Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Leon memulai rencana awal


__ADS_3

Atom menatap jam dinding yang menunjukkan pukul 10.08 WIB namun sampai siang begini Mika tidak ada tanda-tanda untuk bangun dari tidurnya.


"Sebenarnya ada apa sih dengan Mika, sudah siang begini gak bangun-bangun juga ?" bergegas kembali ke kamar putrinya.


Hendak menuju ke kamar Mika namun suara gaduh kedua cucu kembarnya membuat Atom mengurungkan niatnya untuk membangunkan sang putri.


"Haduh ... pusing aku."


Ada saatnya para orang tua di buat pusing oleh anak-anaknya dengan menghadirkan cucu untuk mereka.


Namun keanehan demi keanehan terjadi hingga pukul 02.05 siang, ini tidur di ambang batas orang normal pada umumnya.


"Tidak bisa," gegas nya panik menuju ke kamar Mika usai menidurkan kedua cucu kembarnya di kamar lantai bawah.


Atom menatap nanar ke arah wajah sang putri yang cantik jelita.


"Nak ... ayah harap kamu akan selalu bahagia nak, cukup ayah yang merasakan pahitnya kehidupan. Ayah bangga memiliki putri sepertimu nak." Terharu sampai tidak sadar jika air matanya kini menetes membasahi kedua pipinya.


Setelah sadar barulah ia mengusap kedua pipinya dengan baju yang ia kenakan dan kembali menampilkan wajah bahagia dengan tersenyum.


"Mika ... Mika ... bangun nak, sudah jam dua lebih nak." Menepuk lengan Mika agar ia lekas bangun dari tidurnya.


Tidak ada reaksi sama sekali dari Mika, Atom di buat bertanya-tanya dengan keadaan Mika.


"Kenapa Mika tidurnya sedikit ada yang aneh?" bertanya-tanya.


Atom mengecek denyut nadi putrinya lalu pernafasannya.


"Normal dan baik-baik saja, lantas apa yang membuat kamu tertidur sampai sekarang? apa tadi malam kamu sebenarnya melihat Leon atau Seno berada di rumah namun kamu terusir nak, apa gara-gara itu kamu memeluk ayah dengan erat tadi malam?" memperbaiki selimut Mika.


Mungkin saja gara-gara semalam tidak tidur makanya saat menjelang pagi barulah ia tenang dan bisa tidur dengan nyaman.

__ADS_1


.


Leon melempar vas bunga lagi.


PRANG.


"Dasar papa gak punya hati, apa dia gak sadar kelakuannya sudah membuat orang lain menderita." Leon benar-benar di buat kecewa dengan sikap papanya itu.


Kejadian tadi malam membuatnya kecewa berat.


"Perkenalkan ini putraku, dia masih muda dan tampan. Sebenarnya aku sudah melarangnya untuk menjadi pengacara namun apa boleh buat ia tetap bersih kukuh untuk menjadi pengacara terkenal, namun beberapa hari ini ia jadi berubah pikiran setelah tau jika ia akan di pertemukan dengan putrimu pak Angkasa." Seno seperti biasa memperkenalkan putranya yang sekarang bermain-main.


Leon tidak punya kekuatan apa-apa, ia hanya pasrah dengan keadaan untuk sementara sambil menunggu kesempatan untuk kabur saat papanya lengah. Tapi, sialnya sampai hari ini masih belum berhasil dan sulit.


Seno mendapatkan laporan dari salah satu pengawal jika putranya seperti kemarin-kemarin melempar vas bunga kembali.


"Dasar anak tidak tau diri, sudah di beri fasilitas mewah masih saja tetap tidak bersyukur. Jika bukan aku yang memberimu kebahagiaan dengan kekayaan siapa lagi, pekerjaanmu saja terkadang ada job dan tidak. Lagi pula uang yang kamu miliki hanya sedikit semenjak menikah dengan putri wanita murahan itu, ih ... sungguh mengenaskan hidupmu. Maka dari itu, aku ingin membuatmu bersinar di kalangan orang-orang terpandang di negara ini dan aku mau kamu menjadi raja bisnis." Mengepalkan tangan kanannya.


Pesan singkat itu masuk ke nomor salah satu pengawal nya.


Seno melanjutkan pekerjaannya demi uang dan bisnisnya semakin melebarkan sayapnya, produk yang di keluarkan tidak pernah main-main dan selalu jadi primadona di kalangan masyarakat baik menengah ke atas ataupun menengah kebawah.


"Apa hari ini aku lagi-lagi tidak di izinkan untuk keluar oleh papa?" tanya Leon di balik pintu kamarnya.


"Maaf tuan muda, ini perintah dari tuan besar Seno untuk tidak mengizinkan tuan muda untuk keluar ataupun jalan-jalan!" jawabnya.


Namun satu detik kemudian ia mendapat pesan singkat dari bosnya namun temannya yang mendapatkan pesan singkat tersebut.


Leon mencibir. "Dasar pengawal lemah, apa kalian semua takut di pecat atau takut dengan ancaman papa. Keluar sebentar bukan berarti akan kabur juga." Perkataan Leon sukses membuat pintu itu terbuka, tapi tentu saja tetap dari izin Seno.


"Silahkan tuan muda, tapi tetap pergerakan tuan muda harus ada kami semua," memperlihat kan puluhan pengawal yang sudah bersiap-siap.

__ADS_1


"Terserah, sekalian di borgol kembali dan di ikat dengan tali-tali itu." Leon memberikan kedua tangannya namu para pengawal itu saling menatap satu sama lain.


Dari tuan besar tidak ada perintah untuk mengikat jika sekarang mengikat kedua tangan tuan muda Leon bukannya sama dengan cari mati saja.


"Tidak tuan muda, sesuai dengan perintah kami hanya mengawasi setiap pergerakan tuan muda, untuk masalah mengikat tuan muda dan memborgol kedua tangan tuan muda itu semua sesuai dari perintah tuan besar," jawabnya dengan rasa hormat dan sopan.


Namun di telinga Leon hanya ada suara lalat yang mengerumuni makanan basi, sungguh menjijikkan sekali.


"Baguslah kalau masih tau nama pekerja dan gunanya kalian berkerja dengan papa, oh ya satu lagi aku punya satu permintaan." Dengan seribu ide yang bermunculan semoga saja bisa berjalan dengan lancar.


Rasa rindu ini terpendam pada Mika dan kedua anaknya, semoga Mika masih di rumah ayah Atom dan tidak pulang. Saat berjalan-jalan di taman ia berpikir sambil menatap kesana-kemari sambil mencari celah yang ada.


'Sial, sama sekali tidak ada celah. Bagaimana caranya aku kabur dari rumah ini untuk menemui Mika sebentar?' menggigit bibir bawahnya.


Mata Leon tidak lepas dari pandangan rumah bertingkat satu sederhana, rumah yang selalu membuatnya nyaman ketika pulang dari pada di rumah papanya sediri.


"Andai aku ada kesempatan ke rumah ayah Atom." Bergumam.


Pengawal yang berada di sekitaran rumah menata Leon secara seksama.


"Tuan muda, anda ingin pergi kemana?" tanya salah satu dari mereka.


"Tidak ada, oh ya aku mau ke dapur apa kalian ingin minum sesuatu?" tanya Leon sambil memperlihatkan senyum termanisnya.


Pengawal-pengawal itu saling menatap satu sama lain, sedikit curiga namun segera di tepis. Bukannya tuan besarnya bilang bahawa putranya sangat lemah dan tidak bisa apa-apa bahkan bela diri saja tidak bisa.


"Boleh tuan muda, tapi ... kami takut tuan besar akan memarahi kami semua!" jawabnya tertunduk.


"Tidak perlu memberitahu papa, lagian minuman yang aku buat dari jus buah bukan soda maupun alkohol." Membalikkan badannya sambil tersenyum devil.


'Dasar kalian punya otak tapi lupa di letakkan di kepala, apa mungkin aku akan memberikan jus cuma-cuma,' menuju ke dapur sambil bernyanyi ringan.

__ADS_1


__ADS_2