Alya Dan Riski

Alya Dan Riski
Ungkapkan Zein


__ADS_3

Setelah Alya dan Amel menyelesaikan kegiatannya di Mall, mereka segera pulang setelah dijemput oleh Deon.


.........


"Aku merasa bersalah sekali pada Alya" Batin Clara.


Clara pun segera pulang menggunakan mobil pribadinya.


"Clara, sudah pulang" Kata Mama Clara.


"Iya Mam" Jawab Clara.


"Oh iya salam dari temenku namanya Alya Ma"


"Oh iya waalaikumsalam" Jawab Mama Clara.


Clara segera pergi ke kamarnya lalu membersihkan diri.


"Aku harus bisa melupakan kak Riski, aku tidak mau merebut suami orang. Wanita macam apa aku ini" Batin Clara.


Sedangkan di rumah, Alya dan Amel sudah membereskan belanjaannya.


"Ada yang kurang gak ya?" Ucap Alya memeriksa belanjaannya.


"Ngak ada kayaknya kak" Jawab Amel.


"Ya udah kalau ngak ada yang kurang, kakak mau istirahat dulu. Capek nih habis belanja sama jalan-jalan juga" Ucap Alya.


"Oke kak" Jawab Amel.


Alya pun sampai di kamarnya dan hendak merebahkan tubuhnya lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi.


"Siapa sih ganggu orang mau tidur aja" Kesel Alya.


Alya melihat layar ponselnya yang menampilkan nama 'My love😘'.


Alya langsung melupakan kekesalannya dan dari kelihatannya Alya tidak ngantuk lagi malah cengar-cengir dia.


"Assalamualaikum" Ucap Alya.


"Waalaikumsalam" Jawab Riski.


"Ada apa?kok tiba-tiba nelfon?"


"Kangen nih. Masak gak boleh sih nelfon istri sendiri" Jawab Riski.

__ADS_1


Mendengar itu Alya tersenyum sendiri.


"Boleh dong, boleh banget" Jawab Alya.


"Al, aku mau bilang sesuatu nih"


"Ya bilang aja" Jawab Alya.


"Waktu itu, beberapa hari yang lalu Clara datang ke apartemen dan gak percaya sama pernikahan kita"


"Clara sudah berubah tau, dia datang ke Indonesia dan gak sengaja liat aku. Ya udah aku kasih bukti aja ke dia. Dia awalnya gak percaya tapi akhirnya percaya juga" Jelas Alya.


"Syukurlah"


"Ya sudah aku mau istirahat, nanti lagi ya" Pamit Alya.


"Oke sayang" Jawab Riski.


Alya pun mematikan telfonnya dan merebahkan diru di ranjang, mungkin karena terlalu ngantuk Alya langsung terlelap.


Beberapa hari kemudian, Alya hendak keluar dari kelas untuk segera pulang namun Zein memanggilnya.


"Alya.. " Panggil Zein membuat Alya berhenti melangkah lalu menoleh.


"Ya Zein, ada apa?" Tanya Alya.


"Tapi... "


"Ayolah Alya sekali saja, aku kan teman kamu" Potong Zein.


"Baiklah, aku jadi tidak rela melihat wajahmu begitu. Ya sudah aku telfon supirku dulu" Kata Alya.


"Baiklah" Jawab Zein.


Setelah Alya menelepon Deon, Alya dan Zein segera masuk mobil milik Zein.


Setelah sampai mengikuti arahan dari Alya, Zein menyetop mobilnya di depan rumah cukup besar dan mewah.


"Ini rumah kamu?" Ucap Zein, mereka berdua masih belum turun dari mobil.


"Iya, ya sudah aku turun dulu. Kamu gak mau mampir?" Tawar Alya, bagaimanapun Zein adalah teman baiknya. Alya harus menawarkan masuk.


"Ah tidak perlu aku akan segera pulang" Jawab Zein.


"Tapi aku harus membicarakan sesuatu sama kamu Alya" Kata Zein mampu membuat tangan Alya gagal membuka pintu mobil.

__ADS_1


"Bicara apa?" Tanya Alya.


"Aku... "


"Aku apa Zein?" Alya mulai penasaran dan menebak yang aneh-aneh di dalam otaknya.


"Aku... Aku suka sama kamu Alya, mulai pertama kita bertemu" Ucap Zein menunduk.


Bagai disambar petir, Alya begitu kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin teman baik bahkan sahabatnya menyukainya. Ternyata betul yang di bilang Riski. Kenapa Alya baru menyadari kebenaran ucapan Riski waktu itu.


"Tapi a-aku sudah punya pasangan Zein" Ucap Alya merasa bersalah kenapa harus Zein yang menembaknya setelah memiliki Riski.


"Jika belum apa kamu mau?" Tanya Zein lagi dengan menatap mata Alya.


"Pertanyaan macam apa ini?, dalam hati terdalam aku hanya ada Riski. Meskipun sekarang dia tetap menolakku hatiku tetap untuknya, apalagi sekarang aku adalah istri sahnya" Batin Alya.


"Alya?" Ucap Zein menyadarkan lamunan Alya.


"Maaf Zein, aku hanya menganggapmu sebagai teman dekat saja. Jika memang aku belum punya pasangan mungkin aku juga menolak. Karena kamu terlalu baik untuk aku" Jawab Alya, setidaknya perkataan Alya tidak menyakiti hari Zein.


"Siapa pacarmu Alya?, selama jalur kuning belum melengkung aku harap bisa mendapatkan hati kamu" Kata Zein lagi membuat Alya kehabisan jawaban.


"Masalahnya Zein, jalur kuning itu sudah lama melengkung. Aku harus jawab apa supaya tidak menyakiti perasaannya" Batin Alya.


"Begini... jadi aku sudah menikah Zein" Ucap Alya berkata jujur.


"Apa?kenapa kau baru bilang?, jika kau bilang saat baru kenal, aku mungkin akan berusaha melupakan perasaan ini Alya. Tapi sekarang rasa itu sudah jauh mengakar" Jawab Zein.


"Maafkan aku, sebenarnya sudah lama aku ingin memberitahukan ini padamu. Aku juga sudah menduga kau menyukai aku. Tapi usahaku selalu sia-sia" Jawab Alya.


"Sia-sia bagaimana?" Tanya Zein.


"Selalu ada yang memotong perkataanku seperti Fani waktu itu" Jawab Alya.


Zein hanya menunduk menahan rasa sakit di hatinya.


"Maafkan aku Zein" Ucap Alya memegang bahu Zein.


"Tidak kau tidak bersalah, aku yang salah Alya" Jawab Zein.


"Kita sama-sama salah. Maafkan aku" Ucap Alya.


"Mungkin di balik dukamu saat ini, ada jodoh yang lebih baik dariku untuk kamu Zein, jadi bersabarlah untuk menemukan jodoh sejatimu" Kata Alya lalu hendak membuka pintu mobil.


"Alya, tapi kita masih bisa berteman kan?" Tanya Zein, dari tatapannya mata Zein terlihat memerah.

__ADS_1


"Iya Zein, kau tidak perlu khawatir itu" Jawab Alya tersenyum.


"Sekali lagi maafkan aku" Alya turun dari mobil dan memasuki rumahnya sementara Zein melajukan mobilnya kembali.


__ADS_2