Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Mika tidak baik-baik saja


__ADS_3

Leon mencari obat pencahar, seingatnya pernah melihat pembantu rumah membeli obat pencahar untuk keperluannya beberapa bulan yang lalu, semoga masih ada dan bisa di gunakan jika sudah kadaluarsa ya itu derita mereka semua salahnya mau-maunya percaya pada Seno papanya.


"Kalian semua sedikit menjauh dariku, bisa-bisa nanti jus buah yang aku buat rasanya jadi pahit bahkan asin." Harus memuluskan rencananya perlahan-lahan.


'Jangan salahkan aku jika perut kalian melilit, lagian jadi bawahan ko nurut banget dengan orang yang memiliki siasat licik untuk menghancurkan kebahagiaan.'


Mencari-cari obat tersebut setelah ketemu barulah Leon tersenyum licik dan wajahnya sedikit suram.


'Ck ... kenapa tidak kadaluarsa sih obatnya, lagian nanggung jika tidak kadaluarsa. Gak seru.' Pada akhirnya ide terpendamnya berjalan lancar.


"Tuan muda, itu apa?" tanya sang pengawal sambil menunjuk benda kecil yang di pegang oleh Leon.


"Oh ini, bukan apa-apa. Aku sedang membutuhkan obat ini, akhir-akhir ini kepalaku sedikit pusing jadi butuh obat seperti jamu cair ini untuk di campurkan dengan teh!" jawabnya berbohong.


Mereka hanya mengangguk-angguk.


'Aku sudah selesai membuat ini, semoga mereka meminumnya. Capek juga membuat beberapa jus ini, lagian buat apa pengawal begitu banyak. Buang-buang uang dan juga buang-buang waktu setiap saat harus tau pergerakan orang yang dia sekap.' Leon tersenyum miring.


Semua pengawal satu persatu meminum jus itu, reaksinya tidak sama ada yang langsung ada juga yang perlu waktu beberapa menit dan detik dari waktu yang di perkirakan.


"Tuan muda Leon, maaf sebelumnya. Saya minta izin dulu tuan muda." Sambil memegang perutnya yang mulai bergejolak.


Leon menutup mulutnya dan menahan tawanya agar tidak ketahuan jika dirinya membuat jus rasa pencahar.


'Aa ... ha ... ha ... nikmati saja hidup kalian satu persatu, lagian siapa suruh mau jadi pengawal yang kerjaannya cuma mengawasi ku saja. Aku juga butuh privasi, emang gue pikirin nasib kalian yang akan ke toilet berkali-kali. Demi Mika dan bisa bertemu anak-anak," semangat sambil mengepalkan tangan kanannya ke atas.


.

__ADS_1


Atom kembali masuk ke dalam kamar Mika, perasaannya jadi resah tidak karu-karuan saat kedua cucunya terus menangis sambil memanggil-manggil mamanya.


"Ya Allah Mika, bangun nak." Kembali mengguncang tubuh sang putri.


Namun rasanya seperti sia-sia saja, sudah berkali-kali Mika di bangunkan namun tidak kunjung bangun juga dari tidur lelapnya. Berkali-kali Atom melihat jam dinding yang kian semakin senja dan masuk malam, perasannya menjadi sedih melihat sang putri masih tertidur.


"Mika."


Satu tetes air matanya jatuh.


Ia mencari nomor yang bisa ia hubungi, tidak mungkin ia menghubungi Leon apalagi Seno yang tidak mungkin memberi solusi justru Seno akan tertawa sangat kencang saat tau putrinya dalam keadaan begini, tidak ingin berpikiran yang tidak-tidak terhadap sahabat baik(dulu) sekaligus besannya.


Setelah memanggil salah satu bidan setempat kini bidan tersebut mencoba menelpon Dokter spesialis saraf untuk melihat gejala yang dialami pasiennya.


Dokter pun segera datang setelah mendengar jika ada pasien yang mengalami hal aneh bahkan, sebenarnya tidak aneh namun dari perkataan bidan tersebut membuat sang Dokter bertanya-tanya apakah pasien pernah kecelakaan, maka dari itu Dokter pun memeriksa riwayat keseharian Mika.


Dokter dan Bidan tersebut saling menatap. Lalu Dokter menjelaskan beberapa penyebab dari sindrom putri tidur atau Sindrom Kleine-Levin (KLS) adalah gangguan langka yang menyebabkan periode kantuk berlebihan secara berulang, tidak hanya dalam dongeng saja ternyata kondisi tidur berkepanjangan seperti Aurora Si Putri Tidur ternyata memang ada di dunia nyata. Biasanya penderita sindrom putri tidur ini dapat tidur hingga 20 jam sehari selama beberapa hari hingga berbulan-bulan.


Penyebab dari sindrom ini kemungkinan dari adanya gangguan di beberapa bagian otak, tepatnya Hipotalamus dan Talamus yang berperan dalam mengatur nafsu makan, pola tidur, dan suhu tubuh. Selain yang di percayai dari adanya faktor keturunan atau genetic dan penyakit autoimun. (copas Google untuk tambah ilmu, tapi sudah di rombak serapi mungkin).


Atom tentu saja shock dengan apa yang baru saja ia dengar dari Dokter, ternyata putrinya mengalami hal yang seharusnya tidak ia alami.


"Terimakasih bu bidan dan bu Dokter sudah memeriksa putri saya, terimakasih banyak sudah berkenan kemari membantu saya." Mengantar sampai di luar pintu bahkan setelah kendaraan mereka hilang dari pandangannya. Mereka berdua tersenyum dan mengangguk.


Atom menutup pintu rumahnya usai mengantar tamunya lalu ia kembali ke kamar cucunya dulu, lalu ke kamar Mika.


'Nak ... kamu harus segera bangun nak, apa perlu ayah berbicara langsung pada Seno agar dia memberitahu tetang Leon sekarang ada dimana?' sudah tidak punya cara namun perasaan was-was dan ketakutannya sirna sementara saat ada seseorang yang mengetuk pintu rumahnya.

__ADS_1


"Siapa yang mengetuk pintu, bukannya barusan aku mengantar Bidan dan Dokter keluar dari rumah?" bertanya pada diri sendiri sambil melihat situasi rumahnya sendiri.


Atom bergegas menuju ke ruang tamu untuk membuka pintu siapa yang datang kemari, setelah memastikan tidak ada yang mencurigakan barulah Atom membuka pintu tersebut, di terasnya menang belum ada penerangan lampu maka dari itu Atom saat malam-malam begini ia selalu waspada.


Ceklek.


"Leon." Saking terkejutnya sampai mulut terbuka lebar.


"Ayah," mencium punggung tangan mertuanya.


Ada rasa haru, sedih dan senang bercampur aduk. Yang jelas masih terkejut di mimik wajahnya yang sudah menua, ia terus mengangguk-angguk kan kepalanya menahan air mata yang hendak jatuh.


"Leon, beberapa hari ini kamu ada dimana. Apakah kamu tau Mika terus mencarimu dan membutuhkan kamu ada di sampingnya Leon." Sambil mencengkram kedua lengan atas Leon lalu memeluknya sebagai wujud rasa rindunya terhadap Leon dan menatap dari atas sampai bawah apakah Leon baik-baik saja sampai detik ini.


"Iya ayah maafkan Leon ayah, Leon hanya bisa sebentar saja ayah. Mika mana yah?" mendengar suara tangis salah satu bayi kembarnya.


"Banyak pertanyaan yang ingin ayah tanyakan sebagai ayah Leon, tapi sebelum itu ayah akan memberi tau kamu satu hal Leon!" jawaban Atom dengan raut wajah sedih dan terluka.


Leon dapat menangkap ekspresi wajah sang mertua.


"Ayah ..., sebenarnya ada apa yah?" mulai takut terjadi suatu hal yang tidak-tidak terhadap istrinya maupun anak-anaknya.


Atom menatap nanar wajah Leon yang sudah di anggap putranya sejak bayi.


"Mika sedang tidak baik-baik saja Leon, dia ..." Menggantung ucapannya.


"Ada apa dengan Mika ayah, Mika tidak kenapa-kenapa kan yah?" air mata Leon mulai menumpuk di pelupuk matanya.

__ADS_1


Ia merasa menjadi suami tergagal dalam hidupnya jika istrinya terjadi apa-apa.


__ADS_2