
Keesokan harinya, Alya membuka kelopak matanya karena merasa cahaya matahari penerpa wajahnya.
Alya merasa kepala pusing dan tidak enak badan, setelah beberapa menit ini ia bangun tapi tetap tidak beranjak dari ranjangnya.
Amel mengetok pintu kamar Alya, Alya beranjak dari ranjangnya menuju pintu dan membukakan pintu untuk Amel.
Setelah Amel masuk kamar Alya,
"kak, masih pusing?" tanya Amel.
"iya sedikit pusing dan juga kakak gak enak badan" jawab Alya.
"mendingan gak usah masuk dulu kak, nanti aku kasih tau Ayah sama Bunda soalnya mereka kemarin datang larut malam dan belum mengetahui jika Alya sakit" jelas Amel.
Amel meletakkan punggung tangannya pada dahi Alya,
"kak, badan kakak panas" tutur Amel.
"mendingan aku kasih tau Ayah sama Bunda dulu yah, kakak istirahat dulu" tambah Amel.
"iya Mel" jawab Alya sambil merebahkan tubuhnya kembali pada ranjang, hari ini sungguh Alya merasa tidak enak badan.
Amel membuka cendela kamar Alya yang belum sempat Alya buka dari tadi, setelah itu Amel keluar dari kamar Alya menuju kamar Ayah dan Bundanya.
"Ayah... Bunda....." panggil Amel sambil mengetok pintu.
Tidak lama kemudian pintu sudah terbuka,
"ada apa Mel pagi-pagi ke sini?" tanya Bunda sedangkan Ayah masih menatap Amel dengan kebingungan, tidak biasanya Amel mengunjungi kamar mereka di pagi buta seperti ini.
"itu kak Alya demam Yah, Bun" jawab Amel.
"serius Mel?" tanya bunda kaget.
"iya, kemarin dari sekolah kak Alya sakit kepala trus hari ini juga badannya panas Bun" jelas Amel.
__ADS_1
"ya sudah kamu temenin Alya dulu, bunda mau ambil kompresan" jawab Bunda dengan halus.
Mawar berjalan meninggalkan Amel dan Adi yang masih berdiri pada tempatnya.
"Mel ayuk ke kamar Alya, Ayah mau jengukin Alya" ucap Adi
"ayo yah" jawab Amel.
Sesampainya di kamar Alya, Adi mengecek suhu badan Alya menggunakan punggung tangannya.
"panas Al" tutur Adi.
"kamu kenapa bisa sakit begini?" tanya Adi.
"jadi gini Yah, kemarin setelah istirahat kak Alya sama temennya buru-buru ke kelas. Trus di jalan gak sengaja tertabrak sama temen, jadinya dahi kak Alya luka" jelas Amel.
"trus sampai hari ini tetap pusing yah" tambah Amel.
"jadi gitu, ya sudah sekarang kamu istirahat dulu ya Alya" ucap Adi.
Tidak lama kemudian, Mawar membawa kompresan untuk Aya dan segera mengompres Alya.
"kenapa kalian tidak kasih kabar kemarin?" tanya Mawar.
"maaf bun, kak Alya ngelarang Amel buat kasih kabar katanya dia mau istirahat aja" jawab Amel.
"maaf bun" tambah Alya.
"iya tidak apa-apa, kita mau ke dokter aja Yah?" tanya mawar pada Adi.
"gak usah bun biar Alya istirahat aja" jawab Alya.
"jika Alya maunya seperti itu tidak apa-apa" jawab Adi.
"sepertinya Alya memang membutuhkan seseorang yang bisa menjaganya setiap saat, apa aku percepat saja perjodohannya" batin Adi.
__ADS_1
"lagi pula aku juga selalu sibuk, untuk mengetahui Alya sakit begini saja telat" tambah Adi.
"ya udah Alya istirahat dulu, Amel hati-hati ke sekolah ya" ucap Alya
"siap kakk" jawab Amel.
"Mel, kamu siap-siap gih" ucap Mawar.
"baik Bun" ucap Amel dan meninggalkan kamar Alya.
"Bun, Ayah mau bicara sebentar" bisik Adi.
"ya Yah" jawab bunda ikut berbisik
"Alya, bunda keluar dulu yahh" ucap Mawar yang diangguki oleh Alya
"nanti kalau Ayah sama Bunda kerja kalau ada apa-apa kasih tau bi Sumi" tambahnya.
Adi dan Mawar keluar dari kamar Alya.
"ada apa Yah?" tanya Mawar.
"kasian Alya Bun, masak dia sakit kita tahunya telat gimana kalau kita segera percepat perjodohannya" jelas Adi.
"iya sih Yah, Bunda juga kepikiran gitu" jawab Mawar.
"kasian dia gak ada yang jagain sepenuhnya Bun, kita aja selalu sibuk ngurus pekerjaan" tambah Adi.
"iya Yah, sepertinya ini waktu yang tepat" jawab Bunda.
"baiklah kita kabari Halim dan Ani nanti" ucap Adi.
"baik Yah" jawab Mawar.
Mereka pun pergi menuju kamarnya untuk persiapan pergi bekerja.
__ADS_1