Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Hari yang paling indah


__ADS_3

Mika dan Leon saling menatap langit, atap rumah mereka transparan sebagian untuk menerangi siang hari dan malam nya untuk di nikmati indahnya jutaan bintang serta planet dan bulan, bila tepat bulan di atas atap rumah.


"Kamu suka?" Leon menata ke Mika.


Mika mengangguk. "Iya, suka Leon !"


"Mika."


"Hem, ada apa ?" menatap wajah Leon.


Mereka saling menatap dan larut dalam lamunan.


Cup


Suara bibir mereka saling bersahutan, begitu ahli dan nikmat. Tapi kejadian ini hanya sekali saat mereka sama-sama sadar jika sekarang sudah lebih dari cukup.


"Huh ...."


"Huh ...."


Mengatur nafas masing-masing.


"Manis." Leon mengusap bibirnya yang basah.


"Milik lo juga, rasa kopi,"


Sebelum mereka tertawa kembali, bahagia rasanya hidup seperti ini. Tapi, tidak mungkin mereka akan terus menerus ketergantungan pada orang tua.


"Leon, gimana kalau kita kerja part time ?"


"Ide yang bagus, tapi kira-kira enaknya kerja apa ya?"


"Kita cari kerjaan besok gimana, keliling sekitar kampus sampai rumah !" saran dari Mika.


"Oke juga saran lo, tapi kalau papa dan ayah tau gimana."


"Ya, gak usah di kasih tau. Kita berkerja untuk kepentingan kita juga, gak aneh-aneh juga. Buat apa takut, toh pekerjaan yang kita cari yang halal bukan haram,"


"Iya juga sih, uh ... istri ku memang pintar luar biasa dan bijaksana."


CUP


Meraih tubuh Mika dan mencium kuat-kuat pipi Mika.


.


BEBERAPA BULAN BERLALU


Hari ini hari pertama musim salju dan salju pertama yang Mika lihat selama ia tinggal di negara asing, sebelum mengenal tetangga yang ternyata baik juga.


"Salju?"


"Kamu suka?" menggenggam tangan Mika.


Tangan mereka saling bertautan, lupa mengenakan sarung tangan jika bulan ini sudah mulai masuk musim salju.


"Iya, ini salju pertama kali yang pernah gue lihat Leon. Dingin!" mulai menggigil.


"Masuk yuk, kalau nanti mau lihat lagi setelah menghangatkan tubuh dulu."

__ADS_1


"Maksudnya ?"


"Ayo, sini," tidak peduli ocehan Mika.


Sudah beberapa kali Leon sukses membuat bajunya tidak berada di tempatnya, tapi belum juga sampai pada inti permainan.


"Aku buat perapian dulu, oke." Mika yang masih kedinginan menyetel penghangat ruangan.


"Iya," sambil menggosok-gosok telapak tangannya yang dingin.


"Dingin banget ya?"


"Lumayan iya, bikin gue ... eh aku kedinginan sedikit sih !"


"Ya sudah, kamu duduk aja di situ. Aku bikinin susu panas."


Perhatian sekali Leon, betapa cinta luar biasanya terhadap Mika. Mika yang sudah terbuai akan perhatian dan cinta leon sudah terkena sindrom budak cinta.


"Sudah siap, ini." Jarak antara lemari pendingin dan tempat untuk menghangatkan susu sangat dekat.


Mika menerima gelas itu dan meminumnya secara perlahan, nikmat dan enak rasanya. Ia meletakkan gelas itu di atas meja kecil dekat lampu tempatnya beristirahat sambil menikmati hangatnya perapian. Leon juga sama ia menikmati segelas susu itu secara perlahan-lahan sambil menatap setiap gerak lekuk tubuh Mika.


'Uh ... kenapa lagi, kemarin gagal apakah hari ini lagi-lagi gagal?' tanya dalam hati.


Leon meraih tengkuk Mika.


"Leon."


"Mika,"


lagi dan lagi suara bibir itu saling bersahutan untuk yang kesekian kalinya, entah sudah berapa yang jelas sudah puluhan bahkan sampai ratusan lebih.


"Em ... "


"Tidak, lanjutkan aku suka leon!" cicitnya.


Setiap tindakan Leon begitu mendominasi, mika suka dengan kegiatannya ini sekarang. Setidaknya bisa melepas stres berat saat ia di sibukkan dengan kerja part time dan juga tugas kuliahnya yang ternyata menguras waktu juga.


Mika berencana mengambil jurusan ini secara cepat, ia ingin kembali ke Indonesia begitu juga dengan Leon. Leon harus pontang-panting mengejar Mika juga, padahal tanpa mengejar Mika saja dirinya bisa sejajar bahkan melebihi Mika.


Hanya saja ia ingin melihat wanita yang paling ia cintai selain almarhum mamanya bahagia, walaupun seorang anak laki-laki harus mengutamakan kedua orang tuanya terutama ibu lalu ayah kemudian istrinya.


SRET


Mereka berdua sudah dalam kehidupan mereka hanya mereka yang menikmati keindahan yang hakiki dan halal itu.


"Leon." Mata Mika berkaca-kaca saat Leon menyentuh intinya dengan jari jemari lentiknya.


"Kamu beneran siap Mika?" sekali lagi Leon bertanya.


Hanya anggukan yang Mika tunjukkan, sensasi luar biasa yang ia rasakan sehingga mulutnya tidak mampu untuk berbicara lagi.


"Aku mulai ya."


Pelan-pelan Leon memasukkan itu.


"Sa ... kit, Leon."


Rintihan Mika membuat Leon menghentikan kegiatannya, ia tatap miliknya yang masih sedikit yang masuk baru ujungnya.

__ADS_1


Leon tidak hilang akal masih terjerat has rat terdalam.


"Aku usahakan tidak akan sakit lagi, aku akan pelan-pelan oke,"


Leon terus masuk.


"Sakit Leon, keluar. Aku mohon, aku pukul nih milik kamu kalau gak kamu keluarin sekarang." Ancamnya.


"Mika ... tanggung, sudah setengah jalan tinggal setengahnya lagi ini," Leon tidak habis pikir segitu sakitnya kah.


Tau begini langsung main sruduk aja tadi.


"AAA."


Leon yang geram langsung memasukkan semuanya dan ia mengecup kuat bibir Mika agar istrinya itu tidak menangis lagi.


Ada sisa tetesan air mata di ujung pelupuk mata Mika.


.


.


"Maaf dan terimakasih Mika." Mencium kening, kedua mata, pipi keduanya dan bibir sekilas.


Setelah mereka sama-sama sudah selesai mandi bersama.


"Sakit tau," ketusnya.


"Masih sakit kah? bukannya tadi ada suara ah ... begitu dari ini mulut." Menyentuh bibir Mika.


"Apaan sih, jangan mengada-ada deh," elaknya membuat Leon di buat semakin gemas dengan istrinya.


"Tapi beneran kan tadi ngeluarin suara-suara syahdu, aku suka dan mau mengulanginya lagi." Niat hati ingin bercanda.


"Enggak, masih sakit nih pangkalan. Udah tau masih pertama kali, kamu main sodok gila-gilaan," bawel mulut Mika.


Meski bawel, Leon tetap suka baginya sangat imut.


"Tapi kamu juga ikut mengimbanginya tadi, jadi jangan cuma salahkan aku saja."


"Hem ...," bibir mengerucut.


Semarah-marahnya ke Leon is tidak bisa di pungkiri jika dirinya tidak ada kemampuan untuk marah sekarang, apalagi Leon sudah membuat tanda di tubuhnya.


"Cup, tanda ini adalah tanda jika kamu milik aku Mika Riana." Memberikan cu pang di bagian dada Mika.


Mika yang awalnya tidak nyaman dan asing kini sudah terbiasa.


"Bukannya tanda ini bisa hilang beberapa hari yang akan datang?"


"Iya bisa hilang, tapi aku masih bisa membuat nya kembali lagi bahkan lebih merah pekat dari sekarang!" tersenyum devil.


Mika hanya menjawab iya iya saja, semakin di tanggapi semakin melayang tubuh Leon.


Leon menatap dalam mata Mika yang jernih.


"Kamu mau gak ke salon hari ini?"


"Males gerak Leon, lihat tubuh aku ini masih sakit!" menunjukkan bagian merah merah pada Leon.

__ADS_1


"Tapi ..., baiklah padahal niatnya mau aku belikan es krim coklat yang banyak terserah mau berapa bungkus, gak masalah."


"OKE deal, ayo," sedikit meringis.


__ADS_2