
Setelah puas menikmati keindahan dan segarnya udara di taman, tak terasa hari mulai semakin siang.
Jam menunjukkan pukul 12.30 yang menandakan Alya sudah sekitar satu setengah jam berada di taman tersebut.
Menurut Alya satu setengah jam yang ia habiskan itu sangat singkat tapi Alya harus segera melaksanakan sholat zuhur sebelum waktunya habis.
"Non, saya masih memiliki banyak pekerjaan rumah, jadi mari kita kembali kedalam rumah" ucap Hana.
"Baik Hana, tapi aku boleh meminta satu permintaan?" Tanya Alya.
"Tentu nona selama saya masih bisa mengabulkannya" jawab Hana.
"Bagaimana jika kita sholat zuhur bersama" ucap Alya.
"Tapi non, musholah pelayan berbeda dengan musolah nona" jawab Hana.
"Tidak apa sekali saja" pinta Alya.
Akhirnya Hana mengiakan dan mengikuti permintaan Alya.
Alya sangat senang bisa punya pelayan seperti Hana, usianya yang hanya lebih tua tiga tahun dari Alya menjadi lebih mudah jika berkomunikasi dengannya.
Se tahu Alya para pelayan cara berbicaranya kaku namun tidak dengan Hana, jadi Alya lebih senang karena Hana bisa diajak bicara dan bercerita meskipun baru kenal.
"Hana tunggu aku disini dulu aku mau ambil mukenah di lemari" pinta Alya dan Hana mengangguk.
Alya segera memasuki kamar dan anehnya di sana tidak ada Riski.
"Kemana dia yahh?, aduh ya sudahlah jika tidak ada dia,aku harus mengambil mukenah bukan nyari dia" pikir Alya.
Setelah mengambil mukenahnya, Alya berjalan bersama Alya menuju musolah.
"Musolahnya di mana?" Tanya Alya.
__ADS_1
"Sebentar lagi sampai non" jawab Hana.
"Tapi jika nona nanti sholat sendiri bisa di kamar karena di kamar nona ada tempat sholatnya, kalau musolah biasanya di pakai jika ada keluarga datang dan bersholat berjamaah" jelas Hana.
"Ohh begitu" jawab Alya sambil menganguk-anguk.
Mereka pun bersholat bersama dengan Hana yang mengimami.
Pada awalnya Hana tidak menyetujui usulan Alya untuk dirinya menjadi imam, namun karena Alya terus memaksa dan memang menjadi imam harus yang lebih tua maka akhirnya Hana menyetujui.
"Kalau boleh tau kepala pelayan di sini kamu ya Hana?" Tanya Alya setelah melipat mukenahnya.
"Tidak non, kepala pelayan di sini namanya bu Lusi tapi hari ini beliau masih sakit" jelas Hana.
"Ohh begitu" jawab Alya.
"Nona mau ke kamar atau bagaimana?" Tanya Hana.
"Eh iya aku mau ke kamar" jawab Alya.
"Tidak tau nona, mungkin tuan Riski lagi makan yang pasti tidak keluar rumah" jelas Hana.
"Ya sudah Hana, aku mau ke kamar dulu" ucap Alya.
"Baik nona, jika butuh apapun panggil saya" jawab Hana.
Setelah Alya memasuki kamar Alya tidak sengaja melihat se ekor kecoa lewat di depan kakinya.
Sontak Alya langsung membalikkan badan hendak membuka pintu namun pintu terbuka dulu karena Riski ingin masuk.
Alya langsung berlari dan bersembunyi di belakang tubuh Riski dan menutup wajahnya.
"Kau kenapa?" Tanya Riski setelah melihat tingkah konyol Alya.
__ADS_1
"Itu ada kecoa di dalam" jawab Alya.
"Hahahaha" Riski tertawa terbahak-bahak.
Alya membuka matanya dan melihat Riski sedang mentertawakannya.
"Kenapa?bukannya bantu malah ketawa" ledek Alya.
"Iya sebentar aku cek dulu" ucap Riski setelah berhenti tertawa dan segera mengecek kamarnya.
Setelah cukup lama mencari kecoa yang dimaksud Alya, Riski keluar dari kamar dengan membawa kecoa di tangannya.
"Haaaaa, jangan dekat-dekat" teriak Alya sambil berjalan menjauh dari Riski.
"Ini hanya kecoa dan sudah aku tangkap tidak akan memakanmu, ahahahah" seketika tawanya kembali terdengar.
"Sana cepet buang" pinta Alya.
"Iya sebentar" Riski langsung membuangnya.
"Huh akhirnya kau pergi monster" ucap Alya memegangi dadanya dan mengelusnya penuh kelegaan.
"Hahahah" Riski kembali tertawa.
"Kenapa kau hobi mentertawakanku, bukannya kau cowok es tapi kalau suruh tertawa malah kelewatan gini" ledek Alya.
"Iya iya maaf jangan marah, masak kecoa kecil gitu dibilang monster kan lucu" jawab Riski.
"Ya suka-suka aku lah" jawab Alya semakin memanyunkan bibirnya.
"Dasar penakut" ucap Riski dan berlari meninggalkan Alya,
.
__ADS_1
.