
Mika sedang bergelut dengan kegiatannya setelah selesai berdebat adu mulut dengan Leon. Untuk Leon sekarang ia berada di rumah papanya dan mengenakan jas nya.
"Wih ... Gantengnya anak papa." Puji Seno pada Leon.
"Ganteng doang percuma pa, jika hati wanita yang satu itu sulit Leon dapatkan. Papa boleh bilang ganteng ke Leon, kalau Mika jatuh cinta dan sayangnya hanya untuk Leon seorang," sebal pagi-pagi moodnya di goda begini.
Sudah tadi berdebat dengan Mika, sekarang malah di tambah ulah papanya yang menjemput paksa tadi untuk masuk ke kantor.
"Ya ampun ... Yang lagi jadi budak cinta bucin nya, ciye ... ciye ... kasmaran tapi belum kesampaian. Sabar son ... son..., semua butuh perjuangan dan ketekadan," menepuk-nepuk pundak Leon.
Leon kesal di goda papanya, senang sekali papanya itu bercanda. Padahal ini masalah serius bahkan gawat darurat.
"Iya, butuh perjuangan. Bahkan emergensi sekarang, sakit nih ... pah, sakit ..." menyentuh dadanya bagian tengah.
Seno begidik ngeri, segitu budak cinta nya anak muda jaman sekarang. Untung jamannya dulu gak begini amat, gak parah-parah amat. Kalau suka tinggal bilang dan terus saja kasih hadiah dan surat cinta, pasti bisa kelepek-kelepek dianya.
.
1 minggu bukanlah waktu yang lama, hari ini Mika benar-benar pergi dan berangkat ke sana untuk mengejar semua impiannya.
"Bagaimana dengan gue?" Leon bertanya pada diri sendiri.
Mika menatap Leon sebelum ia peluk sahabat jadi suami.
"Tunggu gue leon!" mengeratkan pelukannya.
Leon terus menggenggam erat tangan Mika saat ia hendak masuk ke bandara dan penerbangan akan segera terbang.
Hanya ada tetesan air mata di semua pelupuk mata, Atom, Seno dan tentunya Leon yang masih tidak rela melepas kepergian sang istri.
BUGH
"Gak usah lebay deh son ... son ... sana susul, bukannya pesawat terbang yang mau kamu tumpangi akan berangkat." Seno mengingatkan putranya.
"Iya ... iya ... pa, untuk ayah mertua. Jika papa macam-macam lagi, bilang ke Leon biar papa aku ketok kepalanya," senyumnya terbit sangat cerah.
Bukannya tidak mungkin semua terjadi, semua juga sudah terencana dengan matang. Mana mungkin Leon akan melepas bidadari nya begitu saja setelah susah payah ia dapatkan meski, ya ... awalnya sedikit ragu.
Beberapa hari sebelumnya.
"Atom yakin belikan mereka rumah di sana?" ragu mengingat jika Mika menantunya tidak suka ada campur tangan dari keluarga.
"Yakin, apa kamu gak kasihan sama tuh satu orang yang kerjaannya manyun mulu dari kemarin. Semangat hidupnya gak ada tuh!" sambil menunjuk ke arah Leon dengan dagunya.
Leon memang kehilanganmu senyum saat Mika tidak ada di samping nya, serasa dunia runtuh berkeping-keping.
__ADS_1
"Setengah kasihan setengah enggak, lagian percuma tampan dan kaya tapi menaklukkan satu hati wanita saja gak beres."
Leon menatap tajam papanya, telinganya masih jernih tapi hatinya aja yang mulai butek kalau menyangkut kepergian Mika untuk mengejar cita-cita nya.
"Siapa bilang gak bisa, bisa ko. Cuma belum berhasil doang," menggerutu di samping jendela.
Hobinya dari dulu kalau ada apa-apa ia selalu bersandar di samping jendela sambil menatap birunya langit.
"Namanya itu gak bisa, ck ... ck ... yang ngeget dong usahanya. Bila perlu yang aneh-aneh deh, asalkan gak bikin Mika ketakutan." Saran Seno.
Atom mengangguk-angguk.
Setelah berhasil membeli rumah dengan atas nama Mika dan Leon, Leon jadi punya semangat hidup. Gak sia-sia beberapa tahun yang lalu saat papa nya menawarkan Leon untuk sekolah ke luar negri, ternyata tanpa paksaan lagi sudah mau. Bahkan leon memintanya sendiri tanpa harus di iming-iming apa-apa.
***
Setelah menempuh perjalanan sehari semalam kini pesawat yang di tumpangi Leon mendarat sempurna di bandara, begitu juga dengan Mika yang pesawatnya lebih dahulu dari Leon.
Mika tidak tau jika suaminya ikut dengan dirinya.
"Kenapa ya, rasanya seperti tidak jauh dari Leon. Apa perasaan gue aja ya?" bergumam sambil menelusuri jalan menuju taxi yang ada di sekitaran bandara.
Saat hendak memesan.
"Nona."
Suara ini, kenapa mirip dengan Seseorang yang ia kenal bertahun-tahun.
"Leon."
Mika hanya menemukan satu orang yaitu sopir taksi.
"Saya minta maaf, saya kira anda sahabat baik saya." Formal dan sopan.
Sopir taksi itu tersenyum.
'Sorry mika, gue gak bermaksud lancang. Demi lo beda negara dan benua gue sanggup melampaui, asal ada pesawat dan uang yang berbicara bagi gue gak masalah. Semoga lo gak marah setelah sampai di rumah kita sendiri.' Batinnya sambil mencuri-curi wajah Mika yang nampak cantik dan bersemu kemerahan sebab cuaca sekarang mendekati musim salju.
Mika merasa tidak nyaman saat sopir itu menatapnya dari spion.
'Astaga, gue sekarang di negara orang. Kalau gue di apa-apa in gimana ini. Gue gak mau berdosa sama Leon, Leon ... tolong gue.' Ia mencari ponselnya.
Hanya ada gelengan kepala, terlupa jika ponselnya harus di aktifkan dahulu baru bisa di gunakan. Yang artinya besok atau lusa mungkin bisa di gunakan, ponselnya ponsel lama dan tau lah kendala-kendala jika ponsel lama, yang baru saja juga begitu.
Perjalanan menempuh sekitar satu jam lebih empat puluh menit.
__ADS_1
Kini sudah sampai di halaman yang asri dan bersih, tanpa ada kabel yang bergelantungan seperti yang ada di Indonesia.
"Waw ... bersih dan nyaman, oh ... my God. Ini beneran rumah?" seperti mimpi siang bolong.
Tapi memang kenyataannya ini masih siang menjelang sore, perbedaan jam antara Indonesia Amerika sekitar 12 jam, intinya lebih dari 10 jam perbedaannya tergantung kita tinggalnya di mana.
"Nona, ini di letakkan di mana?" tanya orang yang masih Mika anggap sebagai sopir taksi.
"Em, dimana ya kira-kira enaknya. Rumah seluas ini sepertinya enak di letakkan di lantai atas. Ya ... sudah di lantai atas saja!" jawab Mika.
"Siap nona." Suara bas yang di buat-buat.
Beberapa menit kemudian.
Mika menatap ke seluruh penjuru ruangan, tertata rapi dan ia suka dengan warnanya.
Tidak terlalu mencolok dan tidak gelap.
"Kenapa masih di situ tuh sopir?" keheranan dong.
Padahal sudah di bayar dengan uang dollar yang ia tukar sebelumya di Indonesia dan juga di sekitaran bandara.
"Maaf, apa upahnya kurang?"
Hanya menggeleng.
"Bolehkah saya menginap ?" pertanyaan sopir taksi membuat Mika terkejut
Di negara asing, kenapa seperti ini. Bukannya harus lebih sopan dengan orang baru, Mika tau budaya Indonesia tidak sama tapi bukannya kesopanan juga penting untuk menghargai privasi yang lain.
Apalagi baru kenal sekitar 2 jam saja, terlalu singkat.
"Maaf, tidak bisa !" tolaknya dengan isyarat tangan.
"Oh, terimakasih banyak nona " Wajahnya muram.
Topi dan rambutnya ia lepas saat membalikkan badan.
Mika membelalak.
"LEON." Teriak.
*
Emak gak lancar bahasa Inggris, jadi maaf ya🥰🙏 bahasanya pakai bahasa Indonesia aja.
__ADS_1