
3 hari kemudian, Alya berduduk santai di sofa kamarnya setelah sarapan bersama.
Alya sudah bertekat akan melupakan Riski demi kebahagiaan Amel, saat ini Alya berusaha lebih mendekatkan diri kepada sang pencipta agar diberi kelapangan dada dan keikhlasan hatinya.
Alya duduk sembari memainkan ponselnya untuk mengecek apakah ada informasi dari orangtuanya ataupun temannya.
Alya sudah membalas semua pesan dari orangtua dan beberapa temannya, Alya memilih membaca novel yang sengaja ia bawa untuk mengisi waktu kosong seperti sekarang.
Alya menaruh ponselnya disebelah tempat ia duduk saat ini namun ponselnya tetap aktif hanya saja Alya sedang tidak mengotak-atiknya.
Selang beberapa menit, tiba-tiba ponsel Alya berbunyi yang menandakan ada pesan masuk, Alya memberi tanda sampai mana ia membaca buku lalu menutup bukunya dan segera membuka ponselnya.
Mungkin ada pesan penting dari seseorang, Alya langsung membuka pesan tersebut.
Tertulis nama "Riski" pengirim pesan tersebut, sebelum Alya membuka pesan kebiasaannya adalah mengecek nama pengirim pesan.
Jika tertulis nama temannya yang tidak penting Alya mengabaikannya, namun jika tertera nama orangtua dan teman dekatnya Alya segera membuka,membaca dan segera membalas pesan tersebut.
Alya bimbang antara membuka atau tidak pesan tersebut, semua pilihan ada ditangannya.
"aku baca apa tidak yahh, aku bertekat untuk melupakanmu meski aku tidak yakin bisa melupakanmu"
"ah tidak aku harus mengabaikannya" pikiran Alya.
Alya meletakkan kembali ponselnya tanpa membuka pesan dari Riski, Alya mulai membuka bukunya kembali namun pikirannya tidak fokus bahkan apa yang ia baca tidak dapat ia cerna.
Dari dulu Alya suka membaca novel karena Alya dengan mudah mengerti alur cerita novel yang dibacanya, namun baru kali ini Alya harus mengulang bacaannya tapi tetap saja tidak dimengerti, pasti itu karena Alya sedang memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"kenapa pesan itu membuat otakku tidak tenang begini, harus berapa kali aku mengulangi kalimat yang sama ini" batin Alya.
Alya pun menutup kembali bukunya dan merebahkan diri diranjang sambil memegang ponselnya.
"aku harus membukanya, dari pada pikiranku terganggu karena penasaran lebih baik aku membuka pesannya apapun risikonya aku akan tanggung" batin Alya.
Dengan ragu Alya membuka pesan tersebut, karena saking takutnya Alya sampai menutup mata padahal pesannya jelas sudah tertera di layar ponselnya namun enggan Alya baca.
"kalau begini kapan aku bisa baca, masak dengan huruf saja aku takut" batin Alya.
Alya pun memberanikan diri langsung membuka matanya dan membaca pesan dari Riski.
Riski : "nanti sore kita cari cincin tunangannya"
deg.....
Alya menangis dalam diamnya, hanya itu yang bisa dilakukannya saat ini.
"kenapa kau harus mengirim pesan itu untukku" ucap Alya sangat pelan agar dari luar kamar tidak terdengar.
Setelah lelah terus menangis, Alya mengambil ponselnya yang telah ia lempar tadi, Alya segera menonaktifkan ponselnya sebelum ada pesan "maaf salah kirim" dan apalah itu.
Alya menaruh ponselnya pada nakas, Alya menuju kamar mandi dan segera mencuci wajahnya.
Setelah itu Alya memilih untuk sholat duha agar perasaannya bisa lebih tenang.
"Ya Allah.. semoga hamba bisa melupakan Riski jika memang kami tidak berjodoh" doa Alya.
__ADS_1
......
Riski bingung mengapa pesan darinya tidak di balas bahkan tidak dibaca.
Riski kembali membuka ponselnya, mungkin saja setelah ditinggal beberapa menit sudah ada balasan.
Riski kaget,
"astaga...kenapa aku sampai salah kirim apalagi aku salah kirimnya ke Alya, aduh bagaimana ini.." batin Riski.
Riski segera menulis pesan maaf dan kembali ia kirim pada Alya, Riski sangat menyesali perbuatannya pada Alya.
"pasti perasaan dia hancur setelah membaca pesan ini, ini semua salahku kenapa bisa salah kirim sih.." gerutu Riski.
Riski pun mengirim pesan pada orang yang seharusnya menerima pesan tersebut.
Riski : "Mel, nanti sore kita pilih cicinnya"
Amel : "oke"
.
.
.
****jangan lupa like,komen,dan vote nya yahh readers...
__ADS_1
selamat membaca**** ..