Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
BAB 3


__ADS_3

Ceklek.


Suara handle pintu terbuka, ia menatap nanar ke arah tempat tidur. Wanita cantik sedang terbaring disana, tidur dengan lelapnya sampai tak sadar ada orang yang datang untuk melihat wajah cantik jelita itu.


"Sayang ... yang ...." Leon memanggil dan langkah terhenti saat ada tangan menepuk pundaknya dan ia langsung menoleh ke arah orang yang menepuk pundaknya barusan yang tak lain adalah ayah mertuanya.


"Leon."


"Ada apa yah?" masih di buat bertanya-tanya dengan sikap dan keanehan mertuanya.


"Mika ... dia masih tidur seperti yang kamu lihat Leon, tapi ...," lagi-lagi mertuanya mengantungkan perkataannya.


"Ada apa sih sebenarnya yah, kenapa dari tadi ayah begitu ragu-ragu untuk mengatakannya"


Tok tok tok.


Atom yang hendak menjelaskan kini harus membuka pintu rumahnya terlebih dahulu. Dengan perasaan yang was-was Atom bergegas ke pintu ruang tamu, tapi seperti biasanya ia mengintip dari celah rumahnya guna melihat siapa tamu yang datang berkunjung.


'Apa jangan-jangan Seno yang datang kemari?' menebak-nebak.


.


.


...SATU SETENGAH TAHUN LEBIH KEMUDIAN...


Mika terbangun dari tidur panjangnya, bukan tanpa sebab melainkan ada yang membuatnya tidur sepanjang itu. Yaps ... Mika koma sampai detik dimana ia bangun dan melihat sekeliling tempat pertama ia sadar kembali.


"Aku ada dimana?" ia bergegas menatap ke arah jendela ruangan tersebut.


Sedetik kemudian ia menatap punggung tangan kanannya yang terdapat selang infus lalu ke tangan kirinya yang ternyata ada bekas jarum dari selang infus.


Mika mengerutkan dahinya.


"Eh, kenapa ada banyak sekali bekas jarumnya. Apa aku di jadikan malpraktek oleh suster gadungan atau Dokter gadungan." Mendadak perasannya resah dan gelisah.


Di luaran sana ada beberapa orang yang sedang berbicara sesuatu yang membuat Mika tertarik untuk mendengarkannya untuk yang pertama kalinya.


"Eh, kasihan banget loh pasien di kamar ini." Ucap salah seorang yang berada di luar ruangan Mika di rawat selama ini.

__ADS_1


"Kasihan bagaimana, bukannya beruntung pasien ini," tanggapan salah satu dari orang-orang yang berada di luar sana.


"Ya kasihan sekali pokoknya, apa kamu tau kecelakaan naas itu merenggut ayahnya dan juga sopir taksi waktu itu. Di tambah lagi ia hilang ingatan dan tidak tau siapa-siapa, tapi memang benar kata kamu dia beruntung ada orang yang tidak di kenali oleh pasien mau membiayai perawatan pasien kamar ini sampai detik ini."


Mika mematung.


"Siapa yang mereka bicarakan, kenapa semua mengarah ke kamar aku. Dimana ayah?"


Sebelum ia menyadari jika di samping tempatinya di rawat tidak ada ayahnya.


"Tapi untungnya saja bukan aku yang di bicarakan," masih belum menyadarinya.


Banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin ia ketahui, apalagi tadi ia sempat mendengar kecelakaan naas yang merenggut ayahnya. Ayah siapa yang di maksud oleh orang-orang yang berada di luaran sana, mungkin saja pasien sebelah kamarnya.


Mika beranjak dari tempat tidurnya namun lagi-lagi tubuhnya tidak bisa di gerakkan dengan bebas, masih perlu proses pelan-pelan.


"Ah ... sial, tubuhku sulit di gerakkan dengan bebas apalagi bagian kakiku. Apa jangan-jangan kakiku cacat?" menyibakkan selimutnya dan menyentuh kedua kakinya dan kakinya masih bisa merasakan sentuhan tersebut.


Ia bersyukur sekali masih di berikan kesehatan.


Karena Mika masih belum sadar jika dirinya sudah berbaring di ranjang pasien itu sudah satu setengah tahun lamanya.


Ceklek.


Matanya melebar semua. "Nona ... anda ... anda ... sudah bisa duduk bahkan anda bisa bergerak?" pertanyaan konyol salah satu suster membuat Mika tertawa.


"Aa ... ha ... ha ... kalian ini para suster lucu sekali, saya baik-baik saja kenapa tidak bisa bergerak bahkan duduk. Hanya satu masalahnya yaitu saya tidak bisa menggerakkan kedua kakiku dengan bebas, padahal saat saya sentuh pakai tangan ini masih bisa merasakannya loh. Sungguh aneh sekali!" Mika terus berbicara dan mengeluarkan keluh kesahnya.


"Nona, saya periksa dahulu ya nona keadaan nona sekarang." Dengan lemah lembut suster itu memeriksa keadaan Mika.


"Suster, apa boleh saya tau sesuatu?"


"Iya, tanyakan saja nona Xia!" mereka taunya pasien ini bernama nona Xia sesuai dengan orang yang membawanya ke rumah sakit waktu itu.


"Xia, siapa Xia kenapa kamu memanggil saya dengan nama Xia?" terkejut.


"Bukannya nama anda Xia Nexia nona, apa saya salah menyebutkan nama anda nona!" memastikan.


Salah satu suster ini harus memerankan perannya dengan baik, mereka sudah di bayar untuk merahasiakan bahwa pasien tersebut bertanya-tanya tentang nama apalagi identitas kecelakaannya.

__ADS_1


Mika menggeleng. "Tidak, sepertinya memang itu nama saya, ya sudah terimakasih banyak ya. Oh ya satu lagi yang ingin saya tanyakan, saya sudah ada di rumah sakit ini sejak kapan lebih tepatnya sudah berapa hari saya di tempat ini?" menatap semua suster dengan penuh pertanyaan.


"Em ... sudah cukup lama nona, hampir dua tahun!" jawabnya.


"Hah ..." Terbengong. "Dua ... dua ... tahun, hampir dua tahun?" memperlihatkan dua jari kanannya.


Mereka mengangguk meyakinkan.


Mika menepuk jidatnya. "Ya sudah terimakasih, saya haus apa tidak ada air putih."


"Sebentar nona, saya ambilkan," dengan terburu-buru.


Beberapa suster yang ada di tempat saling menatap satu sama lain, setelah mengecek infus dan segalanya barulah suster-suster itu beranjak pergi dari ruangan Mika di rawat.


"Aneh sekali sih mereka." Bergegas.


"Bahkan yang tidak habis pikir, masa sih aku berada di rumah sakit ini hampir dua tahun lamanya. Pantas saja aku tidak bisa berjalan lantas terlalu lama berbaring di ranjang pasien ini, Huft ... andai aku bisa pergi jalan-jalan sebentar."


Baru juga hendak turun lagi-lagi ruangannya ada orang yang masuk entah siapa orang itu yang jelas jika di ingat-ingat ini sudah masuk jamnya orang sakit di besuk oleh sanak keluarganya.


"Kamu sudah bangun."


Mata mereka saling menatap satu sama lain, Mika tidak kenal dengan orang yang bertanya padanya barusan, yang jelas ia adalah orang asing yang belum pernah bertemu sebelumnya.


"Kamu siapa dan kenapa kamu bisa ke kamar saya?" wajah Mika dingin dan tidak bersahabat sama sekali.


"Apa kamu tidak tau siapa saya?" malah balik menanyai Mika.


"Tentu saja saya tidak tau, saya baru sadar setelah hampir dua tahun di ranjang pasien!"


"Perkenalkan saya Omar, asisten pribadinya tuan muda. Saya yang menolong anda waktu anda kecelakaan dulu nona Xia, karena anda sudah sadar bagaimana jika anda pulang ikut bersama saya!" penawaran yang sangat buruk sekali.


Mika sama sekali tidak tertarik akan hal itu, sama sekali bahkan.


.


Yuk ikuti kisahnya bagaimana, siapa dalang yang menyebabkan Mika dan ayahnya kecelakaan sampai Mika hilang ingatan dan kira-kira siapa yang menolong Mika waktu itu?


Jangan lupa kirimkan dukungannya ya kakak-kakak semua 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2