Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Rasa sakit


__ADS_3

"Keep strong Mika Riana." Melonggarkan otot-otot tubuhnya setelah ia menempuh perjalanan singkat yang ternyata lama sebab ada kemacetan tadi sebelum sampai di rumah papa mertuanya.


Suara sepatu kets yang di gunakan Mika memenuhi ruangan, padahal ia berjalan sangat pelan tapi nyatanya masih terdengar saking sunyi nya keadaan rumah.


Deg


Ternyata ayah dan papanya sedang berbicara satu sama lain bahkan mata mereka sembab, tapi mereka berdua belum menyadari akan kehadiran Mika di rumah tersebut. Mereka tersadar akan kedatangan seseorang dan langsung menatap ke satu sumber suara yang tak lain yaitu Mika.


"Mika." Ucap kompak Seno dan Atom.


"A--yah, pa--pa," terbata-bata Mika berbicara.


Ia berjalan pelan sambil menggigit bibir bawahnya dan kedua tangannya meremas ujung bajunya. Hatinya resah, takut dan hawatir jika sampai ayahnya terluka di dalam hubungannya ini dengan Leon, ia tidak mau ?itu cukup dirinya saja yang luka untuk yang lain tidak boleh bahkan anak-anak pun tidak boleh merasakan sakitnya hati terhianati oleh cinta.


Atom menatap pilu putrinya begitu juga Seno, ia merasa malu memiliki putra yang ternyata setia saja tidak bisa, apa gunanya kekayaan dan berkerja keras demi putra semata wayangnya yang hasilnya mengecewakan saja, tapi ia percaya benih yang ia tanam akan menguasai tanah itu sendiri dan menyelesaikan masalahnya sendiri, ini harapan dari Seno.


Sedangkan Atom berharap putrinya berhak bahagia dan memilih kebahagiaannya sendiri tanpa ikut campur.


"Kemari Mika." Atom mengayunkan tangannya agar Mika segera duduk di sampingnya.


Rasa takut kini menjalar di tubuh Mika, takut jika harus berpisah dengan Leon tapi di sisi lain ia juga sangat kecewa dengannya. Bagaimana bisa seorang laki-laki yang sudah ia kenal dari dulu bahkan kenal luar dalam bisa setega ini melakukan penghianatan tanpa tercium sama sekali. Marah dan benci yang ia rasakan, tapi ia juga memikirkan perasaan anak-anaknya juga.


Seno hawatir melihatnya, tubuh Mika semakin kurus dari hari ke hari.


"Mika, papa pesankan tiket pesawat ya dengan anak-anak." Tidak tega.


Mika tertunduk menatap kakinya.


Ia menggeleng. "Tidak pa, Mika masih bisa ko' menghadapi semua Pa ...,"


Seno menghela nafas, ternyata cukup sulit meluluhkan hati menantunya agar ia tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Tapi bagaimana mau bahagia jika setiap hari yang Mika lihat Leon ada dimana-mana, Seno mirip dengan Leon begitu juga dengan kedua buah hatinya yang sama seperti Leon hanya versi kecil.

__ADS_1


Mika bergelayut dalam lamunan, cukup panjang lebar tadi percakapannya dengan sang mertua dan ayahnya tiada henti.


'Aku sudah mengecewakan ayah lagi, aku pembuat masalah. Meski ayah tidak bicara tapi aku bisa melihat dari sorot matanya yang memendam kepedihan mendalam, maafkan putrimu ini ayah.'


Oek


Terdengar suara bayi perempuannya yang menangis, Mika menoleh sambil tersenyum untuk menutupi kesedihannya. Boleh sedih, marah, kecewa tapi jangan sampai anak yang tidak tau apa-apa jadi korban atas kekecewaan yang di sebabkan oleh pasangan.


"Cup ... cup ... sayang, mama susuin kamu lagi ya." Ternyata anaknya memberontak.


Mika berusaha menenangkan pikiran dan hatinya agar anaknya juga nyaman berada di dekatnya, rasanya sungguh tidak sanggup. Bagaikan mimpi buruk dalam hidupnya.


.


Keesokan harinya


Mika seperti biasanya akan mengunjungi Leon sebentar sebelum ia ke tokonya dan perusahaan skincare miliknya, untuk mengecek bagaimana keadaan di sana.


'Sepertinya memang benar kata ayah dan papa, aku harus liburan untuk menyembuhkan luka hatiku. Tapi ... bukannya dengan pergi begitu saja aku menghindari kenyataan.'


Ceklek.


"Miris." Mika menatap Leon yang masih setia tertidur di atas ranjang pasien.


"Kamu tau Leon, lo itu seperti air yang ada di atas daun talas. Tapi aku masing ingin mempertahankan kamu sebelum kamu aku jatuhkan ke dalam tanah dan hanya meninggalkan bekas dan akan hilang secara tersendiri dengan bantuan tanah," ia duduk di samping Leon.


Tatapan tajam Mika begitu tersorot, siapapun yang melihatnya akan ketakutan.


Leon merasakan ada seseorang yang berada di dekatnya sedang memaki-maki dirinya, tapi ia tidak yakin siapa orang itu. Matanya masih sulit di buka bahkan anggota tubuhnya saja tidak dapat di gerakan, ia berusaha namun sia-sia dan akhirnya air matanya jatuh kembali.


Mika melihatnya, ia mengulurkan tangannya dan mengusap air matanya Leon.

__ADS_1


"Wajahnya masih tampan meski terlihat pucat pasi, kamu apa gak ingin bangun. Taukah kamu Leon bahwa aku ingin memarahi kamu dan memaki-maki kamu sampai aku puas, aku kesal terhadapmu Leon." Ia mencubit lagi pipi Leon.


Ingin sekali meninju dada Leon tapi ia tidak mau ceroboh, belum juga membuat Leon jera malah dirinya masuk penjara sebab membu nuh pasien yang membutuhkan perawatan secara intensif.


Mika meninggalkan tempat itu, tidak ada yang bisa masuk ke ruangan tempat Leon di rawat kecuali keluarga dekat dan Dokter serta suster yang sudah di seleksi dan di jamin tidak akan mengecewakan keluarga Kharel.


Seno meluangkan waktu untuk menjenguk sang putra. Ia berpapasan dengan menantu kesayangannya, dan mengajaknya mengobrol ringan di kantin rumah sakit.


"Mika, apa kamu sudah memutuskan tawaran papa kemarin?" menanyakan perihal liburan pribadi Mika untuk menenangkan hatinya yang terluka.


"Belum pa, Mika masih bingung dan Mika masih menanti Leon sadar pa, Mika tidak mungkin meninggalkan Leon di saat seperti ini pa. Leon memang membuat Mika kecewa tapi sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya sebaiknya Mika tetap mendampinginya apapun yang terjadi pa, jika nanti lain cerita Mika akan pertimbangkan tawaran papa!" ia berdiri.


Mika bergegas usai berpamitan dengan Seno.


"Mika, papa harap kamu segera memberi keputusan yang baik. Leon salah, ia harus di beri sedikit pelajaran." Seno mengepalkan tangannya.


Gadis baik, polos dan jujur seperti Mika di sia-siakan begitu saja oleh putranya.


'Padahal papamu ini tidak pernah Leon menyakiti perempuan begitu juga dengan mamamu yang tidak pernah menyakiti siapapun, tapi kenapa kamu di beri kesempatan luar biasa malah kamu sia-siakan. Sebenarnya kenapa kamu bisa seceroboh ini Leon ?' bingung dengan pikiran putranya itu.


Apa kurangnya Mika, di lihat dari segi manapun Mika tidak memiliki kekurangan apapun. Ia juga sudah memeriksa identitas wanita yang bersamanya waktu itu, meski selamat wanita itu mengalami kelumpuhan bahkan di kabarkan ia juga mengalami kemunduran ingatan. Ada bagusnya, tapi pasti akan ada masalah kedepannya.


Mika tergugu di samping mobilnya.


"Huk ... huk ... huk ..."


Tukang parkir menghampiri Mika.


"Neng, eneng baik-baik saja?" tanyanya.


Mika tersadar hanya tersenyum sambil mengusap air matanya.

__ADS_1


"Tidak apa-apa neng, lanjutkan menangisnya jika itu membuat neng lega. Lalu setelah puas neng bisa masuk ke dalam mobil." Ucap tukang parkir.


Mika menarik nafas lalu menghembusnya kembali, rasanya masih sesak tapi ia kuat-kuatan untuk berkonsentrasi.


__ADS_2