
Kesal lagi saat Leon tanpa ijin membuat video lebih tepatnya memvideo dirinya lebih banyak ketimbang anak-anak.
"Mika sayang, tatap kearah kamera." Leon bersemangat saat mengambil gambar Mika lebih banyak ketimbang gambar anak-anak.
"Leon, kenapa sedari tadi aku lihat hanya fokus memvideo aku saja?" protesnya yang terlihat imut sekali di mata Leon.
"Apa tidak boleh dan harus meminta izin?" balik bertanya dengan nada dingin mendominasi.
"Iya, untuk saat ini harganya mahal kalau di dasari tidak ada kejujuran!" moodnya yang baru membaik kini kembali memburuk.
"Mika, bisa enggak kamu redakan sedikit emosimu terhadap ku?"
"Gak bisa Leon, mau kamu apa sih." Meninggikan suaranya.
"Oke aku minta maaf Mika, sini," menarik dengan lembut tangan Mika.
Di tempat inilah mereka dulu menghabiskan waktu dengan diam sebab Leon yang awalnya begitu semangat memiliki rumah sendiri tapi berubah ketika rumah sudah di beli dan di tempati oleh istri dan anak-anaknya.
'Diam tanpa kata itulah sekarang hubungan kami, aku kecewa padanya yang tidak jujur telah mendua. Memang sekarang terasa lebih sepi hatiku meski belum jelas juga perbuatan mereka berdua di belakang ku, sakit yang aku rasakan tapi demi anak-anak tidak apa-apa aku tahan sedikit pasti lukanya akan sembuh seiring berjalannya waktu.'
"Kenapa diam?"
"Tidak apa-apa, kamu sendiri juga diam. Mau bicara apa, kalau tentang anak-anak kedepannya seperti apa. Ayo ... kita bicarakan baik-baik Leon!" menatap dengan senyum yang dingin.
Leon terluka Mika tersenyum seperti itu barusan, dingin tanpa cinta lagi. Bagaimana caranya agar perasaan Mika tidak mati begitu saja ke dirinya.
'Pada akhirnya aku terluka juga, andai mulutku bisa jujur padamu. Apakah kamu mau menerimaku kembali jika kamu tau kebenarannya?' bertanya dalam hati sambil menatap wajah cantik Mika.
"Bukan hanya tentang anak-anak tapi juga tentang kita sayang. Aku mau bicara jujur sejujur-jujurnya ke kamu tentang aku dan dia."
DUAR
Bom Hiroshima dan Nagasaki menghancurkan seluruh isi hatinya padahal Leon belum bicara sepatah katapun tentang hubungannya dengan wanita yang bernama Ayunda. Tapi, seolah-olah Leon sudah berkata jujur lebih dulu pada dirinya dan kenyataan ini harus ia terima apapun itu asalkan masih masuk akal.
__ADS_1
"Sejak kapan kamu sudah ingat semuanya Leon, apa kamu sudah mengigat hubungan kita dan anak-anak juga?" menatap sendu dan mendapatkan anggukan darinya.
"Semenjak aku masuk ke rumah ini, bagaikan puing-puing kejadian kita langsung kembali seperti semula. Bagaimana aku membuatmu marah dan menangis secara bersamaan, itu semua terekam jelas dan kembali ke dalam ingatanku Mika, maaf beribu-ribu maaf Mika!" bersimpuh di kaki Mika.
Mika menolak Leon yang bersimpuh di bawah kakinya, dia laki-laki yang punya harga diri tidak pantas sebagai laki-laki bersimpuh begini meski salah, tapi. Sikap Leon membuat hati Mika berdesir kasihan dengannya, segitu merasa bersalahnya pada diri ini sampai melakukan hal seperti ini.
"Duduklah dan ceritakan semua, tapi sebelum itu biarkan anak-anak bermain dengan suster dulu." Mika memanggil kedua suster nya Asma dan Asna.
Beberapa kali Mika menghela nafas dan menahan rasa sesak di dalam dadanya.
'Harus kuat Mika, jujur lebih baik meski itu sangat sakit.'
"Apa kamu ingat waktu kamu hamil tua sayang?"
"Iya ingat!" jawab Mika lirih padahal dalam hati ingin menginjak-injak Leon yang dengan tega membiarkan dirinya sakit luar biasa di acuhkan.
"Dan saat itu aku ada klien yang sulit sekali, jika aku gagal membuatnya menang di persidangan resikonya aku harus berkencan dengannya selama sebulan lamanya, dan ... aku gagal membuatnya menang di pengadilan sayang."
"Terus?" Mika penasaran dengan part selanjutnya apa yang terjadi antara makhluk brengsek di hadapannya.
"Kamu melupakan kami bertiga dan setelah pulih malah kamu menanyakan tentang wanita itu, kesel banget aku Leon ke kamu,"
Bugh
Mika langsung meninju wajah Leon.
"AW ... sakit sayang."
"Itu gak seberapa, aku masih mau melampiaskannya lagi. Belum juga hati kamu yang aku buat sakit, kenapa mengeluh?" tegasnya tanpa ampun.
"Please ... jangan pukul lagi ya, perih ini dan sakit!" memegang pipi dan menutup mulutnya sambil mengeluarkan sesuatu rasanya seperti giginya copot entah satu atau dua.
"Kenapa? giginya sudah rontok?"
__ADS_1
Leon mengangguk.
"Ini!" sambil menunjukkan giginya yang ternyata copot satu.
Mika menahan tawa padahal barusan ia kesal sekali.
"Yuk ke rumah sakit untuk tambal gigi yang lepas." Menarik tangan Leon.
"Ko gak minta maaf sih," bicara pelan sekali.
"Gak perlu, itu jawaban maaf kamu yang tadi. Aku sudah memaafkan kamu dan sebagai gantinya gigi kamu."
Leon menurut saja, gak apa-apa gigi copot satu asalkan istrinya mau memaafkan kesalahannya yang banyak dari anak-anak masih di dalam perutnya sampai lahir ke dunia.
'Gigi gue copot hu ... hu ... hu ..., kalau gue buat kesalahan fatal lebih dari ini bisa di pastikan gigi gue habis sebelum waktunya,' nangis dalam hati.
Sedangkan Mika sangat puas setelah menonjok Leon sampai giginya copot satu.
Mika menyetir mobil sambil sesekali menatap Leon yang menutup mulutnya rapat-rapat, tadi sebelum masuk ke mobil Leon terlebih dahulu berkumur-kumur sampai darahnya di dalam mulut berkurang.
"Kamu gak marah kan sayang?"
"Enggak, kenapa memang." Belok arah sebab rumah sakitnya berada di sebrang sana.
"Setelah aku jujur tadi, kenapa saat kamu aku sakiti seperti itu kamu masih bertahan bersama anak-anak. Aku pikir kamu akan pergi begitu saja tanpa pamit,"
"Kamu ini konyol ya Leon, aku ini bukan anak kecil yang baru melahirkan anak. Umurku sudah dewasa bukannya sebaiknya orang dewasa melakukan hal yang dewasa juga pikirannya."
Leon di sentil dengan perkataan Mika, wanita baik dan tegas mana mungkin akan menyerah asalkan di jalan yang benar, memang beberapa saat Leon lupa jika Mika berbeda dengan wanita di luaran sana yang pikiran dan tingkahnya dewasa sebelum umurnya, Mika terpaksa dewasa karena keadaan yang memaksanya dewasa sejak kecil.
"Tapi, setelah nanti gigi kamu di perbaiki. Kamu harus jujur ke aku apa saja yang kamu lakukan dengan wanita itu. Awas saja kalau gak jujur, aku kasih kamu kesempatan berpikir dan merangkai kata-kata yang pas agar aku tidak menonjok pipi kamu yang sebelahnya."
Hanya tegukan salivanya yang menemani tenggorokan Leon, rasanya pahit sebelum bicara takut dan was-was.
__ADS_1
*
Wanita bijaksana dan tegas itu gak akan kabur begitu saja ya kakak-kakak, baiknya di bicarakan dulu Oke 🙏🙏🙏