
Alya yang melihat itu semua menelan salifanya dengan susah, Alya pun langsung memalingkan wajahnya.
"Kenapa?tergoda?" ucap Riski.
"Apaan sih, sana cepet ganti" jawab Alya tanpa melihat Riski.
"Tenang aja Al, pemandangan kayak gini bakalan kamu lihat setiap hari" jawab Riski.
"Ih apaan sih, sana cepet pergi" ucap Alya lagi.
"Iya iya" jawab Riski sambil cengengesan lalu segera pergi dari hadapan Alya untuk mengganti bajunya.
Alya pun memutar kembali pandangannya dan Riski sudah tidak ada lagi di depannya, akhirnya Alya merasa lega dan menghembuskan perlahan nafasnya secara berulang-ulang.
"Huh, kenapa sih dia berubah drastis gini, dulu aja sok coll sekarang malah gitu kelakuannya, udah narsis juga suka goda-goda" batin Alya.
Alya sibuk memaki-maki Riski di kamarnya.
Sementara Riski terlihat tersenyum penuh kemenangan yang tidak pernah luntur dari bibirnya.
Bagaimana Riski tidak tersenyum puas, dia sudah berhasil mengerjai Alya dengan menggodanya.
"Akhirnya aku bisa menang berdebat dengan dia, dulu aku masih bisa tahan, tapi sekarang sudah tidak lagi Alya" batin Riski.
Setelah Riski mengganti baju, ia segera bersiap-siap untuk kepulangannya ke Bandung.
"Alya sarapan sini" ajak Ani melihat Alya minum di dapur.
"Iya ma, bentar Alya ajak Riski dulu" jawab Alya dan berjalan menuju kamarnya.
Setelah sampai di kamar,
"Tuh udah di panggil buat sarapan, ayo turun" ajak Alya.
"Iya, sana duluan aja" jawab Riski.
__ADS_1
Setelah Alya sampai di meja makan dan duduk di kursi.
"Mana Riskinya?" Tanya Ani.
"Tadi udah Alya panggil tapi Alya suruh duluan ke sini" jawab Alya.
"Ohh gitu, eh itu dia orangnya" ucap Ani sambil menunjuk Riski yang menuruni tangga.
"Baru muncul aja" tambah Ani.
"Iya ma" jawab Riski.
"Ya udah ayo makan" ajak Halim.
Setelah selesai.
"Tuan, barangnya sudah ada di mobil semua" ucap supir keluarga Riski.
"Baik sebentar lagi kita berangkat" jawab Riski.
"Kalian berangkat sekarang?" Tanya Ani.
"Iya ma" jawab Riski.
"Baiklah, kalian hati-hati ya" ucap Ani.
"Baik ma" jawab Riski.
"Alya ayo berangkat" ajak Riski.
"Eh kita gak usah pamit sama keluargaku?" Tanya Alya.
"Kita kan sudah pamit kemarin" jawab Riski dan Alya tidak memperpanjang perdebatan mereka dan memilih mengikuti kemauan Riski.
Setelah bersalaman dan berpamitan, akhirnya mobil yang ditumpangi Alya dan Riski pun berjalan menjauh dari pekarangan rumah.
__ADS_1
"Apakah perjalanannya lama?" Tanya Alya.
"Tentu" jawab Riski singkat.
"Ya sudah aku ingin tidur dulu, nanti kalau sudah sampai bangunkan" ucap Alya lagi sedangkan Riski tidak menjawab.
Alya pun mulai menutup matanya dan terlelap tidur.
Setelah beberapa jam, akhirnya mobil tersebut sudah sampai pada pekarangan rumah dan berhenti.
"Hey, bangun" ucap Riski berusaha membangunkan Alya tapi Alya tidak bergerak sedikitpun.
Karena Alya tak kunjung bangun, Riski pun turun lalu membukakan pintu Alya lalu menggendongnya.
Alya tidak bangun juga meskipun sudah berada dalam gendongang Riski.
Semua pelayan yang ada di sana terkejut melihat pemandangan ini, tapi mereka memilih diam dari pada ada yang kehilangan pekerjaannya.
Setelah sampai kamar, Riski merebahkan tubuh Alya pada ranjang.
"Masak udah pindah tempat masih gak nyadar juga" batin Riski.
Riski pun memilih membersihkan diri terlebih dahulu dan membiarkan Alya melanjutkan tidurnya.
Alya mulai terbangun dan mengumpulkan kesadarannya.
"Aduh, ini di mana" pikir Alya.
.
.
.
__ADS_1