Alya Dan Riski

Alya Dan Riski
Gulali


__ADS_3

Riski dan Alya selalu berangkat kuliah bersama dan setiap pulang kuliah selalu menyempatkan waktu untuk jalan-jalan.


Seperti hari ini sehabis pulang dari kampus, Alya dan Riski sudah berada di depan penjual gulali.


Tidak usah ditanya untuk apa mereka di sana, sudah pasti membeli gulali. Makanan kesukaan Alya dari dulu kan hanya gulali.


"Sayang, kita beli gulali warna apa?" Tanya Riski sambil berfikir warna gulali yang akan dibelinya.


Di sana sudah ada warna merah muda, hijau, putih, dan kuning.


"Aku ingin warna hijau saja. Karena kan aku udah sering beli yang merah muda, jadi hari ini harus beda sayang" Jawab Alya menunjuk gulali pilihannya.


"Baiklah, kalau begitu aku yang hijau juga"


"Kenapa harus sama? Kau bisa memilih sendiri warna apa yang kau mau sayang" Kata Alya.


"Menurutku apapun yang kamu pilih adalah yang terbaik. Maka dari itu aku bertanya terlebih dahulu padamu sayang" Jawab Riski tersenyum.


Alya yang mendengarkannya hanya bisa tersenyum bahagia, suaminya ini sudah sangat pandai membuat Alya bahagia walau hanya dengan hal kecil seperti gulali.


"Ya sudah kalau begitu pak, kita pesan gulalinya dua yang warna hijau ya pak" Ucap Riski pada penjual gulalinya.


"Ini dek" Penjulannya memberikan gulali sesuai pesanan Riski.


"Kalian baru jadian yah dek, harmonis banget dek" Kata penjual gulalinya.


"Ah bagaimana ya pak jelasinnya" Riski tampak bingung mendengar perkataan penjual gulali itu.


"Oh atau kalian sudah lama pacaran dek, dan tetap harmonis sampai saat ini. Wah kalian berdua hebat bisa bertahan lama pacarannya" Tebaknya.

__ADS_1


"Tidak pak bukan itu juga" Jawab Riski.


"Kita sudah menikah pak" Lanjut Riski membuat bapak penjual gulali tersendak karena kebetulan sedang minum.


"Apa? Kalian sudah menikah?"


"Wah.. Semoga bahagia dan langgeng selalu yah dek. Menikah muda memang pilihan terbaik untuk menghindari Zina" Jelas bapaknya.


"Maaf dek bapak kira kalian pacaran, soalnya kebanyakan pasangan yang datang ke sini sama mudanya seperti kalian tapi mereka pacaran. Gak nyangka ternyata adek udah nikah."


"Iya pak, kami memang lebih milih nikah muda seperti yang bapak jelaskan untuk menghindari hal-hal larangan Allah"


"Kalau boleh tau berapa lama kalian menikah dek?" Tanya.


"Sudah dua tahun pak" Jawab Riski.


"Aamin pak, terimakasih doanya" Jawab Riski.


Riski pun melangkahkan kaki mendekati Alya dan memberikan gulalinya.


"Makasih sayangku..." Ucap Alya dengan senangnya.


"Gak gratis yah" Ucap Riski.


Cup...


Alya mencium pipi kanan Riski.


"Udah kan?" Tanya Alya dan Riski menggeleng.

__ADS_1


Cup.... cup....


Kali ini Alya mencium pipi kiri Riski dan bibirnya.


"Oke udah, makasih sayang" Ucap Riski tersenyum bahagia.


"Hmmm sama-sama" Jawab Alya sambil ikut tersenyum.


"Dari dulu aku sangat senang melihat kau tersenyum seperti ini, semoga kita bisa selalu bahagia" Batin Alya.


Mereka menikmati gulalinya sampai habis lalu segera pergi ke mobil dan pergi pulang.


Karena sekarang sore hari dan Alya bersama Riski tidak sengaja lewat di dekat pantai yang indah mereka pun berhenti di sana.


"Wah ini sangat indah" Ucap Alya.


"Iya, apalagi mataharinya sangat indah" Riski menunjuk matahari yang sudah hampir terbenam.


"Ayuk foto" Ajak Alya mengambil ponsel dan mengabadikan keindahan pantai.


"Kenapa harus foto sih, kita kan cukup menikmatinya" Ucap Riski.


Dari dulu memang Riski sangat tidak suka berfoto-foto. Ke sini foto, se sana foto, sangat merepotkan. Apakah mereka yang berfoto tidak merasa malu terhadap orang yang memperhatikan mereka, itulah yang ada dipikirin Riski.


"Sudahlah jangan marah, apa salahnya kau menuruti permintaan istri tercinta" Kata Alya.


"Iya iya, untuk kamu apapun akan ku lakukan. Jika saja ini bukan kamu pasti aku tidak akan pernah mau diajak berfoto-foto seperti itu" Jawab Riski.


Alya sekali lagi tersenyum mendengarnya.

__ADS_1


__ADS_2