Akulah Rekan Hidupmu

Akulah Rekan Hidupmu
Menyembunyikan rahasia dari Mika


__ADS_3

"Eh Seno, tumben kemari?" menyambut sahabatnya dengan baik.


"Iya, ada hal yang ingin aku utarakan!" jawabnya lalu duduk di salah satu sudut kursi kayu.


"Apa itu." Sebisa mungkin Atom tidak berprasangka buruk kepada siapapun meski ia juga merasa ada yang aneh.


"Leon sudah aku minta untuk menceraikan putrimu, namun ia tetap bersih kukuh untuk bertahan dan menolak kembali ke keluarga Kharel, aku harap kamu paham sebagai sahabat sekaligus besanku Atom, tolong satu kali ini saja bujuk putrimu untuk berpisah dengan putraku, apalagi di tambah status ibu kandung Mika yang sebagai wanita penghibur dimana-mana aku malu punya besan begitu, untuk kedua cucu kita tidak jadi masalah jika harus terbagi. Entah kamu mau yang laki-laki atau yang perempuan, oh ya satu lagi aku turut prihatin atas kebakaran kios kamu Atom. Jika perlu modal datanglah ke kantor atau ke rumah sebagai ucapan persahabatan kita, aku permisi dulu Atom masih banyak klien yang menunggu kehadiranku di rapat."


Setelah mengucapkan perkataan panjang lebar Seno berlalu begitu saja tanpa menunggu persetujuan dari dirinya, ia harus berkata apa apakah Seno barusan itu sahabatnya atau orang lain. Kenapa perkataan nya begitu mengancam dan tidak ada pilihan sama sekali.


Klik.


"Maaf Seno, aku gak bermaksud jahat tapi taukah kamu bahwa kamu sendiri yang menghancurkan hidupmu."


Atom mengirimkan voice recorder pada Leon dan juga Mika tentunya biar sekalian tau tabiat Seno seperti apa selama ini.


"Kamu kira aku lemah Seno, apakah putramu juga tau jika kamu ada main dengan beberapa wanita-wanita penghibur itu?" tersenyum devil.


Mata Leon terbelalak mendengar dan melihat voice recorder kiriman dari sang ayah mertua.


"Gil* papa, aku pikir papa baik kenapa bisa berpikir demikian. Apa segitu gak sukaanya dengan ..." Ia menutup mulutnya saat sadar jika sang istri tersenyum padanya saat sedang membuat makan malam.


"Leon, kamu sedang apa? kenapa raut wajahmu begitu panik?"


Leon menggeleng cepat.


"Tidak apa-apa, tidak apa-apa sayang. Kamu salah lihat mungkin, oh ... ya sayang mana ponsel kamu apa boleh aku meminjamnya?" berharap ayah mertuanya tidak mengirim voice recorder itu di ponsel sang istri.


Saat ini tidak tepat untuk membicarakan hal yang begitu sensitif sekali, tapi ... pikiran Leon kacau kemana-mana. Apa akibat jika dirinya menutupi hal sebesar ini dari Mika tapi jika di beritahu kan ke Mika bagaimana dengan hubungan yang baru saja membaik beberapa waktu ini.


"Boleh, tuh ada di sana. Tapi sepertinya tadi ada pesan masuk coba kamu lihat Leon sayang, aku sibuk nih bikinin makanan kesukaan kamu sayang!" menunjukkan tangannya yang mengenakan sarung tangan plastik.


"Baiklah." Leon tersenyum lebar dan sangat bergembira.

__ADS_1


Mika geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol Leon.


"Ada-ada saja tingkah Leon ini, begitu bahagianya aku pinjami ponsel," sampai terheran-heran.


Mika sama sekali belum memegang ponselnya setelah tadi beberapa kali menelpon ayahnya namun tidak ada jawaban sama sekali darinya.


Leon terburu-buru untuk mengecek ponselnya istrinya apa ada kiriman dari sang ayah mertua, jika ada jangan sampai Mika tau semuanya.


"Akhirnya ketemu juga, dari tadi aku cari-cari ternyata ada di atas meja ruang makan. Huh ... untung saja Mika belum menyadari jika ada kiriman pesan dari ayahnya." Bernafas lega melihat ponsel Mika.


Mika mengerutkan kedua alisnya.


'Ada apa sih dengan Leon, tumben pinjam ponsel biasanya ogah-ogahan pinjam ponselku meski aku suruh-suruh bakalan gak mau sama sekali. Apa terjadi sesuatu yang di sembunyikan dariku, apa ya?' menatap curiga namun segara ia tepis.


Hubungannya baru saja membaik ia tidak mau memisah-misah kan anak-anak dari Daddy-nya.


'Aku berharap tidak ada hal sesuatu yang kamu sembunyikan dariku Leon, meski aku tau ada rahasia besar yang sedang kamu sembunyikan dariku. Apalagi sikapmu setelah bertemu papa tadi pagi jadi aneh dan terlihat di buat-buat, aku merasakannya Leon.'


"Leon sudah melihat bahkan Mika juga, apa jangan-jangan ponselnya Leon yang pegang atau Mika yang pegang, aku ingin melihat reaksi anak-anak apa keputusan mereka berdua. Lagi pula sahabat macam apa yang punya segudang ide licik namun membuat seolah-olah orang lain adalah pemainnya sedangkan dia adalah pemain bidak catur itu."


Atom bukanlah laki-laki licik namun akan semakin licik jika di sentuh batas emosinya.


Tuing.


💬 Leon, apa tidak ada sesuatu yang ingin kamu ucapkan dan pilih???


"Leon, ponsel kamu bunyi tuh. Nanti takutnya ada klien yang minta bantuan." Mika sedikit meninggikan suaranya.


Mata Leon membulat.


'Gawat, jika Mika buka bisa gawat. Aku gak mau membuat Mika berpikiran negatif tentang ayah, aku harus meyakinkan Mika dulu dari hati ke hati.'


"Iya, sebentar sayang. Nanggung nih lihat video di YouTube milik kamu," bohongnya padahal bukan itu yang ia lihat sedari tadi.

__ADS_1


Mika masih berkutat dengan masakannya yang belum matang, sesekali ia melihat apakah sudah ada tanda-tanda masakan matang meski tidak lama tapi cukup menguras waktu dan tenaga. Tapi semua ia tahan demi suami tercintanya, sedangkan untuk kedua buah hatinya makan malamnya dengan bubur kasar buatannya tak lupa di tambah dengan sayuran halus untuk menambah gizi dan protein yang mereka butuhkan di masa tumbuh kembangnya.


Leon bergegas mengambil ponselnya.


Deg.


'Ayah kenapa bertanya berterus terang begini, aku harus jawab apa?' wajahnya kembali panik tanpa ia sadari.


"Huh ..." Mika menghela nafas, sepertinya sang suami ada masalah besar dengan salah satu kliennya lagi.


Jangan-jangan masalahnya hampir sama dengan Kliennya yang bernama Ayunda itu lagi, tapi mau bagaimana lagi jika itu pekerjaannya dan juga cita-cita diri ini dari kecil, selain itu membantu masalah klien juga penting.


"Leon, ada apa?"


Pertanyaan Mika membuat Leon terkejut.


"Eh, gak ada apa-apa sayang!" canggung di hadapan Mika.


"Tadi sepertinya ada beberapa pesan masuk di ponselku, dari siapa Leon?" melepas apron chef nya dan memasukkannya ke dalam keranjang baju kotor.


"Dari ayah!" jawabnya mengembalikan ponselnya.


"Oh ... dari ayah, aku pikir dari siapa. Mungkin membalas teleponku tadi."


"Iya benar ayah membalas telpon mu tadi, beliau juga menanyakan keadaan si kembar tapi sudah aku balas." Leon berdiri dan langsung mengambil ponsel Mika kembali padahal belum sempat ia menggeser kunci layar ponsel tersebut. "Bakalan aku belikan yang baru, sementara ini aku simpan," sambungnya lagi.


"Eh, kenapa ponselku kamu ambil lagi sih Leon? itukan masih baru sembilan bulan yang lalu Leon." Bibirnya maju.


Cup.


Mata Mika terbelalak lagi dan lagi.


"Mes um, nafsuan," menyentuh bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2