gue masih perjaka sampai sekarang ?" tanya lagi.


"Ya gak percaya lah. Jika, hobi lo aja beli barang terlarang. Gak cuma sekali lo beli ini, pasti dulu lo juga pernah beli kan." Memalingkan wajahnya.


Pembicaraan dari detik per detik mulai memanas.


"Gue berani sumpah mika, gue gak pernah pakai benda itu buat macam-macam "


"Alasan," melipat kedua tangannya di depan perut. "Gak macam-macam ko' pernah bilang, Biar lo makin bergairah di hadapan gue," cibirnya pada Leon.


"Beneran Mika Riana, gue baru beli juga gara-gara lo juga."


Kenyataan nya memang begitu, apa adanya. Hanya saja .... Mata Mika membelalak tidak percaya, dirinya penyebabnya. Memang ya laki-laki, kalau ada apa-apa pasti perempuan yang di salahkan atas apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Padahal dia gak sadar sumber masalahnya bukan dari orang lain, melainkan hati dan pikirannya yang menyebabkan orang lagi merugi.


Mika menggeleng keras, mana mungkin gara-gara dirinya. Pihak perempuan belum tentu salah, kenapa jika ada masalah selalu perempuan. Bukannya lebih baik instrospeksi diri dahulu sebelum menyalakan orang lain.


"Lo nyalain gue Leon?" menunjuk dirinya sendiri.


"Gue gak bermaksud gitu Mika, sorry! sorry banget Mika Riana, gue gak ada maksud ataupun niat membuat lo merasa bersalah gini!" jawabnya terdengar percuma.


Laki-laki ini sudah sering melukai hatinya.


Mika beranjak pergi, acara barusan merusak moodnya. Padahal niatnya ingin mentraktir Leon makan siang setengah sore tapi apa daya partner yang sedang ia ajak makan siang bikin emosi mendidih.


Suami macam apa ini, menuduh dan menyalakan semua atas apa yang terjadi pada dirinya.


"MIKA."


"MIKA," panggil nya tidak di gubris sama sekali oleh Mika Riana.


Terlanjur kesal sih sampai ke ubun-ubun.


"ADA APA SIH?" menatap kesal.


"Siapa yang bayar, gue gak bawa uang dan dompet ketinggalan di kamar tadi!" lesu dan memelas. "Mika, ku mohon," cicitnya lirih.


Mika sebal dengan wajah ini, wajah yang selalu imut saat memohon.


"Iya ... iya ... gue yang bakalan bayarin itu semua, puas lo," berjalan sambil menggerutu. "Dasar laki-laki kere." Cicit nya pelan.


Leon mendengar cicit Mika.

__ADS_1


"Mika, coba ulangi kata-kata barusan yang kamu ucapkan."


"Tidak,"


"Ulangi, enggak." Sedikit ada paksaan.


"Enggak," menjulurkan lidahnya.


Mika terburu-buru membayar di kasir sampai dirinya tidak sadar ada seorang laki-laki yang sedang mengantri juga.


BRUGH


"Hati-hati dik."


Seorang pria tampan dengan sejuta pesona sedang tersenyum di depan Mika, Mika terpesona. Baru kali ini ia melihat secara langsung pria tampan seperti yang ada di film-film terkenal dunia.


'Oh ... Tuhan, ganteng banget. Apa gue masih di dunia atau sudah ke surga ?' ternganga.


Leon bibirnya mengerucut sebal, lihat yang bening cakep mata langsung berubah banyak cinta. Tapi, saat bersama dengan dirinya saja gak pernah tuh sesekali begitu terpesona.


Kalau di sejajarkan sama ko tampannya, cuma pria itu versi laki-laki dewasa dan mapan. Berbeda dengan dirinya yang masih dalam proses dewasa, maka dari itu ia memberanikan membeli obat terlarang itu.


(Tidak untuk di contoh loh ya, kelakuan Leon yang minusnya gak ke hitung)


'Gue juga cakep kali, buktinya banyak noh cewek-cewek di luaran sana pengen gue ajak kencan bahkan ada beberapa yang ngajak gue ke hotel maupun ke villa dan apartemen pribadinya, tapi ... gue tolak sebab gue maunya Mika gak ada yang lain.'


"Nih lap iler lo, orangnya sampai pergi juga. Mau lo kejar, tapi jangan nyuruh gue untuk kejar tuh orang. Yang ada gue di kira main pisang"


Mika tersadar dan langsung menyekanya.


"Siapa juga nyuruh lo, satu aja gue udah di bikin pusing naik darah sampai ke genteng tetangga, mau tambah lagi. Apa jadinya gue, bukannya gue bisa terbang sampai ke bulan sebab kepala pusing " Mika memasukkan dompetnya ke dalam tas kecil.


'Apa? Mika barusan bilang apa. Oh ... my God, mimpi apa gue semalem. Mika bakalan jadiin gue satu-satunya yang ada di hatinya.' Jingkrak-jingkrak kegirangan.


Mika menatap Leon tajam.


'Nih, orang masih waras kan. Gak mungkin kan suami dadakan gue yang notabenenya sahabat gue gila gara-gara gak mampu bayar makanan barusan dengan alasan dompet nya ketinggalan ?' Mika merasakan keanehan dengan sikap Leon.


Mika menyilangkan kedua tangannya dan bibir maju 2 centimeter.


"Butuh kuncir ?" memberikan karet gelang pada Mika.


Karet gelang berwarna merah dan hitam yang selalu ia bawa untuk berjaga-jaga sebab Mika selalu lupa mengikat rambutnya, wajah cantiknya akan tertutupi dengan gerai an rambut indahnya.


"Enggak, buat apa juga benda itu. Apa lo gak lihat rambut gue setengah di sanggul begini."

__ADS_1


"Ya ... , gue lihat sih Mika. Tapi lo sadar gak sih jika ada yang lain juga yang perlu lo kuncir," menunjuk bibir Mika.


Mika melirik Leon.


"Apaan sih, yang ada tuh lo yang perlu gue kuncir dan terimakasih untuk karet gelangnya, ini yang pas untuk lo aja." Mika merebutnya dan langsung mengikat rambut Leon yang bisa di kuncir ke atas.


Deg


Deg


Deg


Jantung Leon berdegup kencang saat wajah Mika begitu dekat dengan dirinya.


Rasanya sudah habis kesabarannya, ia ingin sekali Mika menjadi seutuhnya tanpa ada orang lain yang ikut campur.


'Baiklah Mika, jangan salahkan gue kalau lo bakalan gue terkam. Cepat atau lambat, gue pastikan itu'


Mika yang sudah selesai menguncir rambut Leon,menjauh dari Leon.


Tidak tau kenapa, setiap berada di dekat leon sepertinya dirinya akan di terkam hidup-hidup.


.


.


"Leon, kenapa kita kesini. Jangan-jangan lo mau."


"Hus... sudah terlanjur di pesan, sayang jika di cancel kasian kurir nya," Leon sudah menghentikan laju mobilnya.


"Tapi, Leon. LEON." Mika berteriak tapi Leon sudah bergegas keluar dari mobil.


Mika tidak berani mengejar, akan banyak orang yang melihat di tambah lagi kebaya modern masih berbalut di tubuhnya.


"Sialan Leon ini, selalu buat gue emosi."


Mika akan membuat perhitungan nanti pada Leon, lancang dan berani sekali laki-laki yang sekarang menjadi suaminya membeli barang-barang begitu, apa gak bisa tanpa itu.


Leon masih berbincang-bincang dengan seseorang yang tidak di kenali oleh Mika.


"Lama banget Leon, ngomongin apa sih? bikin penasaran gue aja."


Leon sumringah.


"Yes,dapat barangnya." Meletakkan nya di kursi belakang.

__ADS_1


Mika kepo melirik dari spion, tapi percuma paket itu terbungkus rapi bahkan tidak bisa di prediksi isinya apa.


Jika bubuk putih rasanya tidak mungkin di bungkus segitu besarnya, hampir mirip seperti kotak baju atau apalah itu namanya.


__ADS_2