
'Seno ... kenapa dia datang?' menatap ke arah kamar Mika putrinya dan disana ada Leon, bagaimana jika ketahuan.
Ternyata yang berkunjung tak lain adalah Seno berserta bawahannya yang cukup banyak di bawa ada sekitar 6 sampai 9 orang.
"Gawat."
Tok tok tok.
"Atom ... aku tau kamu ada di dalam dan juga ada putraku di dalam, aku masih bersikap baik padamu jika kamu mau memberikan Leon padaku, jangan coba-coba menyembunyikan putraku Atom." Teriak Seno dari luar rumah.
Leon yang mendengar suara di luar kamar Mika ia memilih melarikan diri dari pada Mika yang tidak bisa apa-apa untuk sekarang jadi korbannya, lagian cukup sampai sekarang Leon menyusahkan wanita yang teramat ia cintai dan sayangi.
"Maafkan aku sayang, aku akan berusaha keras untuk melindungi mu sayang. Untuk sekarang aku percaya papa tidak akan berbuat macam-macam padamu sayang." Mengecup dahi dan bibir Mika dan tak lupa anak-anaknya juga.
Leon melompat dari jendela kamar Mika dan mulai merembet ke bangunan tersebut secara hati-hati, bukannya takut akan ketinggian hanya tidak mau sampai ada orang yang mendengar apalagi tau jika dirinya baru saja menemui sang istri.
Ceklek.
Atom membukakan pintu rumahnya untuk Seno agar memeriksa rumahnya, paling tidak menantunya itu sudah dengar dan tau akan kedatangan papanya.
"Aku pikir kamu akan kolot dan tidak mau membukakan lagi pintu rumahmu untukku, ternyata tebakanku salah kamu masih mau membukakan pintu untukku, oh ya tanpa basa-basi lagi deh aku mau menjemput putraku beserta kedua cucu kembar yang tidak pernah aku harapkan punya darah dari wanita murah itu, aku harap kamu paham Atom apa maksud dari perkataan ku sekarang. Untuk kalian cepat geledah tempat ini secepatnya jangan sampai putraku lolos." Memerintah orang-orang bawahannya.
Ia juga langsung mencari kedua cucunya itu, setelah melihat lelapnya kedua cucunya ia menyuruh dua orang bodyguard nya untuk mengendong keduanya.
"Cepat gendong dan bawa pulang ke rumah saya, jangan sampai pengaruh negatif ada pada kedua cucu kembar."
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan dari Atom, Seno bergegas sesuka hatinya tanpa memikirkan perasaan Atom yang merasakan campur aduk.
"Seno, kenapa kamu begitu lancang mengambil mereka saat Mika sedang istirahat," hendak menghentikan Seno namun sia-sia saja sebab kedua tangannya di pegang erat oleh pengawal-pengawal Seno.
Atom meronta sekuat mungkin namun hasilnya sia-sia.
"Saya beri waktu sampai besok pagi untuk meninggalkan rumah kamu ini, agar Leon putraku bisa lepas dari belenggu putrimu. Oh ya satu lagi, aku berharap kita tidak akan bertemu lagi bahkan selamanya. Jika ingin kehidupan putri dan kedua cucu mu baik-baik saja di tanganku. Lagian kios kamu sudah hancur bukan, jadi sebaiknya segera pergi dari kota ini bila perlu berpindah negara sekalian. Ayo bergegas dan cari putraku sampai dapat." Memerintah dengan seenaknya sendiri dan enggan menatap Atom yang sekarang menjadi musuhnya.
Tubuh Atom merosot ke lantai, tangisnya pecah saat menyaksikan kehidupan yang begitu tidak adil pada putrinya, dia tidak bersalah akan hal ini kenapa ia di jadikan sasaran.
"Jika memang rumah ini pembawa petaka, aku akan menjualnya demi putriku. Aku tidak habis pikir kenapa Seno bukan Seno yang dulu yang baik, aku merasa seperti orang asing bahkan tidak kenal sama sekali dengannya sekarang."
Setelah itu Atom bergegas melihat ke kamar Mika, apakah mereka berbuat macam-macam sebelum mengambil kedua cucunya tadi. Ternyata tidak, Mika dalam keadaan baik-baik saja ternyata.
"Syukurlah kamu baik-baik saja nak, nanti saat kamu bangun apa yang harus aku jelaskan padamu nak. Mengenai Leon dan anak-anak kalian, ayah harus bilang apa nak. Ayah mohon jika nanti terjadi sesuatu, kalian harus tetap bersama ya." Doa seorang ayah pada putrinya.
Sopir taksi yang di pesan Atom kini sudah terparkir di depan rumahnya tak lupa membuka bagasi mobil untuk memasukkan beberapa barang penting yang sudah berada di koper dan beberapa tas.
"Mas ... tolong bantu saya dong mas." Atom meminta bantuan sopir itu untuk mengangkat tubuh Mika masuk ke dalam mobil.
Selesai dengan semuanya barulah Atom bernafas lega.
'Akhirnya ... bisa meninggalkan tempat yang sekarang tidak nyaman bahkan bak neraka ini, anda dari dulu aku tau sifat Seno seperti itu memandang orang lain aku tidak mau menikahkan apalagi menjodohkan dengan putranya yang kurang pintar untuk menjaga istri dan anak-anaknya, sungguh aku menyesal sekali kenal dengan kalian yang bisanya hanya menyakiti putriku.'
Perjalanan menempuh beberapa jam namun sampai sekarang Atom belum memutuskan untuk berhenti.
__ADS_1
"Maaf pak, saya masih banyak orderan. Kita sudah menempuh perjalanan satu jam lebih. Bapak mau saya mengantar ke kota mana Pak?" tanya sang sopir.
"Kota S saja lebih dekat dari sini, oh ya nanti lewat pelosok juga boleh jika berkenan saya akan membayar ekstra uangnya mas!" ucap Atom meyakinkan sang sopir.
Namun ternyata sang sopir tetap bersikukuh untuk tidak menuruti permintaan Atom untuk melewati jalan pelosok, sebab ia rindu dengan suasana pedesaan yang bersih.
"Maaf ya pak,saya tidak bisa. Taksi sesuai tempat tujuan dan lebih cepat lewat jalan tol ya pak." Sambil mengangguk meminta maaf.
Atom akhirnya mengiyakan saja, saat ini ia duduk di kursi sebelah kemudi sopir taksi. Mika berada di jok belakang tak lupa di beri pengaman agar Mika tidak jatuh ataupun pontang-panting. Selain itu Atom juga tidak mau menganggu istrahat Mika yang entah ia akan bangun kapan yang jelas beberapa jam saja mengubah keseluruhan hidupnya.
Sang sopir taksi tidak bisa mengendalikan laju kendaraannya, seperti ada yang sengaja menyabotase mobil ini.
"Maaf pak, sepertinya ada yang menyabotase mobil ini pak saat kita tadi belum masuk tol." Ucap sopir taksi terlihat panik.
Atom panik juga, bukan karena hawatir pada dirinya melainkan pada putrinya. Bagaimana dengan nasibnya nanti, tak lupa Atom terus mengucap asma-asma Allah dan sholawat nabi juga.
Kecelakaan naas itu adalah awal tragedi kecelakaan, Leon tidak tau jika istri dan mertuanya kecelakaan mobil di tol arah J ke S.
.
Suara monitor holter detak jantung terus menerus berpacu, tadi awalnya hilang lalu kembali lagi dan berdetak pelan-pelan. Pasien yang berada di meja operasi kini sudah lolos dari maut saat para tim Dokter berusaha keras untuk menolong pasiennya.
"Bagaimana dengan keadaannya pasca operasi?" tanya seorang pemuda, ia salah satu tuan muda pemilik rumah sakit besar yang ada di kota S.
"Bagus jika dia tidak kenapa-kenapa, saya hawatir dengan perempuan ini. Apalagi ..." mengantungkan perkataannya.
__ADS_1
Ia beranjak pergi setelah orang yang ia tolong sudah selamat dari maut, tapi Dokter yang menangani Mika belum berbicara banyak pada anak pemilik rumah sakit tersebut.