
3 hari kemudian.
Amel sudah berpamitan pulang pada Alya. karena sudah 4 malam Amel menginap di rumah Alya.
Alya mengantar Amel sampai depan pintu rumahnya dan ternyata Adit sudah menunggu Amel di depan pintu.
"kenapa gak ketok pintu Dit?" tanya Alya karena Adit menunggu di luar tanpa memberitahukan.
"tidak,aku takut mengganggu kalian" jawabnya datar.
"tapi kamu jadi nunggu lama kan jadinya" kata Alya lagi.
"tidak masalah" jawab Adit sambil tersenyum.
"ya sudah kak, Amel pulang duluan yah, kakak jaga diri baik-baik" ucap Amel sambil melambaikan tangan.
"iya, kalian hati-hati, dan kamu Adit jagain adik aku dengan baik, ok" kata Alya.
"iya Alya, pasti aku akan jaga Amel dengan baik, ya sudah kita pamit pulang" jawab Adit dan Alya hanya mengangguk.
Setelah kepergian Amel, Alya mengunjungi taman pelangi yang biasanya Alya kunjungi bersama Riski.
"kali ini akan baru terasa kesepiannya, apalagi Amel sudah pulang" ucap Alya sambil memegangi bunga-bunga di sana.
"ah kenapa kita harus kuliah berpisah begini sih" gerutu Alya.
"tapi beberapa hari lagi aku akan mulai kuliah, aku harus tetap semangat dan lagi pula aku dan Riski tetap berkomunikasi" jawabnya sendiri.
__ADS_1
Alya duduk di kursi yang khusus untuk dua orang, itulah kursi yang pernah Riski bilang bahwa kursi itu khusus untuk diduduki Alya dan dirinya.
"kenapa sekarang aku duduk sendiri Riski? katanya kita akan duduk berdua disini" ucap Alya mengusap kursi sebelahnya.
Alya segera menuju kamar setelah cukup lama berada di taman dan mengobati sedikit rasa rindunya.
Alya membersihkan diri lalu duduk santai di sofa kamarnya.
Alya tidak sengaja melihat foto pernikahannya yang berada di nakas lalu langsung mengambilnya, Alya mengelus fotonya bersama Riski lalu penciumnya
"biasanya kamu yang selalu meminta di cium karena aku membuat salah, tapi kali ini...." Alya tidak mampu menahan air matanya yang begitu saja membasahi pipinya.
"dan juga jika aku menangis pasti kau yang akan menenangkanku dan memberi lelucon yang menurutku tidak lucu" tambah Alya.
tok....tok...tok....
"nona, anda belum makan dari tadi pagi. Saya sudah membuatkan nona sarapan di meja jika nona ingin makan" jelas Lusi.
"tidak, aku tidak mau makan. Aku tidak lapar Lusi" jawab Alya berusaha menahan tangisnya.
"nona tidak boleh begini, nona harus tetap menjaga kesehatan nona agar tuan Riski disana bisa fokus belajar" jelas Lusi dan Alya langsung menangis sejadi-jadinya.
"Lusi, apakah aku boleh memelukmu untuk beberapa detik?" tanya Alya.
"tentu nona, seharian pun boleh" jawab Lusi lalu Alya menghambur ke pelukan Lusi.
"aku sudah berusaha Lusi, tapi aku selalu terbayang padanya dan saat mengingat momen bersamanya aku malah jadi seperti ini" ucap Alya lalu melonggarkan pelukannya.
__ADS_1
"nona harus kuat, ini adalah ujian rumah tangga kalian nona, kalian pasti bisa" jawab Lusi meyakinkan tapi Alya keliatan ragu-ragu saja.
"apakah kamu sudah berubah tangga Lusi? dan apakah masalah rumah tangga seperti ini?" tanya Alya.
"belum non, tapi saya cukup memahami masalah rumah tangga dari orang tua saya non dan katanya masalah rumah tangga itu tujuannya untuk membuat pernikahan kalian lebih kuat non" jawab Lusi.
"dan seperti orang bilang rindu akan membuat cinta semakin dalam diantara kalian berdua" tambah Lusi.
Alya menarik nafas dalam.....
"ah baiklah aku tidak akan takut mencoba" jawab Alya yakin dan Lusi tersenyum mendengarnya.
"dan nona harus segera sarapan sebelum telat dan nona bisa sakit nanti" kata Lusi.
"baiklah aku akan memakannya" jawab Alya lalu menuju dapur.
Lusi tersenyum melihat Alya yang sudah lebih baik karena sarannya, dan Alya juga sudah mau sarapan membuat Lusi tenang.
Lusi mengambil ponselnya yang sedari tadi ia letakkan di kantong bajunya.
"bagaimana tuan?" tanya Lusi.
"terimakasih Lusi karena telah memberi Alya semangat, dan jangan biarkan dia sakit" jawab Riski dari seberang.
"baik tuan, saya pastikan nona tetap sehat" jawab Lusi lalu Riski mematikan telfonnya.
Riski tersenyum mengingat perkataan Alya bahwa Alya sangat merindukannnya.
__ADS_1
"Alya, aku juga sangat merindukanmu. Tapi mau bagaimana lagi aku harus tegar menghadapi ujian ini. aku janji akan segera menjumpaimu karena aku sendiri juga sangat merindukanmu" batin Riski.