
" Kakak....!!! " Alexa berlari saat melihat Rena tertembak di bagian dada sebelah kanannya sedangkan Galuh tertusuk pisau yang mengenai perut nya.
" kamu nggak akan pernah bisa lari, apalagi kamu sudah tertembak."
" Mas Galuh, biar yang berwajib mengurus nya, jangan Mas Galuh kotori tangan mas." Ucap Alexa saat tiba di rumah sakit, melihat Galuh dan Rena berlari hingga Alexa mengikuti mereka berdua.
Melihat Galuh yang tertusuk hingga darah yang keluar banyak Alexa langsung menolong Galuh, hingga lupa akan Rena yang hampir tumbang.Dengan banyak kesempatan, Rena berusaha bangkit dan berlari.
Galuh yang melihat mencoba menodongkan kembali senjatanya, namun Alexa halangi.
" Jangan Mas bunuh sekarang, dia tak akan bisa jauh. Biar suami nya juga menyaksikan sendiri kelakuan istrinya. Saat nya sekarang, Mas muncul di hadapan Mas Galih."
******
Galih berlari saat seorang perawat mengabari kondisi Puspita, Galih memang meminta tolong pada salah satu perawat untuk mengabari kondisi Puspita, karena Galih yang tak mungkin datang setiap saat karena Pak Anto yang sangat membencinya.
Hiks... hiks... hiks...
suara tangisan terdengar dari suara Tante Tini dan Tante Lia mamah Puspita. Kondisi Puspita sempat down karena percobaan pem*****han.
Beberapa Polisi pun berjaga di depan pintu kamar Puspita, dan Galih memberanikan diri untuk masuk.
" Mau apa kamu kemari? " Bentak Pak Anto saat melihat Galih.
" Mas, sabar ini rumah sakit." Ucap Tante Tini.
" Saya ingin bawa Puspita pergi dari sini, nyawa dia dalam bahaya, dan Saya nggak sudi anak Saya di dekati sama kamu. Apalagi meminta restu untuk menjalin hubungan kembali."
" Baik Om, kalau Om ingin Saya melihat Puspita yang terakhir kali, dan memang kita tak bisa di berikan kesempatan itu, ijinkan Saya melihat dia untuk yang terakhir kalinya."
Tante Tini menganggukkan kepalanya dan memberikan setuju pada Galih, sedangkan Heru hanya menatap tajam ke arah Galih yang mendekati ranjang Puspita.
Galih berjongkok dan mendekatkan mulut nya ke telinga Puspita sambil memegang tangan Puspita. Heru yang melihat itu semua membuang wajah nya, dan lebih memilih menjauh namun Om Waluyo melarang Heru untuk keluar.
" Bangun Puspita, jangan tidur terlalu lama. Kamu harus bangun walau saat bangun nanti semuanya akan tampak berbeda. Maafkan kesalahan Saya yang dulu, jujur saat melihat kamu seperti ini hati Saya sakit, rasa sakit karena orang yang Saya cintai kini terbaring lemah. Bangunlah, kamu harus bangun, Saya janji tidak akan pernah lagi menampakkan wajah ini lagi di depan kamu, Saya anggap kamu ingin kembali hanya lelucon. Kita memang mencintai dengan salah."
Semua orang di dalam kamar Puspita terkejut, saat melihat air mata yang keluar dari kedua kelopak mata Puspita. Tangan yang di pegang Galih, terasa mengeratkan dan membalas genggaman tangan nya.
Galih melihat tangannya yang terus di remas, dan melihat air mata yang keluar dari kelopak mata nya.
" Panggil Dokter." Ucap Heru yang mendekati Puspita.
Lalu Dokter pun tiba untuk memeriksa kondisi Puspita, namun saat tangan Galih ingin melepaskan nya terasa sangat kencang tak ingin di lepas.
__ADS_1
" Tangan nya gak bisa di lepas." Ucap Galih.
" Seperti nya pasien merespon pada seseorang yang membuat dia kuat, dan berusaha untuk bertahan hidup. Pasien sudah melewati masa koma yang panjang, namun pasien enggan melepaskan tangan nya. Sebaiknya terus beli dia respon, ajak terus berbicara agar pasien cepat membuka matanya." Ucap Dokter yang menangani Puspita dengan tersenyum ke arah semua orang yang ada di dalam kamar rawat inap."
Galih berusaha melepaskan tangan nya namun susah, air mata pun tak berhenti masih setia menetes.
Tante Tini mengusap dengan tissue agar air mata Puspita berhenti, namun masih tetap mengeluarkan air mata nya.
" Apa kamu sedang bermimpi atau pura - pura tertidur, namun tangis mu seperti bukan tangis biasa. Apakah kamu ingin sesuatu sayang, biar kami tahu. "
Galih terus berusaha melepaskan tangan nya, namun susah sedangkan Heru hanya terus menatap ke arah Puspita.
" Kamu jangan pergi dari kehidupan Puspita untuk sementara karena dia ingin kamu tetap di samping nya." Ucap Heru.
Galih menatap ke arah Heru, dan Heru menganggukkan kepalanya dan berjalan ke arah Galih.
" Saya ijinkan kamu sekarang untuk bersama dengan Puspita, tapi bukan untuk jadikan yang kedua atau simpanan. Hanya suara kamu Puspita merespon nya, buat dia bangun dan Saat bangun kamu boleh pergi untuk selama nya dari kehidupan Puspita dan jangan pernah lagi kembali."
******
Mmmppph
" Brengsek kamu Galuh." Ucap Rena dalam hati sambil menahan sakit nya.
Rena mencoba mengeluarkan peluru yang bersarang di dadanya, hingga keringat membasahi seluruh tubuh nya, dengan mulut yang di sumpal Kain agar tidak mengeluarkan suara.
Rena pun menyuntikan tubuh nya obat pereda nyeri dan membalut luka nya. Mata nya sudah berkunang - kunang, namun dari luar Rena mendengar tangisan Panji.
Tok... Tok... Tok...
" Bu.. ibu, Panji seperti nya demam." Terdengar suara bi Ratih mengetuk pintu kamar Rena.
Tok.. Tok... Tok...
" Bu, ibu bisa dengar Saya, Panji sakit bu."
Dengan nafas yang naik turun, Rena berusaha bangkit dan seketika senyum licik nya keluar.
" Saat nya Saya harus buka kedok saya, pura - pura depresi di awal, pura - pura hanya ingat Galuh, lebih baik Saya memancing mereka berdua untuk keluar agar sama - sama kita pergi dari dunia ini."
Rena mengambil sebuah kotak di bawah tempat tidur, di tariknya kotak yang berisi pakaian yang tak terpakai. Dan di balik pakaian yang tak terpakai, terdapat sebuah pistol lengkap dengan isinya. Rena menyembunyikan semuanya tanpa sepengetahuan Galih, dia bisa memiliki senjata ilegal dengan mudah melalui pasar gelap untuk melancarkan aksi psycopatnya.
Kreek..
__ADS_1
" Ibu in... "
Rena menodongkan pistol nya tepat di kepala pembantunya Ratih.
Door..
Dengan suara yang redam, sehingga tembakkan tak terdengar dari luar, sehingga tak ada tetangga yang tahu.
Tubuh Ratih pun tumbang saat masih memeluk Panji, lalu Rena mengambil Panji yang masih di dekap oleh Ratih.
Saat itu Bagas pulang sambil membawa Bola, dan mata nya terbelak kaget saat melihat tubuh pengasuh bayinya tergeletak dengan darah yang keluar dari kepalanya.
" Bunda...!!! "
Rena mendekati Bagas, namun Bagas mundur saat Rena mendekati Bagas.
" Nak, ikut Bunda kita pergi ke tempat yang sangat indah."
" Ayah.. ayah...!!! " Bagas berjalan mundur hingga dirinya menabrak sebuah kursi.
" Ayah... ayah....!!! "
" Kamu panggil Ayah keras pun, Ayah kamu nggak bakalan datang. Jadi ikut sama Bunda, nanti akan bertemu sama Ayah."
" Bunda jahat, Bunda jahatin Bi Ratih."
Mata Rena seperti siap menerkam, dan langsung menarik lengan Bagas dan menariknya keluar rumah.
Hiks... hiks... hiks..
" Bunda lepasin Bagas hiks.. hiks.. "
" Diam kamu, jangan nangis jangan sampai orang curiga."
Rena menutup pintu rumah dengan kaki, lalu membawa Bagas ke dalam mobil.
" Masuk kamu." Ucap Rena menyuruh Bagas untuk duduk di kursi belakang.
" Pegang adik kamu, jangan sampai jatuh."
Bagas yang ketakutan hanya bisa menurut sambil memeluk Panji.
" Mau kemana buru - buru begitu, sangat mencurigakan. "
__ADS_1