
Keesokan harinya...
Alya sudah sampai di kampus dan melihat Zein berjalan tidak terlalu jauh dari Alya.
"Mungkin untuk hari ini aku tidak akan mengganggunya. Dia juga butuh waktu sendiri" Batin Alya.
Alya terus berjalan dibelakang mahasiswa lain agar Zein tidak melihatnya dari depan.
Setelah Zein memasuki kelas, Alya keluar dari persembunyiannya dan pergi ke kamar mandi.
Alya sengaja melakukan ini agar saat dia tiba di kelas bel sudah berbunyi.
Alya segera kembali karena bel sudah berbunyi.
"huft.." Ucap Alya setelah duduk di kursinya, nafasnya belum teratur.
"Kenapa kak?" Tanya Amel.
"Ngak ada, habis dari kamar mandi denger bel langsung lari deh ke sini" Jelas Alya dengan nada masih ngosngosan.
"Hahahaha, kasian" Ucap Amel.
Setelah beberapa menit, guru pengajar pun datang dan memulai materinya sampai jam istirahat tiba.
"Ayo ke kantin" Ajak Amel.
"Oke ayo, udah lapar nih" Jawab Alya.
"Zein gak mau ikut?" Tanya Amel.
"Ngak deh, aku gak lapar soalnya. Besok aja yah" Jawab Zein.
"Oke deh, ya udah ayuk" Ajak Amel pada Alya.
Setelah sampai di kantin, tidak sesuai keinginan. Alya dan Amel yang sudah lapar harus mengantre di bagian belakang.
"Apes banget nih, kemarin padahal sepi" Ucap Amel.
Mereka sudah beberapa menit mengantre dan tinggal dua orang lagi maka giliran Alya.
__ADS_1
Zein di kelas merasa bosan dan menyusul untuk ke kantin.
Saat orang di depan Alya sudah tidak ada alias selesai membeli makanan. Alya hendak melangkah namun tiba-tiba ada mahasiswi mengedepani Alya tanpa antre. Siswa yang mulai tadi mengantre termasuk Alya melihat mahasiswi ini dengan tatapan kesal.
"Hey kamu" Amel berkata tapi orang itu tidak menjawab.
"Hey denger gak sih kupingnya" Ulang Amel memegangi baju orang itu dari belakang dan akhirnya menoleh.
"Kenapa?" Ucapnya, dia seperti tidak merasa bersalah sama sekali.
"Kamu kan Fani" Jawab Amel.
"Apasih sok kenal" Kata Fani dengan nada sedikit nyaring.
"Tau ah gak peduli namanya siapa, ngapain kamu di situ hah.." Amel sedikit membentak.
"Ya mau beli makanan lah, emang masalah?" Jawabnya.
"Kalau mau beli makanan ngantre dulu tuh di belakang, kamu ngak liat siswa lain pada ngantre lama dan kamu seenaknya main nyerobos" Jelas Alya.
"Hmmm" Jawabnya mengembalikan piring tadi dan hendak kembali ke belakang namun di penuhi ocehan.
"Hey kamu" Ucap Amel lagi dan Fani kembali menoleh.
"Kamu bilang apa tadi hah.. " Amel semakin geram.
"Ngak ada" Jawabnya santai.
"Kamu kira aku budek, jelas banget kamu ngomong tadi" Kata Amel.
"Iya mungkin budek, bukan aku ya yang bilang kami sendiri" Jawabnya penuh enteng.
"Kamu kalau jadi orang bisa ngak sih gak usah ngeselin" Kini Amel sudah memegang kerah baju Fani.
"Oh ngajak berantem kamu hah... " Bentak Fani.
"Di sini kamu yang salah, minta maaf ngak sama kak Alya" Bentak Amel lebih keras.
"Bodo Amat" Ucapnya lalu hendak berjalan dan Amel membalikkan tubuhnya secara paksa.
__ADS_1
Amel langsung menjambak rambut Fani, tidak mau kalah Fani membalas menjambak rambut Amel.
Alya yang kaget tiba-tiba dengan adegan ini langsung menghampiri mereka dan mencoba menarik Amel. Sedangkan Fani ditarik oleh mahasiswi lain yang tadinya mengantre.
"Udah dong Mel" Ucap Alya berusaha menarik Amel tapi tidak bisa.
"Stop...... " Dengan suara kerasnya mampu membuat Fani dan Amel berhenti seketika dan keadaan menjadi sunyi.
"Fani kamu jangan sakiti Amel" Tegas Zein.
"Kenapa kak Zein belain dia, kakak tau dia yang ngajak berantem duluan" Jawab Fani yang kini berdiri di depan Zein.
"Cukup Fani, kamu yang salah. Aku liat kejadiannya dari awal tapi aku baru kesini saat kalian ribut" Jelas Zein.
Fani tidak bisa berkata apapun, jika Zein sudah melihat kejadian aslinya.
"Kenapa kakak selalu membela mereka, kak Zein tidak pernah memikirkan perasaan aku. Dan kak Zein berubah semenjak dekat sama mereka" Fani mulai menangis.
"Ya aku membela mereka karena aku berpihak kepada yang benar dan mereka adalah teman baikku. Satu lagi aku memang dekat dengan mereka tapi hanya sebagai teman. Dan lagi pula aku mau dekat dengan siapapun bukan urusanmu" Jelas Zein panjang lebar dengan nada membentak.
"Sudahlah Zein, ayo Mel kita obat lukamu" Ucap Alya menuntun Amel.
Amel begitu acak-acakan, rambutnya tidak rapi sama sekali, wajahnya berkeringat dan terdapat beberapa luka di wajah dan lehernya.
"Duduk sini" Alya dan Amel sudah berada di dekat taman sekolah dan duduk di kursi yang ada disana.
Alya mengambil kotak p3k dan Amel menunggu di sana.
"Kamu ini kenapa sampai seperti ini Mel" Ucap Alya sambil mengobati wajah Amel.
"Aduh kak, pelan-pelan dong. Amel gak mau Fani ngerendahi kita, dia sudah keterlaluan kak" Jelas Amel masih sedikit kesal.
"Tapi kamu jadi begini kan Mel" Alya merasa bersalah.
"Tidak apa kak, malahan Fani lebih parah lukanya dari pada Amel. Dia pantas mendapatkan cakaran bertubi-tubi dari aku. Malahan yang tadi kurang" Jelas Amel.
"Ya sudah lain kali jangan main cakaran dong kan kamu kena juga nih"
"Gak papa ini bidangnya Amel. Kalau dulu Amel masih bisa tahan diri dengan Fani tapi kali ini dia kelewatan batas kak" Jawab Amel dan Alya hanya menggeleng-geleng dengan pernyataan Amel.
__ADS_1