
"Awas aja kalian berdua akan aku balas" geram Fani.
Sepertinya Fani mulai menyusun rencana untuk membalas Alya dan Amel.
"Kau sudah merebut kak Zein dan sekarang kalian mempermalukan aku, lihat saja pembalasanku yang akan lebih kejam dari kalian" Fani tersenyum licik.
Setelah beberapa hari, hari ini luka Amel sudah sepenuhnya sembuh tinggal bekasnya saja yang masih ada.
Alya dan Amel sudah mengobrol bersama di kelas sebelum bermulainya pelajaran.
Zein tidak masuk hari ini, entahlah beberapa hari ini Zein tidak masuk tanpa alasan.
Setelah guru datang mereka mengikuti pelajaran sampai selesai.
Sementara Riski hari ini sedang di pesawat untuk pulang, Riski sengaja tidak mengabari Alya agar bisa membuat kejutan.
Alasan Riski pulang adalah untuk merayakan anniversary ke-2 dengan Alya.
Riski sudah tidak sabar sampai di rumah, dia juga sudah izin untuk seminggu tidak akan mengikuti pembelajaran di kampusnya.
Di kampus, Alya dan Amel sudah berada di pinggir jalan menunggu jemputan.
Amel sudah di jemput oleh Adit menggunakan motornya.
"Kak, gimana ini aku udah dijemput"
"Ya gak papa, kamu duluan aja. Bentar lagi supirku datang kok"
"Ya udah kita duluan yah, hati-hati kak" Pamit Amel.
"Kalian yang hati-hati" Jawab Alya.
"Duluan Al" Pamit Adit lalu melajukan motornya.
Alya menunggu sendirian sambil sesekali melihat arlojinya karena sudah lama Alya menunggu namun tidak ada yang menjemput.
__ADS_1
Tiba-tiba Alya menerima sebuah telfon dari Deon.
"Maaf non ban mobil kempes di jalan, saya tidak bisa menjemput tepat waktu" Ucap Deon.
"Ya sudah aku akak pulang sendiri"
"Hati-hati non"
"Iya"
Alya pun mematikan ponselnya karena baterainya habis.
Alya berjalan di koridor kampus berharap ada angkutan umum lewat namun di luar harapan, tidak ada yang lewat sama sekali.
Sampai satu mobil berhenti di depan Alya dan turunlah seorang ibu hamil menghampiri Alya.
"Dek boleh tanya?" Tanyanya.
"Iya bu, ada yang bisa saya bantu?"
Belum sempat Alya menjawab tiba-tiba Alya dibekam dari belakang dan Alya merasa pusing lalu pingsan.
"Bawa dia"
"Baik nona" Jawab pria kekar yang berhasil membuat Alya pingsan.
.......
Alya mulai terbangun dan merasakan mual dan pusing. Alya membuka matanya perlahan dan melihat tempat asing di depannya.
Kedua tangan Alya diikat kebelakang kursi, Alya bingung tempat apa ini dan siapa yang melakukan ini padanya.
Sampai ada orang masuk ke dalam dan Alya tidak bisa melihatnya namun yang Alya yakin itu adalah perempuan.
"Hay Alya"
__ADS_1
Setelah dekat Alya benar-benar bisa melihat itu siapa, betapa terkejutnya Alya setelah tau siapa orang di depannya.
"Fa-Fani" Kaget Alya.
"Iya ini aku, kangen ya" Fani tersenyum licik.
"Kenapa kamu melakukan ini Fani, aku salah apa sama kamu. Kenapa kamu sangat membenciku" Bentak Alya.
"Apa kamu bilang? kamu salah apa? dan kamu merasa aku jahat, ahahah apakah kamu bodoh dan tidak melihat kesalahan kamu sendiri" Jawab Fani.
"Tapi aku salah apa? apakah ini karena kemarin di kantin?"
"Itu salah satunya, tapi kau juga melakukan yang lebih" Jelas Fani dan berjalan membelakangi Alya.
"Kau merebut kak Zein dari aku Alya, dan aku sudah sangat lama menyukainya" Fani mulai menangis.
"Tapi tidak apa, biangnya sudah ada disini. Bersiaplah menerima kematianmu Alya" Tersenyum licik.
"Apakah kamu yang merencanakan ibu hamil tadi itu?"
"hmmm pintar sekali" Jawabnya.
"Dan mobil Deon kempes juga ulah kan?"
"Yaps itu juga karyaku"
"Kenapa kamu sekejam ini Fani, dan asal kamu tau aku dan Zein cuma sahabat tidak lebih. Jika kamu mencintainya maka berjuanglah dengan cara bersih" Tegas Alya.
"Aku tidak peduli aku kejam atau tidak. Yang penting aku bisa mendapatkan kak Zein lagi dan menyingkirkan musuhku"
"Sadarlah Fani, kita masih mahasiswa. Apakah pantas ada pembunuhan di usia kita" Alya berusaha menyadarkan Fani.
"Ada, aku lah orangnya" Jawab Fani lalu keluar dari ruangan itu.
"Fani..... Tunggu.... Kita hanya sahabat tidak lebih" Alya berteriak berharap Fani bisa percaya padanya.
__ADS_1
Jangan lupa like dan vote. Mampir juga ke karya baru autor dengan judul "With You"