
Setelah Riski berangkat, keluarga besar pun pulang.
Sesampainya Alya dirumah, tidak seperti biasanya Alya kelihatan lemas dan tak bersemangat beda sekali dengan karakter aslinya yang jujur, ceria, dan selalu tersenyum.
Kini senyum Alya hilang karena kepergian Riski, yang di takutkan Alya setelah mereka berpisah seperti ini akan ada orang ketiga yang akan menghancurkan rumah tangga Alya.
Meskipun Alya sangat percaya pada Riski yang tidak mungkin melakukannya tapi hati Alya tetap bimbang.
"non Alya kenapa?" tanya Lusi.
"tidak ada, saya mau tidur hanya kelelahan saja" jawab Alya lalu pergi menuju kamarnya.
"semoga Tuhan menjaga cinta kalian berdua nona, saya saja tidak tahan melihat kalian berpisah seperti ini, rasanya saya ikut sedih apalagi nona Alya" batin Lusi.
Lusi pun melanjutkan pekerjaannya yang tersisa.
Alya merebahkan diri di ranjang dengan malas dan melihat ponselnya apakah ada telfon dari Riski namun hasilnya 'tidak ada'.
Karena tidak ada panggilan dari Riski Alya pun melempar ponselnya ke sembarang arah lalu mulai menutup matanya.
Tapi bukannya tidur malah pikiran Alya tambah kacau mengingat-ngingat Riski.
Alya meraba samping ranjangnya yang biasanya di tiduri Riski.
"aku tidak kuat Riski, hiks.....aku tidak mungkin bisa tidur sendiri di sini" batin Alya.
Alya mulai menangis sampai tidak terasa mulai terlelap tidur.
Setelah jam menunjukkan pukul 14.20 Alya segera bangun dan melihat dirinya sendiri di pantulan cermin.
Matanya terlihat berkantong dan hidungnya merah karena sedari tadi Alya menangis sejadi-jadinya.
Alya masuk kamar mandi dan berendam pada air hangat yang mungkin bisa mengurangi beban pikirannya.
Setelah 30 menit berendam, Alya keluar dari kamar mandi lalu melaksanakan sholat ashar setelah azan dikumandangkan di masjid.
__ADS_1
Alya memasang mukenahnya.
"biasanya aku akan sholat bersamamu dan akan ada canda tawa diantara kita, tapi kali ini sepi tanpa suara tawa mu, aku....ah tidak aku harus kuat" batin Alya.
Sebuah air mata mengalir di pipi Alya dan Alya langsung menghapusnya.
Alya pun mulai sholat sampai selesai lalu berdoa.
"Ya Allah kuatkan hati hamba, semoga hamba dan suami hamba tetap ditakdirkan bersama, Amin...." doa Alya.
Setelah sholat, Alya kembali membaringkan dirinya dan mengambil ponselnya yang tadi siang sempat Alya lempar.
Alya membuka Albumnya, dan melihat foto Riski yang pernah ia ambil waktu itu.
Alya mengelus wajah Riski di ponselnya menggunakan jarinya.
"aku sudah bilangkan pasti nanti kita akan berjauhan seperti ini, untung saja waktu itu aku sempat mengambil fotomu dari ponselku dan aku juga mengirim fotoku ke ponselmu" batin Alya.
Alya kembali mencari foto yang lain.
tiba-tiba saja ada yang mengetok pintu dan Alya segera meletakkan ponselnya setelah menyimpan foto Riski sebagai walpaper.
Alya membuka pintu dan mendapati Amel bersama Adit.
"Amel...."Alya langsung memeluk Amel.
Amel tau saat ini perasaan Alya sedang kacau dan cara terbaik untuk menenangkannya adalah memberikan pelukan hangat, ya itulah yang Amel sering lakukan dulu jika suasana hati Alya sedang tidak baik.
"sabar kak, kakak pasti kuat" ucap Amel mengelus punggung Alya.
Mendengar ucapan Amel, Alya hanya mengangguk dan kembali menangis.
__ADS_1
Adit hanya tersenyum di belakang melihat kedua gadis bersaudara itu.
"kau beruntung Riski bisa memiliki Alya yang sangat mencintaimu, dan kau memang pantas untuk itu" batin Adit.
"Amel akan menginap di sini beberapa hari kak" ucap Amel sambil melonggarkan pelukannya.
"tapi Mel..."
"kak Riski yang memberitahu Amel kalau kakak tidak bisa tidur sendirian" ucap Amel lagi.
"hmmm baiklah, tapi apakah bunda mengizinkan?" tanya Alya dan Amel mengangguk sambil tersenyum.
"baiklah kalau begitu, ayo kita makan malam bersama" ucap Alya sambil tersenyum, lebih tepat senyum yang di paksakan.
Mereka pun makan malam bersama dirumah Riski sampai selesai.
"baiklah kalau begitu, aku pamit pulang yah" ucap Adit.
"iya hati-hati" jawab Amel sedangkan Alya hanya mengangguk.
Adit pun pulang, Alya dan Amel kembali ke kamar.
"biar aku tidur di sofa ya kak" ucap Amel tidak nyaman akan tidur diranjang.
"jangan Amel, kamu tidur di ranjang sama kakak" jawab Alya.
"tapi...apakah kak Riski tidak marah?" tanya Amel.
"tidak mungkin dia bukan orang yang kejam kok" jawab Alya meyakinkan.
Amel pun menuruti keinginan Alya dan tidur disebelah Alya.
"setidaknya aku tetap tidur berdua meskipun bersama Amel" batin Alya.
Amel sudah tertidur sedangkan Alya masih mengecek ponselnya apakah ada pesan atau telfon dari Riski.
__ADS_1
Ternyata tidak ada.
"sudahlah, mungkin dia sudah tidur karena kecapean" batin Alya.