
Di bandara.
"Akhirnya sampai juga, ku kira tadi sudah sampai hotel ternyata masih di dalam pesawat." Menatap kedua buah hatinya.
Lagi-lagi dirinya merantau ke luar negri untuk menghindari Leon yang ke dua kalinya dan yang kali ini ia membawa ikut serta kedua buah hatinya, ia melihat kamar hotel yang sudah di pilihkan oleh Seno tapi sebelum itu ia menuju ke rumah sakit untuk mengecek kondisi kedua buah hatinya.
"Aku tidak akan lama-lama di sini, jika Leon sadar dan mencariku aku akan pulang. Tapi, sebelum itu biarlah Leon belajar dari kesalahannya dan kecerobohannya yang sudah membuat wanita lain hamil sebelum nikah, masa sih di usiaku belum genap dua puluh lima sudah punya adik madu. Siapa juga yang mau punya adik madu yang gak punya urat malu, yang ada aku di cemooh oleh masyarakat setempat kalau tau suamiku mendua."
Helaan nafas berat Mika menandakan bahwa ia sangat tertekan dan tidak akan pernah siap hatinya di lukai sedalam ini dan cintanya terbagi.
(Akan ada kelinci lewat, alias lompat-lompat. Cerita ini fokus pada tokoh utama namun tidak di jelaskan kronologi di tempat tersebut/di negara tersebut)
"Cup ... cup ... cup ... sayang, haus ya?" tanyanya dengan salah satu anak kembarnya.
Ia menyusui kedua anaknya di tempat tertutupi yang sudah di sediakan khusus untuk ibu menyusui.
Setelah merasa semua tenang dan kenyang barulah Mika melanjutkan kegiatannya di tempat tersebut tak lupa selimut tebal dan jaket tebal membungkus tubuh mereka, cuaca bulan ini pas musim salju jadi ya harus siap-siap dan waspada tentunya.
.
Leon yang sudah selesai makan siang ia berencana memberi kejutan pada Mika di tempat ia bekerja yaitu toko dan gudang miliknya, pasti kegiatannya banyak sampai-sampai pesannya saja di abaikan seperti sekarang.
"Istriku memang luar biasa saat berkerja, selalu tulus dan bersungguh-sungguh. Semakin membuatku jatuh cinta semakin dalam saja." Mencium potret Mika yang ada di layar wallpaper dinding ponselnya dan juga di emoticon aplikasi.
Semua serba Mika Riana, kalau seandainya dia tau jika Mika tidak ada di kota ini bahkan sudah pergi dari Negara ini apa tanggapannya kira-kira. Mata-mata kepercayaan Seno terus mengawasi gerak-gerik Leon semenjak Leon kecelakaan beberapa bulan yang lalu itu, agar kejadian serupa tidak terulang untuk yang kedua kalinya.
"Tapi jam nya lama banget sih, apa perlu aku menyusulnya sekarang. Tapi ..." berpikir jernih nanti takutnya kedatangannya di gudang atau toko justru membawa malapetaka.
__ADS_1
Ia mengacak-acak rambutnya sambil berusaha menghubungi nomor Mika.
Hanya tulisan memanggil tidak berdering sama sekali dari tadi.
"Dari tadi aku hubungi cuma memanggil, kemana sih kamu sayang? gak biasanya kamu begini." Hatinya mulai resah.
Ia mencoba sekali lagi tapi tetap saja, ia pun memutuskan untuk menyudahi makan siangnya di salah satu warteg pinggir jalan. Pikiran dan hatinya sudah gak sinkron.
'Aku rasa ada yang tidak beres ini.' Mulai sadar dan curiga jika Mika tidak ada di dekatnya, hatinya resah.
Mobilnya melaju kencang menuju ke toko dan gudang yang kebetulan bersebelahan tidak jauh jadi jalan kaki saja sudah sampai di gudang penyimpanan.
"Selamat siang." Leon menyapa kasir karyawan istrinya.
"Selamat siang pak,"
"Ibu Mika hari ini tidak kemari?" tanyanya tanpa curiga.
Kasir tersebut bingung harus bicara apa, baru tadi pagi di beri tau oleh Tuan Seno untuk merahasiakan semuanya dari tuan muda Leon apapun perihal Mika dan kedua anaknya. Bingung dan keringat dingin mulai membasahi dahi mereka, mereka saling menatap satu sama lain sambil memberikan kode untuk merahasiakan semuanya.
Salah satu karyawati ada yang tidak suka dengan mereka lalu mendekati Leon dengan gaya manja dan centil cari perhatian saat Leon beranjak pergi menuju ke gudang.
"Ibu Mika pergi ke luar negri pak Leon, tapi saya mohon jangan bilang siapa-siapa jika saya yang memberi tau pak leon." Ucapnya sambil tersenyum tanpa dosa.
"Luar negri?" menatap penuh tanya ke karyawati tersebut.
Ia mengangguk sambil memamerkan tubuhnya di depan Leon, berharap Leon sadar jika selama ini dirinya memendam perasaan lebih pada suami bosnya.
__ADS_1
"Sial." Langsung berlari menuju ke mobil.
Ia berkali-kali memukul stir mobil dengan perasaan campur aduk tidak karu-karuan, air matanya meleleh seketika.
"Jadi ... alarm tadi pagi adalah alarm jam untuk membangunkan dia untuk pergi. Kamu bodo* Leon kamu bodo*," menyesal pun tidak ada gunanya.
Mika sudah pergi entah pergi kemana, karyawati tadi hanya tau Mika pergi ke luar negeri saja tanpa tau negri mana yang membuat istrinya berlabuh meninggalkan dirinya sendirian.
"Kamu kejam Mika, kenapa kamu pergi begitu saja dan membawa anak-anak ikut serta. Kamu boleh marah, tapi kenapa kamu marahnya sampai pergi ke Negri orang sih sayang." Terus menerus meneteskan air matanya.
Hacing ....
Mika mengusap-usap hidungnya yang gatal sepertinya mau flu padahal baru juga sampai ke negri orang.
"Haduh ... harus pakai masker dobel lagi deh."
Demi menjaga keamanan anak-anaknya agar tidak terkena flu seperti dirinya, setelah masuk ke dalam mobil taxi ia segera menuju ke tempat tujuan sebelum cuacanya semakin dingin. Tapi belum sampai di tempat tujuan justru ada kecelakaan di sudut jalan sana tapi sudah di tangani oleh pihak polisi setempat agar musim salju ini mengurangi terjadinya kecelakaan beruntun akibat hujan salju yang melanda di negara ini.
Leon tiba di rumah Atom tapi tetap sama seperti siang tadi tidak ada orang, lalu ia menuju ke kios milik mertuanya yang ada di pasar.
"Kenapa rencana pergi mu ke luar negeri sangat rapi sekali sayang, maafkan aku." Sesal memang berada di akhir kisah.
Tapi sebelum menyalahkan siapa-siapa lebih baik instrospeksi diri dulu lalu setelah instrospeksi diri ia akan menemui bibit penyebab kesalahpahaman antara pasutri yang awalnya baik-baik saja.
Tiada henti-hentinya Leon mencium potret istrinya dan juga kedua buah hatinya, misinya kali ini selain instrospeksi diri ia harus merayu dan membujuk papa dan mertuanya.
"Aku harus bergerak cepat sebelum semuanya terlambat, aku tidak mau kehilangan mereka semua. Aku memang salah dan kesalahan itu tidak akan aku ulangi lagi, mencari dendam memang mudah tapi kepercayaan orang yang sulit di cari." Semangatnya yang sempat redup kini berkobar kembali mengingat kenangan indah bersama Mika selama hidupnya.
__ADS_1
Atom ada di kios, namun Leon pura-pura belum sadar jika ia sudah mengetahui jika Mika pergi ke luar negri, kalau mertuanya sudah enggan memberi taukan masalah ini berarti mertuanya adalah orang tua paling hebat di dunia yang akan dengan sigap melindungi anak-anaknya.