Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Yang tersakiti itu aku


__ADS_3

"Mika."


Panggilannya di abaikan begitu saja oleh Mika, Mika terlanjur berpikiran yang tidak-tidak sebab kepercayaan nya terhadap Leon sudah terkikis habis. Jika tidak cinta kenapa begitu peduli, bukannya itu sebuah obsesi semata-mata takut kehilangan saja.


Diam seribu bahasa.


"Mika." Untuk kedua kalinya Leon memanggilnya.


"Iya," wajahnya menjadi sendu dan hendak menangis.


Leon berjalan mendekati Mika dan ingin meraih tubuh Mika, tapi Mika memundurkan tubuhnya ia benar-benar belum siap dan tidak akan pernah siap di sakiti olehnya. Bagaimana caranya untuk move on darinya, bagaimana cara melupakan dia apa ia sanggup sudah bertahun-tahun bersama apakah akan berakhir sia-sia seperti ini.


"Maafkan aku Mika, maaf membuat mu kesulitan beberapa waktu. Maafkan kecerobohan ku Mika, maaf gara-gara aku kamu harus melahirkan anak-anak sebelum kita menikah resmi secara Negara, maafkan aku."


Mika mengendurkan pelukan Leon.


"Eh, apa maksudnya ?"


Justru Mika di buat bingung oleh perkataan Leon, apa ini maksudnya.


"Bukannya tadi kamu bilang itu foto anak-anak kita ?" menatap Mika dalam-dalam dan penasaran dengan jawaban Mika.


"Iya, tapi ada satu hal yang harus kamu tau Leon. Mereka milikku dan akan tetap milikku dan tidak ada siapapun yang boleh memilikinya kecuali pasangan hidup mereka kelak!" jawabnya mengunci.


"Tapi mereka anak kita, anakku juga kenapa kamu bicara demikian seolah-olah ada batasan diriku dilarang keras menemui mereka, apa salahku Mika ?" protes dan sedikit meninggikan suaranya.


"Kamu tenang, jangan berpikiran yang tidak-tidak. Kalau sudah sembuh total barulah kamu bisa menemui mereka dan jangan lupa kamu harus menerima semua akibat dari yang kamu buat sendiri, menyakiti hati istri dan anaknya itu membuat rejeki seorang suami atau papa itu seret tau !" menghempaskan tangan Leon yang sedari tadi menggenggamnya.


Leon kecewa dan sangat kecewa dengan Mika, dan perkataan demi perkataan Mika membuatnya teringat dan kepalanya mendadak sakit. Kejadian masa lalu sebelum kecelakaan terngiang-ngiang berkelebatan di pikiran Leon, bahkan saat seorang wanita yang memaksanya untuk menjadi partner kencannya juga berkelebatan.


"Aduh ... aw ... sakit."


Mika panik dan menolong Leon saat itu juga, egonya ia singkirkan sementara waktu demi menolong bajingan ini.


'Aku tidak bermaksud membuatmu mengingat ini itu Leon, tapi aku butuh kejelasan mu kenapa kamu berhianat dan menduakan aku Leon. Seberapa banyak kalian berdua besama, apa kalian pernah meraup indahnya dunia yang tidak halal?' sedih tapi harus ia tahan.

__ADS_1


.


.


2 bulan berlalu.


Plak


Lagi lagi Leon mendapatkan tamparan dari Papanya.


"Anak kurang ajar, bukan Mika yang akan memukulmu dan mengatasi mu tapi papa langsung, anak brengsek."


Pipinya terasa panas dan juga sakit padahal dirinya baru pulang kemarin tapi justru mendapatkan sambutan yang luar biasa waw sekali dari Papanya, kenapa papanya tidak menanyakan keadaan justru memberikan tamparan berkali-kali.


"Leon salah apa lagi Pa?" belum juga perutnya reda setelah di tendang terjun bebas oleh Mika kini di tambah tamparan dari papanya.


"Salah kamu menggunung, apa kamu tidak sadar jika kesalahan kamu kali ini tidak bisa di ampuni sama sekali. Papa jelaskan sama kamu ya, Mika itu siapa di hati kamu kenapa kamu menghianati cinta tulus Mika istrimu bahkan ia berjuang sendirian demi anak-anak kalian, apa kamu sudah meminta maaf dengannya dengan tulus dan mengakui perbuatanmu yang telah menduakan dia." Menunjuk-nunjuk wajah Mika.


Leon pasrah dengan keadaannya saat ini, ia tidak bisa mengelak atau menyangkalnya lagi. Ia berusaha mengingat sambil mengumpulkan ingatannya yang terpecah belah sebab kecelakaan itu.


"Hanya aku yang akan menjadi pemenangnya Leon, lihat saja seperti apa nanti kamu akan menyesalinya Leon meski kamu belum pulih aku pastikan hari-hari mu hanya ada kepedihan."


Wanita jika sudah tersakiti hanya logika yang ia gunakan bukan lagi cinta.


"Aku tidak kejam, hanya saja aku sakit hati dan itu semua ulah mu. Aku tidak berpikir untuk balas dendam sebenarnya, tapi semakin kesini sepertinya aku sudah tidak kamu perlukan. Kamu mulai dingin dan cuek kembali, apa ingatanmu pulih sangat cepat Leon ?" menatap Leon yang masih menahan sakitnya tendangan dan tamparan dari papanya.


Leon tergopoh-gopoh menuju ke salah satu sofa sambil meratapi nasibnya.


"Meski mulai ingat kembali, tapi kenapa ini mulut tidak bisa di rem sih." Memukul mulutnya berkali-kali.


Sungguh ia menyesali perkataannya tadi ke Mika.


"Mika, kenapa Ayunda berada di dalam mobilku saat kecelakaan itu. Apa dia ada hubungannya denganku ?"


Deg

__ADS_1


Mika menggeleng dengan tatapan penuh kecewa, kenapa wanita itu yang di bahas lagi kenapa tidak diri ini dan anak-anak dahulu saat ingatannya perlahan membaik.


BUGH


BUGH


Mika yang sudah latihan taekwondo dulu saat masih di LN langsung menendang suaminya, jika terkena pasal KDRT ia siap menghadapi semua demi melindungi diri. Tidak apa-apa sesekali melampiaskan pada orang yang sudah keterlaluan menyakiti hatinya, dia pikir hatinya sekuat baja yang tidak bisa di hancurkan dengan mudah.


Catatan beberapa part tidak untuk di tiru


"Sakit Mika, aku salah apa?" seperti orang bodo* saja pertanyaan Leon.


"Pikir aja sendiri !" ketus berlalu pergi sebelum air matanya jatuh kembali.


Dirinya lemah di hadapan Leon, padahal sudah jelas ia di sakiti Leon dengan bersama wanita lain di pernikahan ini.


Tapi nyatanya belum juga sembuh dari tendangan Mika kini malah bertambah dengan tamparan dari papanya yang ternyata ada di rumah.


'Maaf.' Kata-kata yang tidak sempat ia ucapkan sampai detik ini kecuali saat itu 2 bulan yang lalu.


Ia tidak berani meminta maaf kembali saat dirinya berusaha mengingat semua kenangannya dengan Mika, tapi justru ada sekelebat wanita lain yang tak lain adalah Ayunda, kenapa Ayunda yang justru hadir dalam benaknya. Aneh tapi nyata.


"Mika." Leon mencari Mika sudah di cari kemana-mana tapi tak junjung bertemu.


Setelah lelah berkeliling ia memutuskan untuk beristirahat di taman belakang yang memang dari tadi belum ia jamah sama sekali.


Senyumnya terukir saat perempuan yang ia cari-cari ternyata ada di tempat itu sambil mengusap air matanya.


'Apa aku buat salah kembali, aku pikir pertanyaan ku tadi tidak semenyakitkan itu. Aku hanya penasaran Ayunda itu siapa, kenapa ia selalu muncul dalam ingatanku.'


Justru karena kamu sering bertanya itu membuat hatinya terluka, ini bukan masalah sepele yang seperti ia pikirkan tapi nyatanya tidak pernah ia sadari sama sekali sampai sekarang.


Mika Riana.


__ADS_1


__ADS_2