
"Baiklah, lihat besok saja papa. Jika papa tidak berbuat macam-macam pada istri dan anak-anak Leon, maka Leon mau ke kantor dan aku hanya ingin lihat keadaannya baik-baik saja dan dalam keadaan sehat." Tegasnya terhadap sang papa.
Seno mengerutkan dahinya, keadaan ... sepertinya pertanyaan yang sangat menggelikan sekali. Jangankan keadaan, sekarang mereka ada dimana saja tidak ia ketahui tempatnya. Seorang mata-mata Seno mengirimkan sebuah file, sepertinya sudah ada setitik kejelasan tentang keberadaan Atom dan Mika.
Seno melihat video serta beberapa bukti foto, matanya melebar sedikit namun ia kontrol agar Leon tidak curiga dengan apa yang ia lihat, oh ... ternyata sesuatu hal yang sudah terencana kini berjalan sesuai rencana.
'Waw ... berita menarik aku suka, lagi pula kalian memang pantas mendapatkannya. Semoga saja berhasil membuat putrimu tidak mengingat putraku untuk selama-lamanya, cih ... kenapa dulu aku begitu kagum pada gadis yang memiliki darah dari wanita murahan itu.' Sungguh kecewa saat mengetahui ibunya pekerjaan siang malam open b o.
"Gampang saja, asalkan kamu mau menjadi pewaris keluarga KHAREL dan tidak lupa kamu harus segera ke pengadilan agama Leon." Tanpa basa-basi Seno meminta sang putra untuk bercerai dari istrinya.
"Apa papa gak suka aku hidup bahagia makanya papa mengusik kami terus menerus, papa sebenarnya iri bukan dengan kebahagiaan orang lain yang mereka bangun atas dasar saling percaya satu sama lain?" dengan senyum mengejek.
"Tentu saja, jelas-jelas papa tidak suka kamu memiliki hubungan dengan wanita yang memiliki darah dari wanita panggilan, papa malu dong jika sampai ada yang tau jika menantu yang telah melahirkan kedua cucu keluarga Kharel ternyata memiliki garis darah murahan!" jawabnya menghina orang lain.
Leon tidak habis pikir ia geleng-geleng kepala, dulu suka dan bersih kukuh untuk menjadikannya sebagai menantu, kini entah setan dari mana yang menghasut papanya untuk berbicara seburuk itu tentang orang lain.
"Tapi Mika terlahir sebelum ibunya jadi wanita panggilan bukan, bukannya Mika di sini tidak salah pa. Papa jangan mengada-ada kan pembicaraan yang bertujuan memfitnah orang lain pa, walau bagaimanapun ibunya Mika juga ibu Leon pa dan beliau besan papa juga." Leon berusaha menengahi pertikaian antara para orang tua.
Seno memalingkan wajahnya.
"Benar kata orang, air susu di balas air tuba. Tidak apa-apa jika itu kemauan kamu Leon ataupun ada orang lain yang bersiasat serta menghasut kamu untuk memutuskan tali darah keluarga kita, itu semua terserah kamu Leon. Papa mau kamu segera ke pengadilan dan jangan lupa papa ada kenalan baru untuk kamu Leon, dia gadis baik dan cerdas," Seno beranjak pergi.
"Jangan pernah membahas sesuatu yang tidak pernah bisa papa beli saat itu, ingat pa Leon sejak kecil siapa yang terjun langsung merawat Leon sampai Leon tumbuh besar. Leon tidak akan pergi ke pengadilan pa sampai kapanpun itu pa, terserah papa mau berbicara apa. Leon akan tetap pada pendirian Leon dan hanya Mika yang berhak singgah dan bertahta di hati serta pikiran Leon dan anak-anak." Tolaknya tegas.
'Leon, aku harap kamu tidak pernah menyesali perkataan mu, papa akan berusaha semaksimal mungkin untuk memisahkan kalian tanpa kalian sadari, lagi pula saat ini tidak ada yang bisa di perbaiki.' Dalam hati ia bahagia sekali.
Hanya saja Seno belum tau keadaan Atom dan Mika di luar kota, hanya informasi tentang kecelakaan mereka yang ia dapatkan.
__ADS_1
Mika masih terlihat enggan untuk membuka matanya, ia masih betah dalam alam bawah sadarnya.
"Tuan muda Nathan."
"Ada apa om Omar?" malas berdebat.
"Sudah sampai tuan muda, apa perlu saya izin ke kepala sekolah hari ini tuan muda?"
"Tidak perlu, saya akan masuk kelas hari ini meski saya akui pelajaran pagi ini sangat membosankan!" mengangkat tangannya agar Omar tidak mengikutinya lagi.
Selama ini hidupnya cukup tertekan saat para pengawal mengikutinya kemana-mana dan ia kesulitan mendapatkan sahabat yang tulus dan baik.
'Benar, sepertinya tuan muda tidak bisa lepas dari pesona nona Xia. Waw ... selamat nona Xia anda benar-benar hebat membuat tuan muda kami merasakan sesak dadanya sebab pesona anda nona. Meski saya sudah tua tapi saya pernah muda dan merasakan indahnya cinta monyet masa muda, uh ... rasanya ingin kembali ke masa-masa muda dulu saat pertama kalinya bertemu dengan Alya istriku yang paling cantik.' Dalam hati berbahagia.
Ternyata Nathan belum beranjak dari tempatnya.
Omar mengangguk cepat, bonus bulanan dan mingguan yang paling penting.
"Tidak ada tuan muda, beneran tidak ada!" gelagapan bingung harus buat alasan apa.
"Yakin? bonus hangus loh jika tidak jujur." Sedikit mengancam.
"Maafkan saya tuan muda, saya hanya berpikir sepertinya anda sedang menyukai seseorang tuan muda," wajah pucat pasi, ia menggigit bibir bawahnya berharap emosi tuan mudanya mereda.
Nathan mengerutkan alisnya.
"Benarkah begitu?"
__ADS_1
"Sepertinya begitu tuan muda, ee ... he ... he ...," sambil menggaruk rambut di kepalanya.
"Apa segitu jelasnya." Wajah Nathan memerah.
Omar baru kali ini melihat wajah tuan mudanya merona, wah ... ternyata benar tapi jika nanti nona Xia yang sedang di kagumi memiliki ingatan tentang masa lalunya pasti Nathan akan patah hati.
Dengan hati yang berbunga-bunga Nathan mulai masuk melangkahkan kakinya ke halaman sekolah lalu menuju ke halaman sekolah, banyak siswa siswi yang menatap Nathan dengan tatapan kagum.
"Cih ... anak orang kaya begitu saja sok sombong." Ucap salah seorang siswi di kelas sebelah, maksudnya di kelas paling terakhir di kelas yaitu kelas k.
Nathan langsung menatap tajam ke arah siswi yang barusan mengatakan dirinya sombong, ia mendekati gadis itu dengan cepat.
"Hey ... kamu pikir kamu siapa, jangan harap ya jika suatu hari nanti salah satu anggota keluarga lo bisa masuk ke rumah sakit Keluarga gue."
"Gak akan datang juga, rumah sakit yang kerjaannya mencekik leher rakyat kecil buat apa, lebih baik banyak-banyak taubat deh lo sebelum kena karma sebab lo sombong sana sini," beranjak pergi.
"Dasar gadis cupu. Kalah cantik dengan kakak Xia ku." Ejek Nathan pada gadis itu.
Ia terdiam sebentar sebelum melanjutkan langkah kakinya.
'Dasar anak orang kaya seenak jidatnya menghina orang miskin.' Mengepalkan tangannya.
.
Beberapa suster dan Dokter sekarang mengecek keadaan Mika, apakah ada kemajuan dengan pasien yang di bawa kemari oleh tuan muda Nathan.
"Bagaimana sus?" tanya Dokter Ian.
__ADS_1
"Belum ada kemajuan Dok, hasilnya masih sama!" jawab suster yang baru saja membuka surat laporan harian pasien.