
Setelah sorenya, Amel segera mandi, segera sholat dan bersiap-siap pergi dengan Riski.
Amel sudah siap memakai baju putih rajut dan rok selutut bermotif kotak-kotak berwarna hitam.
Amel membiarkan rambutnya tergerai indah dan memakai makeup tipis yang membuatnya terlihat sangat cantik.
Amel mengambil tas selempangnya dan memakai sepatu berwarna putih andalannya, sepatu putih tersebut adalah sepatu kesayangan Amel karena sepatu tersebut hadiah dari Alya pada ulang tahunnya tahun lalu.
Amel memasukkan perlengkapannya ke tas selempangnya, tidak lupa Amel juga menaruh ponselnya.
Setelah semua selesai, Amel segera menuruni tangga.
"Mel, nih ada buah dari kebun belakang rumah kakek" panggil kakek Ali.
Amel menoleh dan melihat jam dipergelangan tangannya.
"masih ada waktu untuk nyantai 5 menit" batin Amel.
Amel menghampiri meja makan yang di atas mejanya berjajar rapi buah kebun kakek Ali yang ditanam sendiri.
Ada buah pepaya,pisang,mangga,rambutan,dan banyak lagi lainnya.
Kakek Ali dan Nenek Ina selalu berkebun buah karena untuk menghemat uangnya, meskipun keluarganya tidak berkekurangan tapi berhemat akan lebih baik.
Lagi pula jika menanamnya sendiri akan berbeda dari membeli, buahnya lebih pasti lebih seger apalagi setelah mengambilnya langsung disantap.
Amel memakan buah kesukaannya yaitu pepaya.
Selang satu menit sudah terlihat Alya menuruni tangga menuju arah meja makan.
"wih, lagi panen nih kek?" tanya Alya setelah sampai di meja makan dan segera duduk.
"iya nak" Jawab kakek Ali.
"Alya mau rambutannya boleh?" tanya Alya lagi.
"ya boleh dong, memangnya buah ini kita petik dari kebun cuma buat dilihat" jawab nenek Ina dan seisi ruangan itu pun tertawa.
Setelah puas memakan buah, akhirnya Alya memutuskan untuk minum.
"Mel, udah rapi aja mau kemana?" tanya Alya berpura-pura tidak tau, jelas-jelas Alya mengetahuinya karena pesan salah kirim itu tadi pagi.
__ADS_1
"ini mau ke toko kak" jawab Amel.
"toko? toko apa sih?" tanya Alya mencoba seperti orang yang penasaran.
"toko cincin Alya" jawab nenek Ina.
"ohh gitu" jawab Alya mengangguk.
"kak Alya gak marah gitu, aneh deh" batin Amel.
"Mel boleh nitip gak?" tanya Alya.
"boleh" jawab Amel.
"beliin gulali warna pink yang agak besar yahh biar kakak gak kekurangan kalau dibeliin yang kecil" ucap Alya.
"okeh tunggu aja kak" jawab Amel.
"makasih banyak Mel, ya udah aku ke atas dulu yah" pamit Alya.
Setelah itu Alya pergi meninggalkan meja makan menuju kamarnya.
"bukannya cemburu malah minta gulali, apa gulali lebih penting bagi kak Alya" batin Amel.
"ya udah Amel berangkat dulu" Amel mencium punggung tangan kakek neneknya dan pergi menuju rumah nenek Riski yang berdekatan.
Sampai saat ini Alya belum mengetahui jika rumah nenek Riski adalah di seberang, yang Alya tau bahwa Riski memiliki nenek di sekitar komplek ini.
Dan juga Alya belum mengetahui kalau teman kecilnya itu adalah Riski karena nenek Ina bilang lupa dengan nama anak itu dan Alya tidak berusaha untuk mencari tahu.
Setelah Amel sampai di rumah nenek Riski, Amel segera memberi salam dan mencium punggung tangan nenek Riski dan kedua orang tua Riski yang kebetulan ada di luar rumah menunggu kedatangan Amel.
"itu Riski udah di mobil ya Mel, hati-hati" ucap mama Riski.
"iya tante Amel pamit dulu" jawab Amel.
Amel segera masuk ke mobil Riski dan duduk di samping Riski.
"sudah siap?" tanya Riski sebelum melajukan mobilnya.
"siap" jawab Amel cepat.
__ADS_1
Riski pun segera melajukan mobilnya menuju toko cincin terkenal milik keluarganya untuk segera mengambil cincin tunangannya yang sudah lama dipesan.
Setelah selesai urusan cincin, Riski dan Amel segera memasuki mobil kembali.
"kita langsung pulang?" tanya Riski.
"mampir ke toko gulali dulu" pinta Amel.
"oke" jawab Riski dan segera melajukan mobilnya mencari toko gulali yang dimaksud Amel.
Selama perjalanan tidak ada percakapan apapun sampai Riski membuka suaranya terlebih dahulu.
"sejak kapan suka gulali?" tanya Riski.
"enggak, bukan Amel tapi kakak" jawab Amel.
"ohh gitu, jadi Alya nitip gulali?" tanya Riski lagi.
"iyaps" jawab Amel sambil tersenyum.
Setelah sampai di sebuah toko yang dituju, Riski segera memarkirkan mobilnya.
"tunggu disini biar aku yang beli" ucap Riski membuka pintu mobil.
"bentar dulu" Amel menahan Riski.
"kenapa?"
"gulalinya warna pink yang besar"
"iya"
Riski segera membeli dan setelah selesai kembali kedalam mobil memberikan gulali tersebut pada Amel.
"berapa?"tanya Amel.
"tidak usah" jawab Riski.
"Alya suka gulali ya?" tanya Riski dan Amel hanya mengangguk.
"jika belinya sebesar itu nanti dia bisa diabetes" jelas Riski.
__ADS_1
"tidak akan katanya kakak setiap aku bilang seperti itu juga" jawab Amel.
Riski terkekeh mendengar jawaban Amel, setelah itu Riski melajukan kembali mobilnya menuju Rumah.