
Alya kini sudah dalam perjalanan pulang setelah matahari mulai tinggi.
Alya segera masuk ke pekarangan rumah neneknya dan sedikit mendengar perbincangan dari dalam rumah neneknya.
"rame sekali, apakah ada tamu?" batin Alya bertanya-tanya.
Alya mengetok pintu, dan bi Lala segera membukanya dan mempersilahkan Alya masuk.
"apa ada tamu bi? tanya Alya.
"iya non, tapi bibi kurang tau siapa sepertinya keluarga besar non" jawab bi Lala, sebenarnya bi Lala ikut serta dalam sandiwara ini dan menjalankan misi ektingnya.
"baiklah" jawab Alya.
Setelah sampai di ruang tamu Alya bersalaman pada tamu tersebut dan hendak pergi menuju kamarnya, sampai saat ini Alya belum mengetahui siapa tamunya karena sedari tadi ia hanya menundukkan pandangannya.
"Alya duduk dulu temani tamu kita" ucap nenek Ina.
Alya segera duduk di sebelah Amel masih tetap menunduk.
"lihatlah tamu kita Alya" ucap nenek Ina.
Alya mengangkat pandangannya dan mendapati Riski bersama kedua orangtuanya dan juga wanita tua yang mungkin adalah neneknya.
Meskipun tidak mengenal keluarga Riski tapi ia yakin itu orangtuanya karena Alya pernah melihatnya di sekolah saat penerimaan rapot.
"Riski,,kenapa bisa disini?" tanya Alya.
"Riski hanya menatap lekat wajah Alya dan tidak berani menjawab.
__ADS_1
"dia calon suami Amel" ucap nenek Ina.
"apa??" Alya yang kaget bukan main sampai matanya melotot mendengar jawaban neneknya.
"apa?? calon suami Amel, kenapa harus Riski" batin Alya,
Sepertinya saat ini hati Alya hancur berkeping-keping, bagaimana tidak Alya sudah mencintai Riski 3 tahun dan tidak pernah Riski terima dan saat ini Riski datang sebagai calon suami Amel.
"iya Alya dia calon suami Amel" tambah kakek Ali.
"oh Tuhan, kenapa takdirku seperti ini, aku mencintai Riski dari dulu dan saat ini perasaanku sama sekali tidak berkurang sedikit pun, apakah aku bisa menerimanya, hiks.." batin Alya.
"ini semua amanat dari kedua orangtua Amel sebelum kecelakaan sayang" ucap nenek Ina.
Mendengar itu, Alya merasa tidak mungkin menghancurkan impian dari kedua orang tua Amel. Alya pikir saat ini hanya pasrah yang bisa ia lakukan.
"apakah kamu menyetujuinya?" tanya nenek Ina.
"bukan begitu, nenek hanya meminta restumu, kau kan kakak dari Amel dan kamu juga harus memberi restu" jelas nenek Ina.
"haruskah aku menyetujuinya, mengapa begitu sesak dadaku, tapi aku juga tidak mungkin melarangnya karena ini amanat orang yang sudah meninggal, aku harus bagaimana Ya Allah" batin Alya.
Alya melirik Riski sebentar sebelum mengatakan jawaban dari mulutnya, terlihat Riski sedang menatap Alya sambil tersenyum.
"sepertinya hanya ada satu jawaban, lagi pula Riski tidak mencintaiku dan sepertinya dia berharap aku menyetujuinya" batin Alya.
"apakah ini alasan Riski selalu menolakku? sungguh kau adalah laki-laki yang bertanggung jawab menjaga amanah ini" batin Alya lagi.
Bukan hanya itu, banyak lagi suara hati Alya yang tidak mungkin bisa didengar siapapun kecuali dirinya sendiri dan Tuhan nya.
__ADS_1
"ba-baiklah aku merestuinya" jawab Alya terbata.
Semua orang tersenyum puas dengan jawaban Alya tidak terkecuali Riski.
"apakah keputusan ini tepat, tapi ini seharusnya sudah tepat" batin Alya.
"kau memang anak yang sangat baik Alya, kau rela kehilangan orang yang kau sayang demi keinginan orang tua Amel yang tidak ada kebenarannya" batin nenek Ina"
"baiklah aku masuk dulu, aku gerah habis jalan-jalan" ucap Alya dan pergi begitu saja dari hadapan semua orang.
Bukan karena kegerahan atau semacamnya, tapi karena Alya tidak kuat untuk menahan tangis dan hancurnya perasaannya.
Sampai di kamar Alya langsung menangis dalam diam agar tidak ada yang mendengarnya.
"Ya Allah, kuatkan hati hamba. hamba mohon kuatkanlah hati hamba" batin Alya.
Setelah lama menangis sampai mata Alya meninggalkan kantong khas orang menangis akhirnya Alya terlelap tidur dan melewatkan sarapannya.
"baiklah kita pulang dulu" pamit keluarga Riski.
"kakak ipar, bagaimana ektingku?" tanya Amel.
"lumayan" jawab Riski dan berlalu dari hadapan Amel.
"hanya lumayan, padahal menurutku sudah maksimal, kalau orang lain yang melakukannya pasti akan lebih buruk" kata Amel dengan suara kecil namun tetap Riski dengar.
Riski menghentikan langkahnya dan memanggil Amel.
Riski berbisik pada Amel "kau kan hanya diam Amel, ektingmu hanya sebatas itu tidak lebih".
__ADS_1
Riski sengaja mengerjai Amel dan langsung pergi tanpa mendengar respon dasi Amel.
"ih dasar......kesel" ucap Amel berteriak.