Alya Dan Riski

Alya Dan Riski
Berusaha Menerima


__ADS_3

Alya masih terlelap dalam mimpinya, entah mimpi indah atau buruk yang pasti kemungkinan besar adalah mimpi buruk.


Alya mulai membuka matanya dengan susah payah dan mulai menggeliat lalu bangun dari ranjang tempat terakhir kegiatannya.


Alya menuju cermin yang lumayan besar dan bisa memantulkan setengah dari badan Alya. Alya mulai melihat pantulan diri sendiri dalam cermin.


"mengapa sampai begini" tutur Alya sambil memegang matanya yang sembab.


Alya pun memutuskan untuk segera mencuci muka agar semua orang tidak mengetahui mata sembabnya.


Setelah mencuci muka Alya melihat pantulan dirinya lagi di cermin yang sama.


"sudah terlihat lebih baik" ucapnya sembari tersenyum.


tok...tok...tok...


Alya bergegas membukakan pintu, setelah pintu terbuka Alya mendapatkan bi Lala yang membawa sebuah piring berisi nasi goreng dan sebuah gelas berisi air mineral.


"ini sarapannya non, tadi non melewatkan waktu sarapan" ucapnya.


"iya bi makasih" jawab Alya mengambil bawaan bi Lala.


"baik non, bibi pamit dulu" ucapnya lagi yang diangguki oleh Alya.


setelah Alya meletakkan makanannya di sebuah meja kecil, ia melirik sebentar pada jam bulat di dinding.


Rupanya jarum pendek menunjuk angka sembilan dan jarum panjang menunjuk angka dua.

__ADS_1


"sudah jam sembilan lebih, kenapa terasa sangat singkat" batin Alya.


Alya tidak terlalu memperdulikan sekarang jam berapa yang pasti saat ini Alya harus segera mengisi perutnya yang kelaparan itu.


Alya mulai memakan makanan yang di bawakan oleh bibi tadi sampai habis tanpa sisa, bahkan jika bisa akan menambah tapi untuk memintanya Alya sedikit malu dan memilih mengurungkan niatnya lagi pula saat ini sudah kenyang.


tok...tok...tok....


"apakah itu bi Lala, tapi aku belum sampai 15 memakannya kenapa sudah datang kembali" pikir Alya.


Alya mendekati pintu dan segera membukanya, ia mendapati Amel yang sedang berada di depan pintu.


"A-amel" ucap Alya.


Sedari tadi Alya sudah melupakan kejadian yang membuat hatinya terluka begitu dalam dan sekarang tokoh utamanya datang membuat Alya mengingat kembali kejadian tersebut.


"kak, apa aku bisa bicara dengan mu?" tanya Amel ragu-ragu.


"duduklah" ucap Alya setelah Amel masuk ke kamarnya.


"ada apa?" tanya Alya setelah Amel dan dirinya menduduki ranjang.


"kak maafkan Amel, sama sekali Amel tidak mengetahui semua ini" jelas Amel langsung menghambur dalam pelukan Alya.


Setelah beberapa menit mendengar kata maaf dari Amel, Alya segera melonggarkan pelukannya.


"dalam hal ini kakak tidak menyalahkan siapapun dan tidak ada yang perlu dimaafkan" jelas Alya menahan air mata.

__ADS_1


"aku tau kak, tapi aku sendiri yang merasa bersalah, aku tau bagaimana perasaanmu, kau tidak mungkin dapat menerimanya secepat ini" Amel memegang kedua tangan Alya.


"sudahlah Mel, ini sudah menjadi takdir kakak, terlalu lama mencintai seseorang yang bahkan tidak memiliki perasaan apapun pada kakak" jelas Alya, meski kelihatan tegar di luar tapi tidak bisa dipungkiri hati Alya yang sangat terluka mengucapkan kata-kata tersebut.


"tapi kak....." belum selesai Amel melanjutkan kata-katanya, Alya menutup mulut Amel dengan jari telunjuknya.


"lakukanlah tugas yang diamanahkan orangtuamu, jangan pikirkan kakak, kakak akan baik-baik saja" ucap Alya dan segera memalingkan wajahnya agar Amel tidak melihat sebuah air mata yang berhasil lolos dari matanya, dengan cepat Alya mengusapnya.


"ucapan macam apa ini yang keluar dari mulutku, jelas-jelas aku tidak mungkin baik-baik saja" batin Alya.


Sekali lagi Amel kembali memeluk Alya dengan erat, Amel tau bagaimana perasaan Alya saat ini, meskipun berusaha tegar tapi di dalam hatinya pasti sangat banyak luka yang dipendam, hanya itu yang bisa Amel pikirkan.


"Mungkin dengan pelukan hangat bisa mengurangi kesedihan kakak" pikir Amel.


Amel semakin mengeratkan pelukannya pada Alya, berusaha menyalurkan ketenangan pada diri Alya.


"*sudahlah ini sudah takdirku, jika aku memaksakan egoku aku tidak akan bisa hidup tenang. Mungkin Tuhan sedang merencanakan yang terbaik untukku" batin Alya.


"setidaknya aku harus memikirkan Amel, dia berhak bahagia dengan laki-laki pilihan orang tuanya, aku tidak boleh menjadi penghalang diantara mereka" batin Alya lagi*.


.


.


jangan lupa tinggalkan jejak like, dan komen yahh.


jangan lupa juga vote karya ini.

__ADS_1


salam dari Autor.


selamat membaca..


__ADS_2