
Pagi harinya, Alya terbangun dari tidurnya karena mendengar kegaduhan di rumahnya, hari ini adalah hari tunangan Amel dan Riski, jadi semua anggota keluarga sudah sibuk dengan kegiatannya meskipun masih terlalu pagi.
Alya segera mandi dan melaksanakan sholat subuh lalu membersihkan kamarnya sebelum turun membantu pekerjaan hari ini.
"Masih sangat pagi, apakah harus sepagi ini yah, lagi pula matahari belum muncul dan juga diluar masih agak gelap" batin Alya.
Alya pun turun menuju dapur karena kehausan, di dapur Alya bisa melihat kesibukan para pelayan yang sedang menyiapkan hidangan.
Alya segera membuka lemari es dan meminum air mineral.
Setelah minum, Alya hendak kembali ke kamarnya karena ia belum berganti baju tidurnya meskipun sudah mandi.
Dengan samar Alya melihat seorang laki-laki dan Alya langsung berlari memeluknya.
Hari masih cukup gelap dan lampu sudah di matikan saja maka dari itu Alya tidak bisa melihat tapi ia yakin itu adalah kakak laki-lakinya.
"Kak Rian, aku kangen sama kakak" ucap Alya sambil mempererat pelukannya.
"Kenapa tidak kasih tau kalau mau kesini" tambahnya.
Karena tak kunjung mendapat jawaban dari kakaknya, Alya pun melonggarkan pelukannya dan betapa terkejutnya Alya mendapati Riski di depannya.
Alya sangat terkejut bukan main, sampai ia memastikan beberapa kali namun sudah pasti itu bukan kakaknya melainkan Riski.
Alya pun menundukkan wajahnya karena malu, untung saja para pelayan tidak melihatnya karena jarak dari kulkas dengan ruang masak cukup jauh.
"Kenapa?salah orang?" ucap Riski setelah melihat Alya yang sepertinya malu terhadap perbuatannya.
"Maaf" jawab Alya singkat tanpa melihat Riski.
__ADS_1
"Mangkanya sebelum sembarangan meluk pastikan dulu siapa yang kamu peluk" ucap Riski lagi.
"Iya maaf, lagian kamu ngapain disini kan aku kira kakak" jawab Alya tidak mau kalah.
"Aku cuma cari barang nenek yang ketinggalan di meja makan" jawab Riski.
"Kamu cantik juga pakek baju gitu" ucap Riski menyadari Alya masih memakai baju tidurnya.
Alya malu mendengar ucapan Riski, ia semakin menunduk.
"Apaan sih dia, pasti dia ngerjain aku, awas aja aku pasti bales" batin Alya.
"Ya udah aku balik ke kamar duluan" ucap Alya dan langsung pergi tanpa mendengar jawaban dari mulut Riski.
Riski hanya tersenyum sendiri mengingat kelakuan Alya, bagaimana mungkin Alya tidak bisa membedakan antara kakaknya dan Riski.
"Apa dia tidak bisa melihat karena lampunya mati" batin Riski.
"Eh iya nek" jawab Riski.
"Udah ketemu barangnya yang dicari?, kok kamu malah ngelamun" ucap nenek Ina.
"Iya nek ini mau dicari" jawab Riski.
"Oh ya sudah, nenek tinggal masak dulu yahh" pamit nenek Ina yang hanya diangguki oleh Riski.
Setelah barang yang dicari ketemu, Riski berpamitan pulang.
Sedangkan Alya langsung mengunci pintu setelah sampai di kamarnya, Alya sangat malu mengingat kejadian tadi.
__ADS_1
"Kenapa aku sangat ceroboh sekali, masak aku salah orang gini kan jadi malu" pikir Alya.
"Ya sudahlah lagian aku udah minta maaf" pikirnya lagi.
Alya pun segera mengganti bajunya lalu turun dan membantu pekerjaan di dapur.
Acara di mulai pada sore hari, tapi semua persiapan sudah mulai dikerjakan dari pagi.
Sebenarnya rasa Alya terhadap Riski tidak pernah berkurang sedikitpun, tapi Alya berusaha mengikhlaskannya demi masa depan Amel.
Alya pun turut serta membantu pekerjaan dari masak sampai membersihkan rumah.
"Alya tidak usah capek-capek nak, kan ada pelayan" ucap nenek Ina.
"Gak papa kok Alya masih gak capek nek" jawab Alya sambil tersenyum.
"Ya sudah lebih baik kamu bangunin Amel, kayaknya dia belum bangun udah agak siang ini" pinta nenek Ina dan Alya menyetujuinya.
Alya pun pergi ke kamar Amel dan membangunkan Amel.
Sementara nenek Ina hanya duduk santai di sofa ruang keluarga, ia masih kecapean dan memilih istirahat sebentar.
"Alya anak yang sangat baik dan juga tegar, semoga aku tidak salah merencanakan ini" batin nenek Ina.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa like dan komen yah dan juga votenya jangan lupa, selamat membaca, salam dari Autor😁😀