
Galih berjalan mendekati Rena yang tatapan nya seakan ingin menerkam Galih.
" Kamu ingin saya harus bagaimana? " Tanya Galih dengan nada sedikit pelan.
" Kenapa, setiap Saya tanya Mas Galuh hanya jawab satu kata, dan apakah Mas tidak senang Saya tinggal disini. Saya ingin selama hamil dekat dengan suami, manja sama suami. Tapi kenapa Mas Galuh sekarang berubah setelah kecelakaan itu? "
" Kalau Saya katakan bahwa Saya ini Galih, kamu nggak akan pernah percaya. Saya Galih, bukan Galuh."
" Lucu kamu Mas, yang meninggal dunia itu Galih bukan Mas Galuh. Sudahlah, Saya harus bisa tahan emosi. Kamu kan sedang sakit, nanti Saya akan carikan Dokter kejiwaan yang benar - benar bagus."
" Terserah kamu saja, Saya juga ingin stress Saya hilang."
" Sayang, apapun terjadi, Saya akan tetap mencintai kamu."
Galih tidak memperdulikan lagi, dengan Rena yang masih berbicara. Dirinya lebih memilih masuk ke kamar mandi.
Galih pun menyalakan Shower nya dirinya membasahi rambut dengan kedua tangan dia sandarkan di dinding.
" Apa kabar kamu, Mas Kangen sama kamu. Mas sungguh tersiksa, mas nggak bisa hidup dalam kebohongan."
******
Puspita pun menyenderkan kepala nya pada bahu Ikbal, yang sedang asik bermain Game di kost an nya.
" A, apa mau sampai sore Saya melihat pacarnya main game terus. "
" Tanggung sayang."
Puspita pun langsung menjauhi Ikbal dan langsung meraih tasnya dan akan pergi meninggal kan kost an Ikbal.
" Yank, mau kemana? "
" Pulang, ngapain main kesini malah yang punya rumah main game terus. "
Ikbal pun meletakkan stik game nya, dan langsung meraih tangan Puspita hingga duduk kembali.
" Maaf sayang, maaf ya." Ucap Ikbal sambil mendekati bibir tipis Puspita.
"Bilang maaf enak saja, tetap saja kayak gitu lagi."
Ikbal langsung menarik tengkuk leher Puspita, mencium bibir nya.
" Maaf ya, Aa janji nggak akan pernah lagi lakukan kayak tadi."
" Janji."
" Janji sayang. "
*******
Heru duduk di kursi kampus sambil memandang laptop nya, dan pikirannya pun tidak tertuju pada Laptop, namun pada Puspita.
" Kenapa saya nggak bisa melupakan kamu." Ucap Heru pelan.
" Setelah kamu punya Pacar, kamu sudah nggak pernah hubungi kakak lagi."
" Bro." Sapa teman Heru yang duduk di samping nya.
Heru menoleh dan tersenyum ke arah nya, lalu melanjutkan mengetik tugas nya.
" Cewek yang sering sama kamu mana? "
" siapa? "
" Yang sering jalan sama kamu, dia nggak masuk kuliah?"
" Dia, anak kelas regular. Dia masuk ke kelas kita hanya sesekali saja."
" Dia Pacar kamu? "
__ADS_1
" Di bilang mantan Pacar juga boleh."
" Jadi kalian putus?"
" Di bilang putus juga nggak, di bilang Pacar juga nggak."
" Maksudnya gimana sih?
*******
" Jadi cerita nya begitu? " Ucap Ida.
" Iya, lebih baik menerima Cinta orang yang jelas, dari pada Saya menunggu yang tidak jelas. Buat apa coba, menolak ada yang benar - benar Cinta." Ucap Puspita.
" Benar kata kamu, kak Heru seharusnya kalau Cinta jangan diam saja, ungkapin walau itu cara dia yang mungkin sangat berbeda." Ucap Evi.
" Tapi Saya kadang nggak habis pikirnya, dia yaudah gitu saja saat tahu Saya menerima Cinta A Ikbal. "
*******
Sambil tugas piket malam, Ikbal duduk di pos sambil memeriksa ponsel memantau info group dan sesekali berbalas chat.
Senyum Ikbal mengembang, saat sang pacar mengchat dirinya.
My Love
Lagi piket?
Me
Betul.., lagi ngapain? "
My Love
Lagi Kangen sama Pacar Saya.
Me
My Love
Saya hanya ingin bilang, Saya Cinta kamu, Iove you. "
Me
I love you too.
Ikbal tersenyum sendiri, saat membaca kiriman pesan dari Puspita.
******
" Jadi begini rasanya punya Pacar. " Ucap Puspita sambil berulang membaca pesan dari Ikbal.
" Puspita."Panggil Tante Tini.
" Ada apa Tante? " Tanya Puspita.
" Ada tamu?"
" Siapa? "
" Lihat saja."
Puspita pun berjalan ke arah ruang tamu, dan melihat Galih duduk berhadapan dengan Om Waluyo.
" Maaf kan Saya om saat itu, saya memang sudah ada niatan untuk melamar Puspita. Namun karena yang Saya cerita kan pada om tadi, Saya nggak bisa melakukan lamaran itu."
" Om maaf kan, tapi seharusnya kamu katakan saat pada hari itu juga."
" Maaf kan Saya , saat itu pikiran Saya benar - benar kacau om."
__ADS_1
Om Waluyo melihat Puspita, dan menyuruhnya duduk dan Om Waluyo pun pergi meninggal kan Puspita dan Galih.
" Ngapain Mas kemari? "
" Mas hanya ingin mengatakan apa yang terjadi pada Mas saat itu, dan kenapa Mas bisa menikah."
" Lantas untuk apa Mas kemari? "
" Mas hanya ingin, jujur sama keluarga kamu."
" Mereka juga sudah melupakan nya, dan mas nggak usah jauh - jauh datang kemari hanya untuk masalah yang nggak penting."
" Ini penting bagi Mas, kamu tahu sampai sekarang Mas masih mencintai kamu, sampai sekarang Mas belum bisa menerima pernikahan ini."
" Kalau belum menerima, kenapa Mas melepaskan Saya begitu saja. Dan maaf Mas, sekarang Saya sudah ada yang punya."
Galih terdiam dan memandang ke arah Puspita, lalu menundukkan kepala nya.
" Siapa? "
" Ikbal, Polisi yang Mas kenal."
" Kamu mencintai nya? "
" Sangat mencintai nya."
" Apakah, tidak ingin kembali sama Mas, dan akan Mas urus perceraian nya."
" Mas akan menceraikan istri Mas, punya hati nggak Mas? " Ucap Puspita sambil menatap tajam ke arah Galih.
" Kalau sudah niat untuk pernikahan yang tidak seharusnya terjadi, dari awal Mas tolak. Saya nggak Mau jadi pelakor."
" Mas akan tetap mencintai kamu, saat yang tepat nanti Mas akan mengambil kamu kembali. sebelum janur kuning itu ada."
" Terserah, mungkin saat itu Saya sudah tidak mencintai Mas lagi."
******
" Jujur sama om, kamu masih mencintai Galih?"
" Katakan sama kami Puspita? " Ucap Tante Tini.
" Kalau masih mencintai Mas Galih, apakah pantas mencintai suami orang. Apakah pantas julukan untuk Saya adalah seorang pelakor."Jawab Puspita.
" Saya sekarang mencintai A Ikbal, sedang mencintai nya."
" Kami berharap semoga kamu tidak kecewa di kemudian hari."
" Nggak ada yang di harapkan lagi Tante, Saya sudah tak ada rasa lagi, mungkin sekarang masih, tapi lama - lama nggak akan."
******
" Sudah urusan nya? " Tanya Nugi.
" Sudah." Jawab Galih singkat.
" Sudahlah, ini mungkin takdir kamu menikah dengan Rena. Terima saja Rena , dia juga status nya sudah menjadi istri kamu. "
" Suatu saat kalau dia sudah ingat semuanya, saya ingin melepaskan nya."
" Kamu yakin, saat itu Puspita masih mencintai kamu dan dia belum menikah? "
" Kalau memang benar Puspita jodoh Saya, dia nggak akan pergi, sejauh dia pergi melangkah dia akan tetap kembali lagi sama saya."
******
" Hi...???
Panggilan suara yang sangat dikenal dan lama tak berjumpa. Dengan senyum mengembang dari kedua nya.
__ADS_1