
Mika berusaha menghubungi nomor telepon ayahnya yang sedari tadi tidak dapat di hubungi sama sekali.
"Aneh, sebenarnya ada apa sih dengan para orang tua itu?" sampai terheran-heran.
"Apanya yang aneh sih yang." Leon yang baru saja mengambil 2 gelas air putih memberikan kepadanya dengan menatap manik wajah Mika.
"Ya orang tua kita Leon, siapa lagi. Lagian aku gak habis pikir ya kenapa sekarang dunia pernikahan kita di kacau kan, padahal kita gak salah apa-apa. Apa kamu ingat Leon saat kita duduk di bangku SMP waktu itu, bukannya mereka begitu kompak melarang kita suka sama seseorang apalagi sampai berpacaran, terus ... sekarang saat kita resmi menikah dan memiliki anak-anak justru bingung membuat hubungan kita retak secara perlahan-lahan, sebenarnya para orang tua itu tau enggak sih sakitnya hubungan yang dipaksakan di pisah," pada akhirnya Mika meluapkan emosinya melalui kata-kata yang teramat dingin di dengar.
Banyak sekali semburat kekecewaan di mimik wajahnya yang cantik dan anggun.
"Bener banget ya, jika di ingat-ingat pada waktu itu lucu dan bikin kesal secara bersamaan. Meski ... ya ... aku akui aku sedikit terinspirasi untuk memiliki kamu seutuhnya sayang."
Mika menyipitkan kedua matanya.
"Iya, apalagi aku seperti di tuduh suka sama ketua OSIS waktu itu," Mika bercerita sambil tersenyum-senyum. "Tapi ... kalau di ingat-ingat ketua OSIS waktu itu lumayan lah cakep sih wajahnya di atas rata-rata, bahkan lebih ya ... kalau sekarang seperti apa ya wajahnya dan apa sudah menikah," mendadak memuji laki-laki lain.
"Wanita ... wanita ... kalau lihat cowok dikit bening dan cakep pasti mujinya tinggi banget sampai ke langit muji-mujinya." Raut wajah berubah cuek.
Mika mencubit pipi Leon dengan gemas.
"Lagian ya, walaupun aku memuji orang tapi hanya sekedar memuji tidak lebih dari itu apalagi sampai ada sesuatu yang tidak seharusnya, jadi ... jangan berpikiran yang tidak-tidak Leon sayang," melepas cubitannya.
"Beneran gak pernah sekalipun punya pikiran ingin memiliki?" Leon memastikan.
"Yakin ..." sambil tersenyum meledek.
"Tuhkan gak yakin jawabnya, sayang ... sebenarnya kamu ini ada perasaan gak sih dulu ke aku, dulu ... sekali sebelum kita nikah loh ya?" Leon mencari kebenaran melalui mata Mika.
"Em ...," Mika berpikir keras. "Enggak ada sih, aku juga heran kapan aku punya perasaan, perasaan dulu saat nikah siri aku gak ada perasaan ke kamu Leon yang ada perasaan kecewa kenapa kamu menikahi ku dengan cara begitu pakai bilang maaf gak bermaksud memasukkan obat perang sang itu dalam saku jaket ku, gara-gara kesalahpahaman itu aku jadi istri kamu dengan terpaksa!" sedikit ada rasa kesal.
__ADS_1
"Kalau itu sih aku juga tau yang, tapi ... jika di pikir-pikir lucu juga ya. Aku membayangkan jika anak-anak besar dan mulai menyukai lawan jenisnya aku yakin mereka lucu-lucu sekali." Leon sudah berangan-angan setinggi langit padahal anak-anak juga masih kecil masih berumur 1 tahun lebih sedikit belum genap 1 tahun setengah.
Ting tong.
Suara bel rumah membuyarkan keromantisan mereka berdua yang sedang asik bercerita sambil memeluk satu sama lain.
"Yang sepertinya ada tamu, aku bukain pintu dulu ya, jaga anak-anak ya," mengecup dahi Mika cukup lama lalu kedua anak-anaknya.
'Tumben mencium kami bertiga, em ... sungguh membuat orang bertambah jatuh cinta saja.' Mika di buat terharu dengan sikap Leon yang perhatian dan romantis.
Leon bergegas pergi dari kamar menuju ke pintu depan, kira-kira siapa yang bertamu pagi-pagi sekali. Sepertinya ayah atau mungkin Papa nya yang datang berkunjung dan merasa bersalah sudah pernah punya niatan untuk meminta perpisahan anak-anaknya.
Ceklek.
"Siapa?" Leon di buat terkejut dengan apa yang sedang ia lihat, orang-orang yang tidak ia kenal sama sekali dengan pakaian rapi namun menggunakan topeng.
Satpam dan pembantu yang bertugas hari ini sudah lebih dulu di lumpuhkan di depan gerbang tadi, sebab pembantu yang bertugas bersih-bersih pagi dan sore hari kebetulan baru datang dan sedang berbincang-bincang dengan satpam yang ada di sebelah pintu gerbang.
Mika menatap ke arah pintu kamar yang masih terbuka lebar.
"Leon ini, kebiasaan deh gak pernah tutup pintu." Terheran-heran sambil tersenyum bahagia.
Tapi mendadak ada rasa cemas mendera di hatinya, apalagi tidak ada suara apapun dari ruang tamu padahal tadi Leon keluar dari kamar untuk menyambut tamu yang datang pagi ini.
"Aneh ... kenapa tidak ada suara sama sekali, dan satu lagi tumben tidak ada orang yang bersih-bersih pagi ini, apa jangan-jangan belum datang atau mungkin tidak bisa datang ?" bertanya pada diri sendiri.
Lalu Mika menatap kedua buah hatinya yang sedang bermain, entah perasaannya atau memang suasana rumah sedikit aneh dan menakutkan. Setelah meraih kedua buah hatinya dan menggendongnya depan belakang kini Mika turun menelusuri anak tangga dengan tatapan mata menatap ke seluruh penjuru ruangan untuk memastikan rumahnya baik-baik saja.
"Kita turun ya sayang." Perasaan was-was terus menyelimuti pikiran Mika.
__ADS_1
Ternyata benar setelah sampai di ruang tamu tidak ada keberadaan Leon suaminya dalam keadaan pintu utama terbuka lebar begitu saja.
"Tuhkan ... Daddy kalian ini selalu begini, lupa menutup pintu rumah," hendak menutup pintu tapi tanpa sengaja matanya menatap ke sebuah gerbang rumahnya yang berdiri kokoh juga terbuka sedikit.
'Kenapa terbuka ya, apa pak satpam lupa menutup pintunya? tumben.' Mika bergegas ke gerbang untuk menutup pintu gerbang tersebut meski tergopoh-gopoh sebab mengendong kedua buah hatinya.
Setelah melangkah beberapa langkah matanya tanpa sengaja melihat sebuah sepatu yang tergeletak di sudut ruangan pos satpam.
"Ada sepatu." Ia melangkah dan melihat kira-kira sepatu milik siapa.
Tak tak tak.
"Pak ... pak satpam," ia melihat ke kursi.
Deg.
Jantung Mika berdegup kencang saat melihat ada darah di sekitar wajah bahkan lantai di tambah lagi di ruangan kecil satpam juga ada wanita.
"TOLONG ... TOLONG ..." Mika berteriak seperti kesetanan dan air matanya luruh sebab ia ketakutan bukan main.
Ia tergopoh-gopoh berlari keluar dari halaman rumahnya dan mencari bantuan warga sekitar, tanpa basa-basi warga langsung tanggap dan membantu Mika.
"Mbak Mika, kita bawa mereka ke rumah sakit mbak." Ucap salah satu warga sekitar.
"Iya, tolong ya pak," mengangguk keras.
Pikiran Mika kacau kemana-mana, jika satpam dan pembantu hariannya dalam masalah demikian, berarti ... suaminya.
"Leon ... kamu dimana?" teringat suaminya tidak ada di tempat kejadian.
__ADS_1