Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Melepas beban sejenak


__ADS_3

"Kami baik-baik saja ayah, tapi ... kejadian kemarin pagi sungguh sangat aneh sekali yah." Mulai bersedia untuk bercerita.


"Sungguh aneh? apanya yang aneh bukannya kejadian kemarin pagi kejadian mencengkram dan berbahaya nak?" Atom menatap Mika terkejut.


"Iya ayah, namun setelah Leon membuka kan pintu Leon tidak kunjung kembali yah bahkan cctv di rumah juga mati total yah, di rusak oleh orang-orang yang entah darimana asalnya !" tampak berpikir.


'Pekerjaannya sangat rapi, kira-kira siapa orang di balik semua ini. Apa mungkin Seno, tapi ... kenapa Seno tega berbuat demikian, aku semakin penasaran dengan lanjutan kisah ini. Sebagai seorang ayah aku akan melindungi anak dan cucu-cucu ku.' Atom mengepalkan tangannya diam-diam.


"Apa kamu sudah mencarinya kemana-mana nak, selain di rumah?" Atom menatap nanar wajah lelah Mika.


Mika menggelengkan kepalanya.


"Belum yah, hanya di sekeliling rumah saja. Sebab saat itu Mika sudah tidak sempat lagi untuk mencari keberadaan Leon, dua orang yang menjadi korban harus Mika tangani ayah. Setelah keluarga mereka sampai pada malam harinya, barulah Mika kembali ke rumah melakukan aktivitas yang tertunda ayah, aku juga mencari-cari ponsel Leon mungkin tertinggal di rumah namun hasilnya nihil yah. Tidak ada dengan Leon juga!" jawabnya pasrah dengan keadaannya.


Jika sudah begini mau bagaimana lagi, yang menjadi pertanyaan besar adalah kemana hilangnya Leon saat itu.


Atom beranjak pergi.


"Ayah mau pergi kemana?" menghentikan langkah kaki Atom.


"Ayah mau kedepan sebentar, jaga diri baik-baik nak!" sambil mengacak-acak rambut sang putri.


"Yah ... jika ayah butuh sesuatu biar Mika saja yah yang membelikan keperluan ayah." Menghentikan sang ayah.


Mika takut sekali ada apa-apa dengan ayahnya, entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Sebab dari kemarin Leon menghilang bak di telan bumi, apa ini ada kaitannya dengan sang papa mertua.


"Tenang saja nak, ayah masih kuat dan lihat ... masih baik-baik saja bukan. Jadi ... kamu jangan hawatir berlebihan terhadap ayah ya nak," senyum ayah sangat berbeda di mata Mika.


Mika menundukkan kepalanya dan mengangguk mengiyakan, mau bagaimana lagi jika ayahnya sudah bersih kukuh.

__ADS_1


Beberapa menit telah berlalu namun batang hidung ayahnya tidak kunjung terlihat, kemana kah beliau sekarang. Apalagi terlihat sepi-sepi saja di sebrang jalan itu, ada apa kenapa beberapa hari ini kejadian terlalu aneh dan seperti ada yang mengendalikannya.


.


Mika terus mengedarkan pandangannya ke arah jalan yang sepi tanpa adanya manusia, padahal ya bisa di bilang jalan ini selalu rama orang lewat.


"Ayah ... kamu darimana, kenapa lama sekali? Mika hawatir sama ayah." pertanyaan Mika sukses membuat Atom bungkam seketika.


Atom hanya menggaruk-garuk kepalanya.


"Sepertinya aku sudah terlalu lama tidak memperhatikan ayah, ayah sekarang rambutnya banyak sekali ubannya." Cicitnya sambil tertawa renyah.


Atom bahagia melihat senyum putrinya yang penuh di sudut bibirnya.


"Kamu ini bisa-bisanya memuji ayah sudah tua, apa kamu melihat kerutan banyak di wajah ayah?" di selingi tawa sambil menunjukkan ekspresi gigi rapi tapi palsu.


Pada akhirnya mereka tertawa bersama, sudah lama mereka berdua tidak sebahagia ini entah lupa atau waktu yang benar-benar memisahkan mereka secara perlahan namun ikatan darah antara anak dan ayahnya tidak bisa putus.


Melihat senyum merekah dari bibir ayahnya Mika tersenyum lega, ayahnya selalu baik-baik saja sampai sekarang. Ia berdoa dan berharap ayahnya bahagia di usianya yang tidak lagi muda.


"Nak ..."


"Iya yah ada apa?" setelah selesai memberikan ASI pada kedua anak-anaknya.


"Ayah tadi sempat ke rumah Seno," menggantungkan ucapannya.


"Lalu, apakah Leon ada di sana yah?" raut wajahnya berubah menjadi ceria.


Atom merasakan mati rasa lidahnya, mau berbicara apa pada putrinya yang terus bertanya-tanya tentang suaminya, sedangkan diri ini tidak mendapatkan informasinya. Bahkan Seno tidak ada di rumah sedang ada bisnis di luar kota.

__ADS_1


Atom menggeleng.


"Jadi Leon tidak ada di rumah papa Seno?" memastikan kembali.


"Nak ... jika suatu hari nanti ada apa-apa di rumah tanggamu, ayah harap kamu harus kuat ya nak jangan mudah menyerah seperti ibumu yang berakhir begini ya nak!" dadanya merasakan sedikit sesak sebab menahan semua emosinya.


"Iya yah, aku akan berusaha terus yang terbaik untuk hubungan rumah tanggaku dengan Leon ayah. Walau bagaimanapun Leon adalah sahabat sekaligus suamiku dan Daddy dari anak-anak ku ayah."


.


Kediaman Kharel.


Seno duduk di kursi kebesarannya sambil menatap Leon yang berada di hadapannya hanya berjarak 5 meter saja dari hadapannya.


"Kenapa aku di ikat seperti ini pa?" tidak suka dengan sikap papa nya yang semena-mena terhadap dirinya.


"Supaya kamu tidak kabur dan menemui istrimu, sudah papa bilang untuk bercerai dengannya kenapa kamu begitu pembangkang Leon. Apakah ini balasan kamu pada papamu Leon Kharel pewaris utama keluarga Kharel satu-satunya!" penuh dengan penekanan terhadap Leon.


"Perkataan apa ini pa, mana ada orang tua yang menginginkan anak-anaknya tidak bahagia dalam rumah tangganya. Seperti orang-orang seperti papa ini sangat banyak dan langka jika ada yang setuju terhadap pernikahan langgengnya sang anak-anak, orang tua aneh dan udik." Sekejap saja perkataan Leon membalikkan keadaan.


Sebagai anak yang berada di jalan yang benar apa salahnya berpendapat.


"AA ... ha ... ha ..., papa hanya memperbaiki keturunan saja dan tidak membuat malu dimana-mana. Lagi pula ya Leon apa kamu tidak sadar akan nasib anak keturunan kamu selanjutnya yang akan merasakan malu sebab neneknya wanita murahan dan sering menjajakan dirinya ke orang-orang yang butuh jasanya," hinaan seperti ini pantasnya di balas dengan kata-kata baik serta bijak.


"Memperbaikinya keturunan kata papa, keturunan yang seperti apa yang sedang papa bicarakan. Jangan kira Leon tidak tau apa-apa tentang urusan pribadi papa, Leon tau bahkan sangat tau. Apa perlu Leon memanggil semua kemari pa?" tanyanya dengan senyum miring. "Papa yang memulai membuka kartu, maka jangan salahkan Leon juga bisa membuka kartu papa yang lain termasuk kebakaran kios ayah Atom beberapa bulan yang lalu." Sambungnya seperti boomerang.


Ternyata memiliki anak yang cerdas tidaklah mudah, harus banyak-banyak rahasia yang harus di simpan rapat-rapat agar tidak bocor ke hadapan publik apalagi di hadapan putra sendiri.


"Baguslah jika kamu tau papa punya banyak wanita, tapi mereka bukan pecundang melainkan wanita yang bisa di ajak kerja sama dalam bisnis," Seno mengelak.

__ADS_1


"Demi uang dan kepuasan batin papa, Gil* senang sekali berbuat hal senonoh." Leon geleng-geleng kepala.


__ADS_2